The Unifying Butterfly

The Unifying Butterfly
Season 2 Chapter 71 : Hukuman



"Rafa! gara-gara kamu, Bima dan Gilang terluka! bahkan kepala mereka benjol besar! kau ini! Kecoa sama Cicak aja takut!" kata Azka yang baru sampai dan mendengar kejadian itu.


"Huh! salah sendiri, pelayan-pelayan di sini kan ngga becus! kecoa sama Cicak kok di biarin ada di sini!? kita kan keluarga Ameera!! kenapa ngga tinggal di istana aja!? ini gara-gara si Andra nyebelin!" gerutu Rafa.


"Memang Andra keterlaluan, tapi ada hikmahnya! itu dapat melatih agar kau bisa membersihkan kamarmu sendiri, kau itu sudah 25 tahun Rafa! jangan ke kanak-kanakan!" kata Azka.


"Huh! kenapa sekarang Ayah malah membela Andra!?" tanya Rafa.


"Sudahlah! Ayah capek ngasih tahu kamu! terlalu keras kepala! bagaimana mau jadi Raja kalau kayak gitu!? andai saja Ana ada disini, dia yang akan menggantikan Posisi Andra dan akan menjadi seorang Ratu yang bisa menguasai semua dan bisa memerintah siapapun, tidak kayak Andra yang masih ada batasnya, Ana bisa menguasai semuanya! bahkan Kerajaan Verheaven" ucap Azka.


"Huh! mentang-mentang Ana belum ketemu! Ngga usah bawa-bawa nama adik sepupuku!" ucap Rafa.


"Sudah! Azka dan Rafa! kalian berdua ku hukum!" kata Adimas.


"Hah!? kenapa aku di hukum Paman!?" tanya Rafa.


"Iya! kenapa aku di hukum!? si Rafa aja! dia yang berbuat onar!" kata Azka menunjuk Rafa.


"Sudah! ini rumahku! kalian berbuat onar aja sudah menggangguku yang tuan rumah! Rafa kau di hukum karena membuat Bima dan Gilang terluka! kalau kau Azka, kau di hukum karena ribut dengan anakmu! kalau mau ribut bisa, tapi ngga usah bawa-bawa Ana dan politik kerajaan segala!" kata Adimas.


"Pa... Pangeran, sudah" kata Gilang dan Bima.


"Jadi kalian pergi ke salah satu Villa pribadi keluarga kita, kalian akan menghabiskan waktu di sana berdua selama 3 hari, berdua saja! tidak boleh keluar, tidak boleh kerja, tidak boleh bertengkar! lakukan hal yang layaknya seperti Ayah dan Anak! aku mengawasi kalian, membantah atau membuat kegaduhan di sana, akan di tambah menjadi 1 bulan! titik ngga pakai bantah!" kata Adimas.


"Hah!? ngga bisa gitu dong mas! Aku kan masih kerja! ada mitraku pula!" kata Azka.


"Kalau aku, masih ada kerjaan lain! benarkan Bima!?" tanya Rafa.


"I... iya" kata Bima.


"Emangnya kerjaan apaan? tumben banget?" tanya Adimas dan Azka.


"Ng... Pokoknya bermanfaat dan menghasilkan keuntungan deh!" ujar Rafa, mana mungkin dia membocorkan Amanda yang mata-matanya.


"Apakah itu bisnis?" tanya Adimas yang berpose pikir seperti Detective Conan.


"Apakah itu legal atau ilegal?" tanya Azka yang menyelidiki dan juga sama berpose pikir seperti Detective Conan.


"Kalian!" kata Rafa.


"Udah! yang penting kalian ngga boleh kerja! kalaupun soal kerja, kan bisa lewat daring bukan? pokoknya ngga boleh keluar! aku akan mengutus 40 Prajurit kerajaan agar kalian tidak bisa keluar!" kata Adimas.


"Hei! Adimas!!!"


"Paman!!!"


Sesampainya di sana....



"Ku jalan-jalan ke samping ah!" kata Rafa.


"Wow!" Rafa terkesima melihat ke samping Villa.



"Sejak kapan Paman menyembunyikan sebuah Villa kayak gini!?" tanya Rafa saking terkesima nya.


"Rafa! jangan nakal kau! sudah! bukannya malah ngangkat koper mu! malah lari ngga karuan!" ujar Azka.


"Ih! Ayah kayak lembek banget!" kata Rafa.


"Apa kamu bilang!? awas kau!!" kata Azka sambil mengejar Rafa.


"Weee, tangkap aku kalau bisa Ayah!" ujar Rafa meledek.


"Berhenti kau!"


Di CCTV....


"Hm... kalian memang pantas bersenang-senang" gumam Adimas yang mengawasi lewat CCTV.


Saking Rafa teralihkan dengan Ayahnya dia langsung kesandung hampir jatuh ke kolam.


"Fyuh! hampir aja!" gumam Rafa.


"A... Awas Rafa!!!" teriak Azka yang ngga bisa berhenti berlari karena mengejar Rafa.


"Hee!?" Rafa ngga sempat menghindar.


BRUK! Azka menyenggol Rafa dan Rafa menarik Azka hingga mereka berdua jatuh ke kolam.


"WAAA!!!"


CBYUUR!!!


"Huuh! Ayah! basah bajuku gara-gara Ayah!" ujar Rafa.


"Kamu yang usil duluan!" kata Azka.


Di CCTV...


"Pfft!! kasian delo" kata Adimas yang terkikik sendiri melihat tingkah Adik dan keponakannya.


"Yah.... sepertinya ini memang rencana yang masuk akal"