The Unifying Butterfly

The Unifying Butterfly
Season 3 Chapter 21 : Pelukan (1)



Kamar No. 2....


Jam 05.45....


Rahmat sedang di depan pintu kamar Vandro....


"Ku bangunkan Vandro atau ngga ya? soalnya... saat jam 3 pagi tadi... aku masih lihat dia menyendiri di beranda luar... " batin Rahmat.


KRIING!!! KRIING!!


"Ng? Alarm nya bunyi" batin Rahmat.


Trek!


"Dimatikan" batin Rahmat lagi.


Tok! Tok! Tok! Rahmat mengetuk pintu.


"Vandro? kau sudah bangun?" tanya Rahmat.


"Hah? iya Mat, aku udah bangun" Jawab Vandro dari dalam kamar.


"Kau berangkat kantor ngga?" tanya Rahmat.


"Semalam aku menangis sampai pagi... benar-benar.. kepalaku agak pusing" batin Vandro.


"Vandro?" tanya Rahmat.


"Ya... aku ke kantor kok, kenapa?" tanya Vandro.


"Ngga, ku kira kau sedang butuh libur... " kata Rahmat.


"Ngga... "


"Oh ya.. kau mau makan apa? kalau mau ku siapkan" kata Rahmat.


Vandro terdiam, Rahmat menunggu Vandro untuk berbicara.


"Boleh, kalau bisa buatkan aku bubur ayam ya" kata Vandro.


Dari luar kamar, ini pertama kalinya di Rosement kalau Rahmat tersenyum diam-diam.


"Ya, baiklah... akan ku siapkan" kata Rahmat.


Rahmat akan pergi ke dapur...


"Rahmat" panggil Vandro.


"Ng? kenapa?" tanya Rahmat.


"Aku tahu kalau kau berusaha untuk berbicara tentang Vanora padaku.. aku sedang tidak ingin sekali membahas itu, jadi... kalau kau tidak mau ku jauhi, tolong jangan membicarakan dia di depanku" pinta Vandro.


"Ah... O, ok.. baiklah, aku tidak akan membicarakan tentang Vanora padamu, kau sudah baikan sekarang?" tanya Rahmat.


"Begitulah, makasih Mat... kalau gitu aku minta sekalian kalau ngga keberatan buatkan salad kentang" kata Vandro.


Bunker lingkar dalam....


Andra tersenyum menatap adiknya yang memakai pakaian olahraga dan jilbab ungu.


Amanda juga menatap dengan tatapan polos pada Andra tidak tahu kenapa.


Radith hanya menatap aneh sambil mundur perlahan melihat adik dan kakak itu saling bertatapan.


"Kak Andra kenapa? apakah mau minta sesuatu?" tanya Amanda dengan polosnya.


"Menurut informasi dari Erlan... yang ku dapat adalah, kalau Ana itu risih jika berpegangan tangan dengan lawan jenisnya, jika berpegangan tangan saja gitu... apalagi pelukan, ku tes saja dulu.. " batin Andra.


"A... Anu, begini... kita belum berpelukan dari terakhir kali kita bertemu... apakah kamu keberatan ngga jika berpelukan dengan kakakmu ini?" tanya Andra.


DEG! BLUSH!


"Pe... Pelukan!?" tanya Amanda yang pipinya langsung merona.


"Kemarilah" kata Andra sambil tersenyum yang sudah maju mendekati adiknya sambil melebarkan tangannya.


"Ma... Malu!!! kenapa tiba-tiba minta pelukan!? aku belum mandi!!" kata Amanda yang secepat kilat bersembunyi di belakang Radith.


"Sehabis olahraga aku kesini buat ngasih tahu kabar doang kok" kata Amanda lagi.


"Erg.... No,... Nona?" tanya Radith yang melihat Amanda bersembunyi di belakangnya.


"Ng... ngga apa-apa, ngga ada bau... kakak juga ngga nyium bau kok, serius" kata Andra sambil berjalan mendekat.


"Ukh! kakak kan udah mandi! udah wangi! masa pelukan? ntar bau apek lagi gimana!?" tanya Amanda yang masih bersembunyi di belakang Radith.


"Kak Radith! diem ya!" ujar Amanda yang melihat Radith akan berpindah tempat.


"Kenapa kamu menghindar? apakah keberatan?" tanya Andra yang menarik Radith sedikit agar melihat Amanda.


"Eh!? Em.... " Amanda ngga tahu harus jawab apa.


"Ngga mau ya?" tanya Andra sambil tatapan memelas.


"Ja... jangan menatapku gitu, aku jadi kasihan" gumam Amanda.


"Ka... Kalau mau pelukan, tu... tunggu aku habis mandi kak!" kata Amanda.


"Baiklah kakak tunggu ya" kata Andra sambil tersenyum ceria.


"Terkadang aku juga sering gigit jilbab saat tidur, juga rambutku sering kena liur! aku harus mandi bersih biar kak Andra ngga bau apek!" batin Amanda.


"Mau pelukan saja harus janjian.. " batin Aika dan Pak Andi yang sudah di ruangan.


"Kak... itu nanti dulu, aku mau kasih kabar dari kak Rafa" kata Amanda.


Sementara itu di kamar Rafa...


Rafa sedang tertidur pulas, sedangkan Rafi menatap Ponsel Rafa yang dia pegang.