The Unifying Butterfly

The Unifying Butterfly
Season 3 Chapter 100 : Obrolan



"Em... Reaksinya"


"Apa? kak Andra udah diam semalaman lho! bahkan sampai terbitnya episode ini" ujar Amanda.


"Em... Reaksinya, entahlah.. aku tidak ingat" ujar Andra.


DOENG!


"Astaghfirullah!!! Kak Andra!" kata Amanda.


"Baiklah, sekarang sudah malam, tidak kembali ke kamar?" tanya Andra.


"Wah! benar juga! baiklah!" kata Amanda.


BLAM!


"Ehm... Kira-kira bagaimana reaksi Papa? kok aku bisa lupa ya? duh! kenapa saat aku ketemu Papa di alam bawah sadar aku ngga nanya ya?" tanya Andra yang menyalahkan dirinya sendiri.


Akhirnya berlanjut saat mereka sahur...


Jam 03.05, Rahmat sedang berada di dapur menyiapkan sahur, Amanda membantu Rahmat, sedangkan Rafa bersama Pak Andi, Vian sedang bersama Randi.


Di Ruang kumpul anggota...


"Huh, bosan... semuanya ada di ruang makan, membosankan sekali disini" ujar Nera memperhatikan layar TV besar sambil memakan kripik kesukaannya.


Randi datang di susul Vian yang ada di belakangnya.


"Eh! Neranti Ana Sari Milidi Indah Kusumawati yang berseri-seri bak bunga Raflesia Arnoldi, haha! lalat" ujar Randi sambil duduk di kursi santai.


"Bunga bangkai maksud kau? ku siram pakai ini moncong kau baru tau!" ujar Nera sambil menunjukkan gelas berisi air.


"Ih! kau cepat banget emosi nya Ra, bukan itu maksud aku" kata Randi.


"Ngomong-ngomong kalian ngapain disini? bukannya kalian harusnya sahur?" tanya Nera.


"Masakan masih belum siap, lagipula kami tadi habis sholat tahajjud berjamaah, makanya bangunnya kecepatan kayak gini" Jelas Vian.


"Oh gitu, ya udah gih... buruan bantu yang masak sono" ujar Nera acuh tak acuh.


"Huh! judes amat!" kata Randi.


"Ngomong apa tadi?" tanya Nera.


"Ngga! Lari Vian!" ujar Randi sambil menarik Vian.


"Ku balas nanti kau ya!" kata Nera.


...Di Dapur......


"Hosh! Hosh! Hosh!"


"Ng? Vian dan Pak Randi kenapa kayak ngos-ngosan?" tanya Amanda yang mengarah ke meja makan untuk meletakkan sepiring Ayam panggang.


"Ngga, tadi kami di kejar oleh mak-mak rese" ujar Randi.


Rahmat dan Amanda saling bertatapan.


BLETAK!


"Haha! bukan apa-apa" ujar Vian memaksa tersenyum sambil menjitak Randi.


"Wadaw!!!"


"Kagak usah buat masalah!" bisik Vian.


"Sorry! Forgive me Vian!" bisik Randi.


"Ya.. baiklah, Mat... udah siap belum masakannya Mat?" tanya Vian.


"Kalau gitu kenapa gak bantu Mat-Mat masak Ian?" tanya suara yang muncul tiba-tiba.


"WAA!!! ASTAPIRULLAH HAL ADJIM!!!" Teriak Randi.


"Astaghfirullah!! Pak Randi kenapa teriak? lho? Kak Sembilan udah pulang?" tanya Amanda.


"Tau nih Randi!" kata Rahmat.


"Bagaimana Ian?" tanya Sembilan.


"Hii!! Astaghfirullah hal adzim! kok ada manusia kek Sembilan? katanya setan di kurung tapi kok keliaran ya?" tanya Vian merinding disko.


"Hanya karena kak Sembilan datang kok kayak gini sih? Dasar.... " batin Amanda.


"Kak Sembilan sampai kapan disini?" tanya Amanda.


"Saya hanya mau ambil barang ketinggalan saja Manda, terus kerja lagi" Jawab Sembilan.


"Yah,.. sayang dong, Kak Sembilan ngga bisa lama, padahal bagus kalau kak Sembilan bisa lebih lama di Rosement, iya kan?" tanya Amanda.


"Gak!"


"Tak apa Manda, baiklah... saya permisi" ujar Sembilan.


"Baiklah"


"Sepertinya akan lebih baik jika Kak Sembilan tidak di Rosement, jika tidak maka Rafa-Nii akan seperti Vian, Pak Randi, dan lainnya" Batin Amanda.


"Eh?! udah jam 03.55! imsak nanti jam 04.23! nanti ngga sempat makan lagi! ayo! mumpung udah ada makanan di sini! buruan deh sahur" ujar Amanda.


"Wah iya! ayo!"


"Aku rasa... aku bisa mengalihkan perhatian mereka" batin Amanda.


Tapi setelah sahur....


"Randi!!! Vian!!! sini ku balas kau!!" Seru Nera.


"Waaaak!!! gawat!!" Seru Randi.


"Kenapa aku ikut-ikutan!?" tanya Vian.


"Ups.. ya, mungkin ngga semua, hihi, Dasar... " batin Amanda.