The Unifying Butterfly

The Unifying Butterfly
BONUS! CHAPTER 4 bagian 1



"HUA!!!" Amanda terlempar.


BRAK!!


"Amanda! ukh!!" tubuh Elena di kendalikan.


"Lepaskan.. aku!" kata Elena yang di kekang.


"Kau akan ku menyesal karena mengkhianati ku,.. hm!" kata Bestari sambil menaruh sengatan di kekangannya melalui tongkatnya dan membuat Elena tersengat.


"Aakh!!!! ma.. maafkan aku Nyai! akh!!!" Seru Elena.


"Eh! Perisai itu sudah gak ada!" kata Vanora mencoba meraba sekelilingnya.


CRING! Andra mengaktifkan Silent-nya dan melihat Bestari.


"Ah! aku mengerti, ternyata Perisai itu bertumpu alias satu inti dengan tongkatnya Bestari! jika Bestari menggunakan tongkatnya, maka perisai itu akan hilang!" Jelas Andra.


"Berarti ini sama saat aku dan Rangga melawan pasukan Bestari tadi" Kata Erlan.


"Kalau begitu, ayo kita bantu mereka!" kata Rangga.


"Jangan asal lewat... bagaimana jika kita bersenang-senang dulu?" tanya hantu puaka air sambil mengaktifkan perisai air astral pada Arif.


"Hah!? apa yang... !?" tanya Arif terperangkap.


"Papa!"


"Ukh!! Puaka air tahu kalau Papa bisa menggunakan jurus teleportasi-nya lebih cepat dari pada Bestari, jadi alasannya untuk memerangkap Papa memang berhasil agar tidak mengganggu Bestari" batin Andra.


"Jangan khawatirkan aku! cepat selamatkan Elena dan bantu Ana, Andra!" kata Arif.


"Kaito-sensei... " gumam Rangga.


"A... Ayah!! ukh!" Amanda hampir tertebas pedang.


Perlahan-lahan kulit polimerase Arif terkelupas.


"Ayah!!! jangan!!" batin Amanda.


"Aku akan menghancurkan Lord Six! untuk kedua kalinya!" kata Bestari mengarahkan tongkatnya.


"Ja.. jangan! hentikan!" kata Rangga.


Saat serangan Bestari mulai mendekati perisai yang memerangkap Arif, ada yang menghalangi serangan itu.


"Eh!? apa yang.. " Arif melihat ke depan.


"Hah... hah... hah.. " Amanda menggunakan Mode kara yang membuatnya mirip seperti Aika.


"A.. Aika" gumam Arif.


Amanda maju langsung untuk menyerang Bestari dan menyelamatkan Elena.


"Heh... akhirnya kau keluar juga! Monster Naga Fujiwara!!" Seru Bestari.


"Aku akan memastikan itu akan menjadi milikku" kata Bestari lagi.


"Tidak akan!" kata Amanda.


"Ana!! jangan!!" kata Andra.


"Tidak apa... Eh!?" tanya Amanda.


Tiba-tiba Mode Kara perlahan-lahan menghilang dan Amanda mulai kehilangan kesadarannya.


"Mo.. Mode kara menghilang!? kenapa!? padahal... sedikit lagi aku bisa menyerangnya" batin Amanda yang mulai oleng.


"Hem... " Bestari melancarkan serangannya untuk mengenai Amanda.


"Ana!!" batin Arif.


"Gawat!!" gumam Pak Andi langsung berlari mendekati untuk menyelamatkan Amanda.


Arif mengingat saat bersama Afifah...


"Hei.. Arif" kata Afifah.


"Kenapa, Afifah?" tanya Arif.


"Apa yang terjadi jika ajal mulai menjemputmu?" tanya Afifah.


"Ng? memangnya kenapa?" tanya Arif.


"Aku selalu mempunyai prinsip jika aku ditanya seperti itu atau memang mendekati ajal-ku... maka aku akan menjawab : Kalian hanya hidup sekali. Jalani kehidupan dan matilah dengan jalan kehidupan yang kalian inginkan. Tapi apapun jalan yang kalian pilih, jangan lupa untuk melindungi orang yang berharga dalam hidup kalian" Jelas Arif.


BLUSH!!


"He.. He!?" tanya Afifah.


"Ng? kenapa?" tanya Arif.


"Ng.. ngga, aku hanya gak ngerti aja" kata Afifah.


"Ya.. contohnya, kamu adalah orang yang paling berharga buatku" kata Arif sambil membaca koran.


"E... ee... Dasar!!!" kata Afifah yang mukanya memerah sampai meninju tembok samping kepala Arif.


