
Rafi mendekati Rafa yang tertidur...
"Belakangan ini Kak Rafa sering sekali bermain Ponselnya, bahkan pernah melewati makan malam, kalau soal mengirim kabar dengan pacar sih, ngga akan kayak gini! emang kak Rafa sayang banget apa sama pacarnya? aku harus memeriksa Ponselnya.... " batin Rafi saat akan mengambil Ponsel Rafa.
"Heggh!!!" Rafa akan terbangun dari tidurnya.
"Eh!?" Rafi kaget melihat itu.
"Lho? Siapa yang-... " belum selesai Rafa bicara.
"Kak Rafa... turun makan kata Ibu" ujar Rafi yang mengarahkan cahaya ke wajahnya sehingga mirip hantu.
"Gyaaa!!!!! Rafi!!! kau ngapain disini!? ngagetin aja! Eh!? Kau pegang Ponsel ku ya!!?" tanya Rafa melihat Rafi memegang sebuah Ponsel.
"Eh!? Ngga! ini Ponsel ku! Ponsel kak Rafa ada di sana" tunjuk Rafi di sebelah kiri Rafa.
"Terus!? kau ngapain disini!!?" tanya Rafa dengan sewot.
"Aku kesini buat manggil kakak, di panggil Ibu tadi" kata Rafi.
"Huh! Modus! kau pasti cuman mau utak-atik Ponsel ku kan!? keluar sana!!" Bentak Rafa.
Ceklek! BLAM!
"Keras banget bentakan Kak Rafa, ayah sama ibu saja tidak pernah gitu, kayaknya aku salah... saat meriksa Ponsel kak Rafa, sandinya diubah, itu artinya ada sesuatu..." batin Rafi.
Sementara itu di kantor...
"Aku sedang mengantar bekal titipan Rahmat buat Vandro, dia ngga bawa bekal... " batin Vian.
CEKREK!
"Ng!? Bunyi kamera!?" gumam Vian sambil berbalik ke belakang dan langsung menghampiri beberapa karyawan perempuan.
"Hei! kalian motret sembarangan ya!?" sergap Vian.
"Ih! apaan sih jangan asal nuduh deh!" kata mereka sambil bergegas pergi.
"Ih! ganteng lumayan juga ya ketua divisi IT itu!"
"Siapa namanya!? Sovian ya? yang galak biasanya, tapi ganteng juga ngga pakai masker"
Mendengar bisikan mereka, Vian langsung sadar kalau dia terlalu merapikan rambutnya dan tidak memakai masker seperti biasanya.
"Sial... aku lupa, sudah kejadian lama juga aku di potret sembarangan, bagaimana ini?" batin Vian yang langsung mengacakkan rambutnya agar menyamarkan dirinya kembali.
Di Ruangan Vian....
"Wildan" Panggil Vian yang memanggil Wildan tanpa menatapnya karena sedang mengurus komputernya.
"Ng? kenapa ian?" tanya Wildan.
Vian akhirnya menceritakan semuanya ke Wildan tentang yang memotret nya diam-diam.
"Asem!! Emangnya ngga mesum apa motret orang sembarangan!!?" tanya Wildan kaget.
"Nyiprat liur mu bang" gumam Vian.
"Yang penting kau jangan buat gaduh dulu, ingatkan aku agar selalu memakai masker" kata Vian.
"O... Ok ian" kata Wildan.
Sementara itu di Rosement pada malam hari...
Di Dapur...
"Huh... ku pikir sejak aku masuk kantor, semua seperti biasa saja, tapi tidak sesuai dugaan ku" batin Vian.
"Vian.. Vian"
"Vian!" panggil Amanda.
"Ck! kenapa?" tanya Vian.
"Lho? kok kamu nada protes sih? ini, aku mau tanya.. mau wings berapa? baru saja di masak, kan tadi kamu minta" ujar Amanda.
"7 Wings" kata Vian.
"Dia juga... aku emang sudah biasa sewot sama perempuan... tapi melihat Amanda ada di sini, kenapa ya? rasanya aneh... " batin Vian.
"Kamu yakin Nda? tanganmu gimana?" tanya Rahmat yang di dapur.
"Alhamdulillah sekarang baik kok kak Rahmat, soalnya sekarang pakai perban elastis jadi bisa lumayan gerak deh, luka tembakannya juga ngga parah lagi, kata Pak Randi 2 minggu lagi bisa di lepas" tutur Amanda.
