The Unifying Butterfly

The Unifying Butterfly
Season 2 Episode 46 : Kenyataan yang terbongkar



"M.... Maksud Anda?" tanya Vian agak gugup.


"Ya, kau Erlan kan? karena kau tadi bisa bermain bola dengan Handal, serta gaya suaramu yang memanggil nama Amanda itu terlihat seperti sudah lama akrab" kata Zaki.


"Tapi... anda bisa saja salah orang kan?" tanya Vian.


"Benar, tapi mungkin kau bisa saja wajahmu terubah seiring berjalannya umur?" tanya Zaki.


"Yah, tapi aku bukan Erlan yang di maksud" kata Vian berkeringat khawatir.


"Oh, jadi kau tidak keberatan bukan? jika ku beritahu kepada Amanda?" tanya Zaki.


"Tentu saja, aku... aku kan bukan Erlan" kata Vian semakin khawatir.


TIN! Lift sudah sampai ke lantai 18.


"Hei! Amanda! bisa bicara sebentar?" tanya Zaki sambil menatap Vian yang khawatir luar biasa tapi reaksinya tetap tenang.


"Ya? kenapa Ki?" tanya Amanda.


"Anu.... begini" Zaki menatap Vian lagi, sedangkan Vian berkeringat khawatir.


"Sebenarnya..... " bisik Zaki.


"T.... TUNGGU SEBENTAR!!!" Seru Vian.


...__________...


Di Lift....


"Oh jadi begitu, kau terpaksa meminum Kapsul racun dari Organisasi yang menyebabkan dirimu seperti ini? dan akhirnya kau tinggal di Apartemen yang di kelola Raja Aliandra atau di sebut Rosement? kau se-Apartemen dengan Amanda? perempuan yang kau suka?" tanya Zaki.


"Ya, begitulah" kata Vian yang mengungkapkan identitasnya.


"Lagipula dia bukan perempuan yang kusuka, dia malah menyusahkan" kata Vian.


"Hei! kalian tiba-tiba Akrab sekali" kata Amanda.


"Hei, Amanda, kau tahu? Erlan berkata padaku kalau kau adalah orang yang menyusahkan" kata Zaki.


"Hah? menyusahkan?" tanya Amanda.


"Zakiii!!!" batin Vian.


"Pembalasan karena telah menyembunyikan identitas mu" batin Zaki.


"Andra sempat bilang, aku boleh mengungkap identitas ku, jika dalam keadaan terdesak, pastikan kalau dia adalah orang yang bisa di percaya, beritahu juga dia tentang Rosement " batin Vian.


"Kau jangan beritahu siapapun ya!? kalau tidak mau yang lainnya terikut Organisasi itu!" bisik Vian.


"Yo, siap bosku!" kata Zaki.


"Oh ya, kau juga menyembunyikannya dari Amanda?" tanya Zaki.


"Hei! udah deh, kita pulang dulu, yo ki!" kata Nina.


"Emang kalian mau kemana?" tanya Amanda.


"Kencan ya?" tanya Vian.


"Enak aja! Ramanathan!" kata Zaki.


"Hah!? Ramanathan?" tanya Nina dan Amanda.


"Ma...maksudnya Nathan Ake`! pemain sepak bola itu lho!" kata Zaki.


"Memangnya kenapa manggil gitu?" tanya Nina.


"Si... Si Vian itu kan jago main bola! dia juga mirip dengan Nathan Ake` bukan?" tanya Zaki lagi dengan gugup.


"Hm.... benarkah? tapi kenapa kau seperti sedang menyembunyikan sesuatu Zaki? jangan berbohong! aku tahu!" kata Amanda.


"Ah.... ngomong-ngomong kami akan pulang" kata Zaki mengalihkan perhatian.


"Iya juga! dah Amanda" kata Nina melambaikan tangan.


"Bye"


"Ya udah, aku lanjutin kerjaan dulu ya, dah Vian" kata Amanda sambil pergi.


"Y-.... Ya" kata Vian.


"Hah! Tak ku sangka identitas ku ketahuan oleh Zaki" pikir Vian.


"Sekarang, harus hubungi Andra deh" kata Vian sambil berjalan ke ruangannya.


Sementara itu Amanda.....


"Amanda! kok bisa kau akrab kepada mereka?" tanya Riri dan Ali.


"Yah, kami sudah bersahabat sejak TK dulu, jadi kami sudah sangat akrab layaknya melebihi saudara sendiri" Jelas Amanda.


"Wah! dari TK!? yang bener!? Kamu TK 6 tahun, sekarang umurmu sudah 19 tahun, jadi kalian sudah bersahabat sekitar 16 tahun ya?" tanya Ali.


"Sudah 20 tahun Kak, aku TK di usia 5 tahun" kata Amanda.


"Hah! iya juga, kau kan memiliki otak yang encer sekali" kata Ali.


"Dah! kerja yuk!" kata Riri.


"Ayo!"


"Tapi... Apa maksud Zaki memanggil Vian... Ramanathan!?" batin Amanda.