The Unifying Butterfly

The Unifying Butterfly
Season 2 Chapter 100 : Menanyakan



"Jadi... mulai dari mana bicara nya?" tanya Andra.


"Ini di temukan di kantong jaket Rafa" gumam Andra.



"Ini.... Ibu, Ayah" gumam Andra.


"Hei Andra, sebelumnya aku ingin tanya, kau punya hubungan dengan Amanda kan!?" tanya Randi.


"Ng?" tanya Andra sambil menatap Randi.


"Jangan bohong! orang saat Amanda sakit, juga! dan saat kemaren dia kena peluru saat insiden! kau pernah bilang kalau golongan darah AB-! tapi... setelah aku tahu dan periksa lagi! golongan darahmu sama kayak Amanda! Rh-null! karena saat kau mendonorkan darahmu buat Amanda waktu dia belum sadar!" kata Randi.


"Tapi.. donor darah bisa di lakukan karena adanya golongan darah yang sama kan?" tanya Andra.


"Asal kau tahu ya! Rh-null adalah golden blood! yang bisa mendonorkan darah apa saja! tapi saat membutuhkan golongan darah, hanya bisa mendapatkan donor dari golongan darah yang sama! jangan kira aku bodoh! kau juga sedarah dengan Amanda!" kata Randi.


"Huh! aku menyerah, aku sudah menyangka kau akan tahu cepat atau lambat" kata Andra.


"Semua golongan darah, maupun DNA kalian ada padaku!" ujar Randi.


"Amanda, adalah adik kandungku yang sudah lama hilang karena Penculikan semasa kecil, sudah puas akan penjelasan ini?" tanya Andra.


DEG!


"Ta... tapi, kenapa kau tidak memberitahunya? seharusnya kau bersyukur Andra, kau hampir kehilangan Sepupumu, juga Amanda, yang adik kandung mu sendiri dalam insiden geng cakar naga kemarin, bersyukurlah karena pelurunya tidak mengenai jantungnya" ujar Randi yang membuat Andra terkejut.


"Beritahu dia, sebelum terlambat!" kata Randi.


"Kau berpikir.... apakah dia tidak akan meninggalkanku?" tanya Andra.


"Apa... maksudmu?" tanya Randi.


"Andra... meski aku sahabatmu, hal ini tidak ada yang tahu, tapi ku pikir Amanda bukanlah orang yang seperti itu" kata Randi.


"Bapak juga setuju dengan jawaban Nak Randi, memang awalnya Nak Amanda susah bergaul karena kepergian ibu angkatnya, juga karena temannya yang sedikit" kata Pak Andi.


"Begitu ya? Sebelumnya aku minta maaf padamu Randi, karena aku membohongimu tentang golongan darahku yang sebenarnya adalah Rh-null" kata Andra.


"Bodoh! padahal aku pikir kau memiliki golongan darah AB-" kata Randi.


"Emangnya kenapa?" tanya Andra.


"Karena itu adalah golongan darah perempuan yang kau suka selama ini" kata Randi.


"Apa!!?" tanya Andra.


"Tapi aku takkan beritahu selebihnya, kecuali ada syaratnya" kata Randi.


"Apa syaratnya? jangan nyuruh aku pakai baju balet terus nari disini! awas lho!" kata Andra.


"Yee!!! bukan lah! syaratnya adalah.... "


Sementara itu di rumah sakit....


"Ng oh iya! ngomong-ngomong apakah kau..."


Vian mendengar sambil mengscroll Ponselnya.


"Erlan Ramanathan?" tanya Amanda sambil melirik Vian, yang membuat Vian berhenti mengscroll Ponselnya dan terdiam.


Vian tetap terdiam..


"Vian?" tanya Amanda.


"Ya?" tanya Vian lagi.


"Aku tanya, apakah kau Erlan Ramanathan?" tanya Amanda sekali lagi.


Vian tetap diam.


"Hahaha! aku hanya bercanda! aku hanya ingin tanya, bagaimana keadaannya? kau bilang kau kenal dekat kan? saat aku bertemu denganmu di rumah Erlan pada ulang tahunnya?" kata Amanda.


"Oh... dia bilang dia baik-baik saja, hanya terluka karena kena pecahan piring" kata Vian memberitahu kan keadaannya.


"Oh gitu... menurutmu, apakah Erlan akan marah jika tahu aku begini?" tanya Amanda.


"Aku bukan Erlan, tapi menurutku.. dia akan marah besar" kata Vian yang kacamatanya berembun.


"Begitu ya? oh ya! karena kau sebagai orang yang dekat dengannya... kau jangan beritahu dia ya! akan lebih baik juga sepertinya aku tidak menelponnya dulu" kata Amanda.


"Oh.. ya udah, aku keluar dulu" kata Vian.


"Ya"


"Ng? Bunga Zinnia kuning? kenapa aku pernah lihat?" gumam Amanda.


"Senyum dan tawamu lah yang menyinari seluruh duniaku!" Amanda teringat kejadian.


"Eh!!? Ja.. jadi yang di maksud Erlan kejadian di kota Yoshino!? Bunga Zinnia kuning!? Di.. dia menyatakan perasaannya... pa... padaku!? dan aku baru menyadarinya sekarang!?" kata Amanda yang pipinya merah.


BLUSH!


"Ini lebih mengejutkan, dasar!" kata Amanda.


Di luar pintu kamar Amanda...


"Hmf! akhirnya kau ingat ya" gumam Vian di balik pintu sambil tersenyum.


"Apa ada orang di balik pintu?" tanya Amanda dari dalam.


*Glek!*


"Aku yakin ada aura orang di balik pintu..." batin Amanda.


Sedangkan Vian langsung pergi turun kebawah.