The Unifying Butterfly

The Unifying Butterfly
Season 3 Chapter 28 : Memulai Rencana



"Ok... kita mulai"


Di Ruang makan kantor....


"Aduh!" Amanda pura-pura terpeleset dan langsung melemparkan Ponsel nya yang bergambar wallpaper foto Vian ke meja tempat para karyawan perempuan yang memotret Vian.


"Ma... Maaf! saya permisi" kata Amanda sambil berbalik.


Tap! Salah satu karyawan perempuan itu memegang bahunya.


"Hei! kamu dapat darimana foto tadi? itu Vian kan?" tanya salah satu karyawan.


"Bagus... sesuai rencana" batin Amanda.


"Anu... ini aku dapat sendiri kok kak, kakak-kakak mau lihat?" tanya Amanda.


"Serius!?" tanya beberapa dari mereka.


"Iya" jawab Amanda singkat.


Langsung saja mereka berbincang dengan Amanda dalam satu meja tentang foto Vian.


"Jadi... sebenarnya ini aku dapat sendiri" kata Amanda.


"Filter dan cara fotomu bagus banget! aku mau dong! beli juga ngga apa-apa! harga yang mahal juga ngga apa-apa kok!" kata sebagian dari mereka.


"Ah... pelan-pelan dan sabar dulu ya semuanya" kata Amanda.


"Jadi? mau ngga, kita bisnis?" tanya mereka.


"Sebelumnya kita perlu berbincang dulu ya kakak-kakak, agar aku bisa putuskan" ucap Amanda.


"Ya udah" kata mereka.


Akhirnya malam harinya di Rosement....


Di Wall Vian...


"Jadi gimana?" tanya Vian sambil duduk di bangku nya.


"Ya, katanya sih alasan mereka ngambil fotomu karena, suka? kamu ganteng gitu walau judes, sampai-sampai mereka ngasih julukan buatmu" ucap Amanda.


"Hah? julukan apa emang?" tanya Vian yang penasaran.


"Em... katanya 'Pangeran tampan sedingin kulkas dua pintu' gitu deh" ujar Amanda.


"Hah?? julukan yang aneh" ujar Vian.


"Ya, yang pasti... untuk sekarang aku akan simpan dulu Video kamera bros yang kudapat, agar nanti aku bisa melihat apa sebenarnya yang di lakukan, karena katanya... bros ini bisa menandai orang yang terekam di Bros kamera ini dan jika memasukkan ID Address bros kamera ini di CCTV, maka kita bisa tahu siapa saja yang memotret mu" Jelas Amanda.


"Ya, baiklah... kerja yang bagus Partner, kau ku akui" kata Vian sambil tersenyum bersandar di kursinya.


"Hehe" ujar Amanda sambil sedikit tertawa.


"Lho? kak Nera? masuk aja kak! naik tangga aja dulu sini" kata Amanda.


"Kalian aja yang turun ke bawah" ujar Nera.


Akhirnya Amanda dan Vian turun kebawah.


"Ada apa kak Nera?" tanya Amanda.


"Ini! ku kasih buat kalian" kata Nera sambil memberikan secarik kertas kecil.


"Lho? ini kan!?" Amanda dan Vian kaget melihatnya.


"Iya! voucher makan gratis di restoran kemarin yang kalian pergi! mau ngga?" tanya Nera.


"Ah... Ha.. ha.. ha, maaf kak.. aku harus ke dapur sebentar ya" ucap Amanda sambil berlari kecil ke dapur.


"A... Aku harus mengurus beberapa hal, jadi kami tidak bisa makan di sana, aku mau ke dapur dulu buat kopi, bye Nera" ujar Vian menyusul Amanda.


"Ng? kenapa mereka? ya udahlah, ku ke kamar saja" ucap Nera heran.


Di Dapur....


"Hah! kenapa kau pergi!?" tanya Vian.


"Aku ngga mau nyakitin perasaan kak Nera! kak Nera bilang itu restoran saat kita datang dulu pas mau insiden! ya aku ngga mau mengulang kesalahan dua kali! bagaimana denganmu!? kenapa kau menolak dan menyusul ku kemari?" tanya Amanda.


"Karena Nera kalau marah itu ? menyeramkan! dan aku ngga mau terkena pukulan kungfunya itu kau tahu!?" tanya Vian.


"Ya, tapi syukurlah... aku buatkan minum dulu ya" ujar Amanda.


Tidak sampai 5 menit, Amanda sudah membuat segelas Jus sirsak, dan segelas kopi hangat buat Vian.


"Tumben bikinkan aku Kopi" kata Vian.


"Ya, kapan-kapan aja... Oh ya, aku lupa! tadi aku mau kasih tahu, kalau Kak Riri juga ikut nimbrung" ujar Amanda.


"Hah?? Riri!? Seniormu itu!?" tanya Vian.


"Begitulah, dan saat kak Riri bilang hal ini mereka langsung berpikir keras dan berpendapat" tambah Amanda sambil meminum jus sirsak nya.


"Bilang apa?" tanya Vian yang sudah merasa santai dan meminum kopinya.


"Em... Yang lainnya bilang dan berpendapat kalau saat melihat kamu yang tidak memakai masker, yah... seperti ada rasa familiar dan entah pernah melihatmu dimana" ujar Amanda menyampaikan pada Vian dengan santai.


DEG!! Vian kaget mendengarnya.


"Em.. Ya sudah, aku mau ambil cemilan dulu deh, agak lapar nih" ujar Amanda.


"Tunggu! lalu tanggapan Riri atas pendapat dan pikiran mereka bagaimana!?" tanya Vian sambil menahan Amanda.