The Unifying Butterfly

The Unifying Butterfly
Chapter 14 : Memuji



"Vian mau bicara apa emang?" tanya Amanda.


"Begini... Sebenarnya aku..." Vian mengucapkan itu dengan terbata-bata dan pipi merona.


"Cepet ya, soalnya aku mau mandi dan bantu Kak Rahmat. Lagipula kita udah kayak gini dari episode kemaren" Sahut Amanda.


"Eh? I-Iya! sebenarnya aku mau bilang, kamu beli dimana Bolu coklat ini? soalnya enak banget rasanya" kata Vian dengan pipi merona karena malu.


"Gak mungkin dia yang buat, kan?" batin Vian.


"Ho? hihihi"


"He? kenapa ketawa?"


"Makasih udah muji, sebenarnya Bolu coklat itu buatanku lho, hehehe" tawa Amanda sambil menutup sedikit mulutnya.


"Apa!? jadi itu beneran buatan Amanda?! Ya Allah... Malu aku!!" Batin Vian sambil mematung.


"Terimakasih ya, aku sebelumnya khawatir kalau gak sesuai dengan seleramu. Kalau mau dibuatin bilang aja, in syaa Allah bisa aku buatin. Aku pergi dulu, Assalamu'alaikum" ujar Amanda.


"Wa-Waalaikummussalam" Vian.


"Malu bener asli!!"


Setelah Amanda dari kamar Vian, ia menuju ke kamar.


"Alhamdulillah udah dikasih penyangga lutut sama Pak Randi, hehe lucu juga muka Vian tadi, seharusnya ku foto, hihi"


"Good, sudah mandi sekarang pergi ke dapur, bantu kak Rahmat didapur, sekarang baru jam 6.03 pagi" Kata Amanda sambil melihat kearah Arloji.


Di dapur...


"Duh, Amanda cepetan datang! Vanora natap aku nyeremin! aku ada salah apa, ya?" Batin Rahmat, yang melirik Vanora yang menatapnya dengan serius.


"Assalamu'alaikum Kak Rahmat! kak Vanora!" sapa Amanda.


"Wa'alaikummussalam, dateng juga Nda" Rahmat menghela nafas lega.


"Oke kak! Kak Vanora mau ikutan juga?" ajak Amanda.


"Ouch~ Tidak! aku hanya melihat saja, karena 1 jam lagi aku harus ke studio, untuk ambil hasil designer baru" jelas Vanora.


"Wah! Designer! hebat dong kak Vanora! Pasti baju yang dirancang cantik-cantik kan?" kagum Amanda.


"Thank you Amanda! mungkin setelah aku pulang kamu mau coba beberapa! Gimana kaki kamu btw?" tanya Vanora.


"Wah, makasih kak, soal kaki ini aku pakai penyangga lutut dari Pak Randi, jadi udah ngga apa-apa" jelas Amanda sambil tersenyum.


"Good! aku pergi dulu ya! bye Rahmat, Amanda"


"Ya" Jawab Amanda dan Rahmat serentak.


Amanda dan Rahmat saling bantu membantu membuat sarapan, namun keheningan berlangsung sampai Amanda memulai pembicaraan.


"Kak, ini sarapannya mau diletakkan dimana?"


"Di situ aja, nanti biar mereka yang ambil sendiri"


"Kak Rahmat emang ngga kerja ya di AR group? aku ngga pernah lihat deh" tanya Amanda.


"Aku ngga kerja disana, hanya kamu, Vandro, Vian, dan Owl, codename penghuni kamar nomor 9. Berhati-hatilah, karena ada musuh dibalik selimut yang ada disana" jelas Rahmat.


"Di mengerti, kak"


Tiba-tiba...


"Assalamu'alaikum!! ada makanan gak, guys?! lapar aku!" teriak Toni.


BLETAK!! Kepala Toni otw benjol 5 tingkat karena dijitak.


"Adoh!"


"Berisik! bisa diem napa?" sahut Nera.


"Good, kita sarapan sekarang Guys" ajak Vanora.


"Lho, Amanda udah disini ternyata, Vian kamu emangnya pengen makan apa? sini kuambilin" kata Vandro sambil melirik Vian.


"Eh, a-aku ingin makan bubur ayam saja, ada kan Mat?" tanya Vian masih malu karena mengingat kejadiannya dengan Amanda.


