The Unifying Butterfly

The Unifying Butterfly
Season 2 Chapter 89 : Ancaman



PRANG!


"Pa... pangeran!? kenapa?"


"Sampai saat ini, belum di kabari lagi berapa korban yang ada dalam kerusuhan geng ini" Berita di TV membuat Azka stres.


"Rafa belum kembali, kemana anak itu!? " batin Azka.


Sementara itu....


"Hei jawab! Kau Andra kan? ingat aku?" tanya Rey.


"Dasar si Rey, pakai acara ingat-ingat masa lalu" batin Andra.


Mobil terus saja berkendara meninggalkan Bima yang terkapar berdarah dengan luka serius.


"Ng... Hah!? ukh! pa.. panggil bantuan dan kabari Pangeran Azka" ucap Bima yang mengambil Ponsel cadangannya.


"Ok, sekarang semua sudah ada di sini ya?" tanya Rey sambil melirik Amanda.


"Gadis cantik, jangan bergerak jika tidak ingin pria ini mati" kata Rey mengarahkan pisaunya ke leher Rafa.


"Ja... jangan apa-apa kan Kak Rafa!" kata Amanda.


"Bagus"


"Mana Bima!?" tanya Rafa.


"Oh... si supir itu ya? sudah mati mungkin" kata Rey.


"Apa!?" tanya Rafa.


📞"Rey! ngga akan ku biarkan kau berbuat sesukamu!" ucap Andra.


"Sorry bos, di sini ngga ada negosiasi" kata Rey.


📞"Apa yang akan kau lakukan pada mereka!?" tanya Andra.


"Yah... entahlah, membuat mereka menjadi bonekaku kayaknya seru" kata Rey.


📞"Apa!? ingat ya! jangan sakiti mereka! ngga akan ku biarkan!" ucap Andra.


"Sudah kubilang berapa kali sebenarnya Andra? tidak ada negosiasi, temukan aku kalau bisa, jika tidak ya? entahlah" kata Rey sambil membuka jendela mobil dan mengarahkan Ponsel Rafa dan Ponsel Bima.


"Ponsel Kak Rafa dan Pak Supir mau di arahkan ke jendela... hah!? Ja... jangan-jangan!? " batin Amanda.


"Bye" kata Rey sambil melempar Ponsel Rafa dan Bima.


Trak!


****


"Erlan!" kata Andra.


"Ya! aku sudah meretasnya! untung sepertinya dia tidak tahu Ponsel Amanda masih di sana" kata Vian.


"Erlan! tolong koneksikan aku ke Nera dan Toni! mereka yang paling dekat!" kata Andra


****


"Ponselku ada di bawah tempat duduk, terdorong tadi, Vian bisa mendengarnya dan mengetahui lokasi kami, syukurlah, ini bisa jadi satu-satunya penolong kami" batin Amanda sambil menyembunyikan perlahan-lahan ponsel nya.


..._________...


Rey mendekati Rafa.


"Hey! apa yang kau lakukan!?" tanya Rafa.


"Hm... melihat dari kartu tanda pengenal penduduk mu... ternyata benar kalau kau itu Rafanza Zevan Ameera, si sepupu Andra kurang ajar itu" kata Rey sambil melihat dompet Rafa.


"Sepertinya kalian perlu tempat yang luas, ayo kami bawa ke markas kami"


Sementara itu...


BRRRM!!! Toni dan Nera sedang mengendarai motor.


"Halo Nera? Toni? kalian bisa dengar aku? dengarkan aku baik-baik, ada dua orang yang di sandera Rey, Rafanza Zevan Ameera dan Amanda" kata Andra lewat Earphone.


"Cih!" ujar Toni.


"Sialan si Rey" kata Nera kesal.


"Vian akan terus mengontrol pergerakan kalian, aku sudah mengirimkan koordinasinya"


"Nera tolong..." Andra mengucapkan sesuatu.


"Ng?" tanya Nera.


"Tolong selamatkan mereka sampai bantuan dan aku datang" kata Andra.


"I know Andra, akan aku selamatkan mereka, bagaimana pun caranya" kata Nera.


Kembali ke kondisi Amanda...


"Jalan!"


"Aku dan Kak Rafa, mata dan mulut kami di tutup tangan kami diikat agar tidak bisa banyak bergerak, aku menjatuhkan perlahan-lahan satu persatu bros bunga yang di berikan Pak Randi, agar sebagai petunjuk dimana kami berada jika ada yang datang menolong kami. Semoga ini bisa membantu" batin Amanda.


BRUK! Amanda dan Rafa di suruh duduk di pasir... pasir? ya!? maklum kalau markas mereka bekas gedung kosong tua.


"Lepas penutup mata dan mulut mereka" kata Rey.


Sruk!


"Sekarang.... kita bisa berbicara leluasa bukan?" ucap Rey.


"Siapa kau!? apa sebenarnya hubunganmu dengan Andra!? kenapa kau berani mengancamnya!?" tanya Rafa.


"Hahaha! dasar! kau Keluarganya sendiri saja tidak tahu! aku lah yang menculik Andra dan membuatnya babak belur juga luka-luka" kata Rey.


"Hah!? menculik!? jadi kau yang menculiknya waktu kecil!?" tanya Rafa.


"Kau ini bodoh atau apa sebenarnya!? kau pikir aku ini aki-aki!? saat itu aku pasti juga masih kecil!" kata Rey sambil mencengkeram kerah baju Rafa.


"Ah! yang saat Andra pulang sendirian dalam keadaan luka-luka!! Kakek bahkan sampai marah besar saat itu" batin Rafa.


"I... iya! O.. ok! aku tahu yang mana! aku akan membayar berapapun yang kau mau! tapi jangan menyakiti keluarga ku lagi!" kata Rafa.


"Oh... menarik" kata Rey.


"Ok.. mau berapa kau?" tanya Rafa.


BAK! Rey memukuli Rafa.


"Menyebalkan! kau memang tidak ada bedanya dengan Andra! selalu mengandalkan uang!" kata Rey yang terus memukuli Rafa.


Bak! Buk!


"Be... berhenti!!! Kak Nera! Kak Nera ngga seperti mu!" kata Amanda.


Rey memukuli Rafa untuk tinjuan kerasnya yang terakhir, tapi berhenti karena perkataan Amanda.


"Oh ya, aku hampir lupa padamu.. bagaimana dengan mu? dan apa hubunganmu dengan Nera?" tanya Rey.