JDUAR!!


"Hi... Hi!!! Sa.. salahku apa Mika!?"


Flashback Off...


Tapi Amanda tiba-tiba langsung dapat bertapak di tanah.


"Apa yang terjadi!? yang barusan itu apa!?" tanya Pak Andi.


"Seharusnya dia benar-benar kehilangan kesadarannya" kata Vanora.


"Apa yang... " gumam Bestari.


"Ke.. Kenapa!? bukankah tadi aku sudah kehilangan kesadaranku!?" batin Amanda.


"Sudah lama setelah kita bertemu ya? Ana? ini aku... Ayahmu" kata seseorang di batin Amanda.


Di Alam bawah sadar Amanda...


"A.. Ayah!? bagaimana bisa kamu kesini!?" tanya Amanda.


"Aha.. aku menggunakan Feiku saibo untuk menyegel Polimerase ku yang berada di perisai, sekarang Polimerase ku tidak berjiwa untuk sementara,... haha, kau tidak berubah ya.. Ana, tadi itu hampir saja" kata Arif sambil tersenyum.


"Ayah! aku.. aku dan kak Andra berusaha untuk mendukung impianmu dan Ibu!" kata Amanda.


"Tidak ada waktu, kita tidak mempunyai banyak waktu untuk membicarakan hal pribadi, aku rasa Bestari akan sadar cepat atau lambat kalau aku menggunakan Feiku saibo, aku juga harus cepat... karena ini hanyalah Tensei" kata Arif.


"Ta.. Tapi... "


"Impian Andra dan impianmu Ana, adalah kelanjutan dari mimpi Kaito maksudnya Arif dan mimpiku" Amanda mengingat perkataan Afifah saat bertemu dengannya.


"Ayah! sejak aku mengetahui detail kematianmu dan Ibu dari ceritamu saat itu, aku selalu mencoba mengingat kenanganku bersama kalian berdua dan kak Andra! tapi sudah berubah! dan sekarang aku... aku telah mengerti apa yang paling Ayah sesalkan! yaitu tidak berhasil menyelamatkan Ibu! tapi... aku ingin mencobanya sekali lagi! dengan melindungi kak Andra!" Seru Amanda dengan reaksi serius.


"A.. Aku, telah kembali ke inti keluarga Ameera, tapi.. itu!" ujar Amanda.


"Terimakasih Ana, dengan kamu dan Andra yang telah memenuhi impianku dan Mika, itu sudah cukup. Dan... apakah aku sudah membuatmu dan Andra begitu menderita? maafkan aku" Kata Arif dengan raut wajah menyesal.


Amanda menunduk.


"Aku dan Afifah akan menunggu Andra dan dirimu disana, tapi... jangan menyusul kami secepat itu ok? karena kamu dan Andra adalah impianku dan Mika sekarang" kata Arif mulai menggenggam kepala Amanda di bagian belakang dan mendekat.


"Oh ya... Afifah bilang kalau dia lupa memberikan ini saat berpisah dengan mu, dia memintaku untuk menyampaikannya, sampaikan pada Andra juga ya" kata Arif mendekat dan mencium dahi Putrinya, seperti yang pernah Afifah lakukan padanya, Amanda terbelalak.


CUP!


"Di saat seperti ini, aku senang bisa membantumu, kita bisa melanjutkan perbincangan ini setelah masalah dengan Bestari selesai. Yah.. sepertinya ada sedikit sisi baik dari Ninjutsu Tensei ya, haha" kata Arif dan mulai menghilang dari alam bawah sadar Amanda.


SING!


******


Amanda perlahan membuka matanya.


"Ayah... " dan berbalik ke belakang melihat Ayahnya kembali ke perisai.


"Nak Ana! kau tidak apa-apa!?" tanya Pak Andi.


"Kesadarannya telah kembali, apakah tenaga dan Mana Adnya kundalini mu sudah pulih?" tanya Bestari yang masih mengekang Elena.


"Aku baru saja bertemu seseorang yang amat berharga bagiku, karena dia aku masih hidup dan ditakdirkan harus menghentikanmu!" kata Amanda.


"Sebentar lagi... kau dan kakakmu, akan bertemu dengannya kembali" kata Bestari.


"Apa... yang sebenarnya terjadi, seharusnya dengan sedari tadi kami bertarung dengan Bestari, seharusnya tenaganya mulai habis, Jangan-jangan dia mengambil tenaga dari kak Elena!?" batin Erlan.


"Waktunya bermain sudah selesai!!"