"Oh gitu"
"Jadi Vian? kenapa tiba-tiba diam? apakah ada masalah di kantor? oh ya! ngomong-ngomong soal kantor.. gimana saat masuk tadi?" tanya Amanda duduk berhadapan persis di depan Vian.
"Yah... gitu deh, sampai-sampai harus pakai kue ama balon segala? emang aku anak kecil lagi ultah apa?" gerutu Vian sambil memikirkan kembali kejadian tadi pagi.
"Ah.. Hahaha, gitu ya? em... kalau boleh tahu ada masalah apa? aku mungkin bisa bantu?" tanya Amanda.
Vian akhirnya menceritakan semuanya dari A sampai Z.
"Oh... gitu, iya sih itu ngga sopan" tanggap Amanda menanggapi cerita Vian.
"Kan! Cuman aku ada kerjaan, jadi ngga bisa ngurus dulu! ntar malah terhambat! huh!" ujar Vian.
"Kalau mau, aku bisa bantu" kata Amanda.
"Hah!?" Vian kaget mendengarnya.
"Ya, gitu deh... gimana?" tanya Amanda.
"Aku ngga tahu, tapi bagaimana caranya dengan kau yang tidak masuk kerja?" tanya Vian.
"Aku akan mulai masuk kerja besok jika sudah dapat izin dari Raja, setuju ngga?" tanya Amanda lagi.
"Yah, tunjukkan apa yang kau bisa" ujar Vian menantang, tapi dia tahu kenapa Amanda memanggil Andra itu 'Raja' ya, karena ada Rahmat disitu.
"Ok! aku akan terima tantangan mu!" kata Amanda.
Bunker lingkar dalam....
"Kak Andra..., besok aku izin masuk kantor ya" kata Amanda.
"Begitu ya? sudah mulai masuk kantor? Em.. sejujurnya, kakak pengen kamu tetap di Rosement, semenjak kejadian insiden itu kakak jadi khawatir" ungkap Andra.
"Hihi... Dasar, jangan khawatir kak! aku kan kuat!" kata Amanda.
"Eh? Hmf, baiklah... kakak izinkan kamu masuk kantor besok" ujar Andra sambil tersenyum.
"Ya kak, karena sudah lama ngga masuk kantor, ntar di tanyain pula, lagipula aku juga mau bantu masalah Vian" kata Amanda.
"Masalah Vian? oh, memangnya gimana? tumben mau bantuin? biasanya Vian pengen ngurus sendiri tanpa ada yang bantu" kata Andra yang pura-pura heran.
"Ya, katanya sih gitu, tapi karena dia kurang ngga ada waktu... ku tawarin, lagipula aku yang lebih bebas jalan keluar masuk kan? karena aku OG" ujar Amanda.
"Ya, memang benar... ngomong-ngomong, jabatan mu mau kakak naikkan ngga?" tanya Andra agak meledek.
"Hihi... ngga usah kak, OG aja udah enak bersih-bersih gitu, hehe" kata Amanda yang sadar Andra meledek nya.
"Oh begitu, ya sudah, tapi kalau mau apa-apa bilang aja, kakak ngga akan segan-segan buat mengabulkannya" ujar Andra.
"Hihi... makasih kak! Oh ya, ngomong-ngomong... aku tahu masak wings sama sandwich lho! ini aku sengaja bawa banyak buat kak Andra dan Kak Radith nyemil makan, semoga suka" kata Amanda.
"Gitu ya?" gumam Andra sambil mengambil satu potong dari banyaknya potongan wings dan memberikan sedikit mayones yang di bawa Amanda.
"Sudah lama dia tinggal sendiri seharusnya pintar masak sih.. " batin Andra sambil menatap wings yang dia pegang dan melahapnya.
"Bagaimana kak Andra!? enak ngga!? enak ngga?" tanya Amanda menatap penuh harap.
"Lucunya... " batin Andra menatap Amanda yang menatapnya seperti itu.
"Enak.... enak sekali, kamu pintar sekali memasak, ini benar-benar enak sekali" kata Andra tersenyum.
"Beneran kak Andra!? ngga bohong kan!?" tanya Amanda.
"Apakah kakak terlihat sedang berbohong?" tanya Andra tersenyum.
"Ngga!" jawab Amanda sambil tersenyum yang matanya berwarna hijau.
"Aku pikir... kak Andra adalah orang yang hampir selalu sibuk dengan kerjaannya sebagai seorang Raja dan Presdir... dan tidak bisa bersikap baik padaku juga akan selalu frustasi juga stres, tapi tak ku sangka dia sebaik ini, aku harap hubungan kami sebagai kakak dan adik tetap terikat erat"