"Oke, Amanda anterin dulu buburnya ke Vian ya, aku mau beresin piring-piring ke rak dulu" kata Rahmat sambil melirik Amanda.


"Iya kak, mau apa aja Vian selain bubur ayam? " tanya Amanda.


"Em, sama lemon tea yang hangat aja, haha" kata Vian sambil memaksa tawanya.


Flashback saat Amanda berbincang dengan Vian...


"*A*ku harus liat Vian dulu" kata Rahmat.


"Amanda? kenapa di ruangan Vian? sepertinya mereka sedang berbincang hal yang cukup privasi" batin Rahmat.


Amanda: "Makasih udah muji, sebenarnya itu buatanku"


Vian: 😱😱😱


"Pft.. muka Vian!" batin Rahmat sambil tertawa dalam hati.


"Malu bener asli!!" gerutu Vian.


"Bisa bahaya kalau mereka jadi canggung, mungkin di dapur akan lebih lancar buat rencanaku" batin Rahmat.


Flashback Off.


"Emangnya segitu enaknya ya Bolu coklat Amanda?" batin Rahmat dalam hati.


"Yuk makan sama-sama, udah pada ngumpul!" ajak Vanora.


"Ya!" Seru semua nya.


"Aku belum mencari tahu, apa sebenarnya yang dimaksud di Surat undangan itu, aku harus cari tahu siapa kakakku"


"Begitu urusanku selesai, aku akan ikut kakak untuk hidup bersama tanpa terikat dengan Rosement ini lagi" batin Amanda sambil memasang wajah gelisah.


"He! kamu kenapa Amanda?" tanya Randi.


"Ng?"


"Terlihat sedang sakit? mau saya periksa ngga?" tanya Randi sambil tersenyum.


"Eh, tapi saya sedang tidak sakit, Pak Randi" jawab Amanda yang sekarang hanya berjarak sejengkal dari wajah Randi dan berusaha menghindar.


"Saya masih ingin tahu alasan sebenarnya kenapa kamu memanggil saya, 'Pak' padahal saya belum tua lho?" tanya Randi.


"Eh, karena Pak Randi itu Dokter? " tanya Amanda.


"Oh ya? hehe"


PLAK!! sebuah tangan bernoda merah mendarat tepat di depan wajah Randi dan membuat noda di wajahnya.


"Pak Dokter! jangan gitu lah! tanganku ini juga perlu diperiksa lho! hehe" canda Nera sambil tertawa.


"Huaa!! ini apa Nera?! wajah tampanku hancur!" seru Randi.


"Hihi! cuman saus tomat kok!"


"Saus Tomat?!!"


"Uh! si Rahmat ganteng banget! ia merasakan masakan seolah-olah bilang 'ini udah pas belum ya', pengen kesitu, tapi malu!" batin Vanora.


"Van! Nih! temenin Randi cuci muka sekalian mintain Rahmat puding dong!" pinta Nera sambil menunjuk Randi.


"Wuah!! lucky! Ayo ikut!" ujar Vanora dengan senang sambil menarik Randi.


"Huu! nasibku dijadikan alasan modus!" keluh Randi.


"Hm? kamu kenapa Nda? kok murung?" tanya Nera.


"Oh? hehe, ngga apa-apa kok kak" jawab Amanda sambil tersenyum.


"Tersenyum dong, karena senyum itu dapat membuat kamu dan orang yang melihat senyummu bahagia! jangan dipake jadi alasan buat nutupi segala sesuatu yang ngebuat kamu gak nyaman!"


"Tersenyum selama kau bisa, lagipula senyummu itu cantik banget Nda, kayak aku! hehe" ujar Nera sambil tersenyum menampakkan giginya yang terkena noda.


"Terimakasih banyak Kak Nera, senyum kakak juga ngebuat aku seneng! tapi ada noda digigi kakak hihi, nih! maaf ya, kak!" kata Amanda sambil memperlihatkan noda dengan cermin ponselnya.


"Wah! hahaha! terimakasih Nda! kurasa yang lain pasti ngetawain!" kata Nera.


"Ya!"


"Nak Amanda sepertinya sedang senang ya?" tanya Pak Andi.


"Wah! ada kakek! Kakek sehat? saya memang sedang senang aja kok Kek, ngga ada apa-apa" jawab Amanda.


"Hohoho, ya begitulah terus, akan menyenangkan jika bergembira bukan? " kata Pak Andi.


"Iya!"