
Keesokan paginya...
"POKOKNYA KAMU NGGA BOLEH BERANGKAT KERJA!!" teriak seseorang pagi-pagi di Rosement.
"Ada apa sih?" tanya Vandro yang belum mandi sudah harus ke dapur mendengar teriakan.
"Coba dengar deh Vandro? masa Vian bilang seenaknya saja ngomong dia pingsan gara-gara aku!?" tanya Vanora.
"Kan gara-gara kamu! denger deh Vandro? masa adikmu ini seenaknya saja ngelarang aku berangkat kerja!?" tanya Vanora.
"Eh?" tanya Vandro sedangkan Amanda hanya melihat saja.
"Vandro itu kakakku! dia bakalan berpihak ke aku!" kata Vanora menarik tangan Vandro.
"Enak aja! Vandro itu sahabatku! dia bakalan mihak aku dong!" kata Vian yang mengalungkan tangannya ke leher Vandro dan menariknya.
"Iih!! lepas darah lebih kentalll!!!" kata Vanora.
"To... Tolong lepas, ini mulai sakit" kata Vandro.
"Lepaaas Ratu tarzan!!!" kata Vian.
"Su... sudah kak Vanora sabar! Pak Vandro..!" kata Amanda.
"Sudah Vian! kalian berdua! kalian akan melukai Vandro" kata Rahmat yang ikut menengahi.
"Maaf Vandro" kata Vian.
"Maafin aku ya Vandro" kata Vanora.
"Iya, ngga apa-apa" kata Vandro.
"Syukur aja sudah di hentikan ya Kak Rahmat" kata Amanda.
"Ya" kata Rahmat.
Setelah selesai berdebat dan menjelaskan panjang lebar berlima....
"Oh, begitu, jadi Vian mau berangkat kerja tapi Kak Vanora larang? tapi Vian ngotot aja gitu?" kata Amanda.
"Iya Amanda! Rahmat, Amanda, dan Vandro! kalian berpihak padaku kan?" tanya Vanora.
"Enak aja!" kata Vian.
"Kata Vanora sih bener, karena Vian baru sembuh" kata Vandro.
"Va... Vandro!?" tanya Vian.
"Kalau aku tentu setuju Vanora, ntar pingsan di kantor siapa yang bakalan repot? ngga mungkin suruh Amanda sama Vandro yang bakalan gotong kamu ke Rosement atau ke rumah sakit" kata Rahmat sambil mencuci piring.
"Ra.. Rahmat, kau!?" tanya Vian yang kaget.
"Kalau pendapatku sih, Vian memang ada baiknya masuk kerja karena bisa bikin sehat kalau gerak terus, badannya ngga kaku" kata Amanda.
"Amanda!" kata Vian.
"Hah!? serius Nda?" tanya Vanora.
"Yaa! Amanda jos!" kata Vanora.
Sedangkan Vian hanya tak berdaya dan menerima kenyataan ia harus berada di Rosement.
Di kamar no. 8......
"Ha... Hachi!!! sruuk!" kata Vian yang ternyata langsung demam tinggi, yang membuat Vandro dan Amanda juga harus izin dari kantor.
"Tuh kan! untung aja kita milih Vanora buat kamu di Rosement aja" kata Rahmat.
"Diem ih! Randi! gimana?" tanya Vian bertanya pada Randi bagaimana ia memeriksa suhu tubuhnya.
"Vian....kamu tak lama lagi akan.." Randi memberhentikan kata-katanya.
"Ja... Jangan bercanda Randiii!!! aku belum mau mati!!" kata Vian.
"Innalillahi Wa Innailaihi raji'un!" kata Toni.
"Hah!? maksudmu apa Vian!? aku kan ingin bilang kau tak lama lagi akan turun demamnya!" kata Randi.
"Hah!?" tanya Vian kaget.
"Duh! ngga seru! padahal baru aja ngucapin belasungkawa, ya pasiennya idup lagi deh, untung ngga jadi Zombie" kata Toni.
"Apa kau bilang Toni!!?" tanya Vian.
"Hah? apa?" kata Toni.
"Iiih! sini kau!!" kata Vian yang langsung mengejar Toni.
"Vian! jangan turun dari kasur!" kata Rahmat.
"Wee" kata Toni yang langsung berlari.
SIING!! Tiba-tiba Vian pusing lagi dan matanya kunang-kunang.
BRUK! Vian terduduk memegang kepalanya yang teramat sangat pusing.
"Hai! Aku dan Amanda datang membawa sup ayam! Gimana-... Hah!? Vian!?" tanya Vanora.
"Vi... Vian!? Ka... Kamu kenapa?" tanya Amanda.
"Tuh kan! lari aja lagi! jadi gini deh! kata Rahmat dan Randi yang langsung menggotong Vian ke Ranjangnya.
"Oh, jadi dia lari-lari!? udah tau belum sembuh masih aja berbuat onar ya? Hm!!!??" tanya Vanora sambil membunyikan jari-jarinya.
KKRETEK! KKRETEK!
"A.... A... "
"Kak Vanora?" tanya Amanda.
"Va.... Vanora, sabar" kata Rahmat dan Randi melihat Vanora akan meledak.
Bagaimana nasib Vian sekarang?