
"Baiklah, kami berangkat ya!" kata Vanora dengan senang.
Namaku Amanda, aku adalah Penghuni Rosement no 10.
Oh ya! ini adalah Partnerku di Rosement namanya Vian.
Tau gak? kenapa Kak Vanora pamit tadi? ok, ikuti Flashback nya.
Flashback sebelumnya....
Diruang makan utama.....
"Capek, sudah lama kita tidak liburan" protes Nera.
"Liburan gimana? orang di Rosement semuanya ada kok, kolam renang, taman, makanan, ruang nonton, Aula, perpustakaan, ruang komputer, kamar, Dapur, dan lain-lain" kata Toni yang lanjut makan.
"Iya nih! kita liburan aja yuk!" ajak Randi.
"Aku ngga bisa" jawab Vandro.
"Eh?! kenapa?!" tanya mereka semua kecuali Amanda, Vian, dan Rahmat.
"Aku harus dinas penting keluar negeri, jadi aku tidak ikut" jelas Vandro.
"Yah, gimana lagi" kata Nera.
"Baiklah semuanya bisa liburan, nanti biar bapak yang bicara ke Nak Andra, bapak juga mau pulang ke kampung halaman" kata Pak Andi yang akhirnya bicara.
"Yeeey! asik! kalau Vian dan Amanda gimana?" tanya Vanora.
"Em,... kayaknya aku ngga kemana-mana deh kak, soalnya Nina sahabatku mau liburan ke Villa keluarga mereka diluar negeri, kalau Kak Fika yang juga sahabatku juga akan liburan, maklum mau akhir tahun" jelas Amanda.
"Lho?! Nina bukannya.... " batin Vian dengan mengerutkan alis.
"Kalau aku masih banyak kerjaan, WI-FI juga sering mati, Si Andra lupa bayar listrik apa?" gerutu Vian.
"Iya Kak Nera, Kak Vanora, dan yang lainnya berlibur saja" jawab Amanda.
"Yah, ngga enak dong kalau Amanda yang tinggal di Rosement, kalau Vian juga ntar bakalan protes mulu" kata Vanora.
"Aha! bagaimana kalau aku kerumahku saja?" tanya Amanda.
"Kerumah mu?" tanya Randi.
"Ya! Rumahku sudah lama tidak ku kunjungi, mungkin aku akan menetap disana sampai kalian semua kembali" kata Amanda.
"Kalau Vian gimana?" tanya Vanora.
"Bagaimana kalau Vian ikut nginep di rumah Amanda juga?" tanya Rahmat yang juga sudah ada rencana untuk liburan.
"Eh! mana boleh! bukan Mahrom!" kata Vanora.
"Ngga apa-apa sih, karena biasanya Bi Minah, pembantu rumahku sudah selesai dari cutinya setelah sekian lama, jadi bisa ikut nginep" kata Amanda.
"Iya bisa, emangnya ngga apa-apa? ntar rumahnya kecil" kata Toni.
"Ngga apa-apa kok Kak Toni, jadi gimana Vian?" tanya Amanda.
"Boleh sih, tapi ada WI-FI ngga? kalau ada gratisin ya?" tanya Vian.
"Ada kok, boleh ngapain juga bayar?" tanya Amanda.
"Jadi, Semuanya ada rencana berangkat liburannya kapan?" tanya Amanda.
"Kalau aku sama Toni bakalan ke kebun binatang di luar kota, bakal kembali setelah 1 minggu, mulai berangkatnya besok aja naik pesawat" kata Nera.
"Kalau aku mau nginep di hotel bintang 5 yang baru itu lho di kota Magnaga! nanti bisa lihat pesta kembang api! jadi ngga sabaran deh! sama kayak Nera berangkat nya besok dan pulang setelah 1 minggu hehe" kata Vanora.
"Kalau saya ke luar negeri untuk pekerjaan Dinas dan akan kembali setelah 2 minggu" kata Vandro sambil meminum tehnya.
"Kalau aku mau reuni universitas kedokteran juga diluar kota Rahmat mau ikut aku katanya, jadi kami akan kembali 6 hari lagi" kata Randi.
"Kalau bapak, akan ke kampung halaman naik kereta besok pagi, dan kembali setelah 15 hari" Kata Pak Andi.
"Wah kok bisa berangkatnya bisa besok pagi semua?" tanya Amanda heran.
"Karena, ada promosi pesawat potongan harga dan bisa menduduki kursi eksekutif lho! dan bagusnya lagi, itu pesawat nya juga tujuan kami semua! jadi itu sangat beruntung, dan kami akan berangkat besok pagi" Jelas Nera.
"Sedangkan Vandro besok harus menghadiri rapat penting yang dihadiri para perwakilan GM dari beberapa perusahaan besar" jelas Vanora.
"Kalau Pak Andi akan ada perkumpulan orang tua lanjut usia, dan acaranya jam 10.00 pagi!, sedangkan jika menggunakan kereta akan sampai pukul 09.00,jadi beliau akan berangkat jam 05.00 bersamaan dengan kami semua ke bandara" Jelas Rahmat.
"Oh begitu, baiklah" kata Amanda dengan mengerti.
"Kamu ngga apa-apa sendiri dengan Vian Amanda?" tanya Vandro dengan cemas.
"Hehe, tidak apa Pak Vandro" kata Amanda.
Mereka semua kembali ke kamarnya, di kamarnya Vian....
Tut! Tut! Tut! Trek! suara telepon diangkat.
"Halo Andra" kata Vian di telepon.
"Oh ada apa,...... Erlan... Ramanathan? " tanya Presdir kepada Vian.
"Berhentilah menggunakan nama asli ku seperti itu, aku ingin bertanya sesuatu kepada mu" kata Vian yang ternyata adalah Erlan.
"Oh maaf, bagaimana kondisi disana?" tanya Andra.
"Bagus, besok kami semua akan berlibur, tak apa kan?" tanya Vian.
"Pak Andi sudah mengabari, jadi tak akan kenapa-napa" kata Andra.
"Oh, baiklah sudah ya" kata Vian.
"Ya"
Dikamar Amanda....
Tut! Tut! Tut! Trek!
"Halo Amanda?" tanya Nina di telepon.
"Hai Nina, kamu udah sampai di Villa?" tanya Amanda.
"Yah, aku ingin mengajakmu tapi kau bilang tak usah , tidak apa-apa kan? oh ya, ada apa telepon?" tanya Nina.
"Hehe, ngga apa-apa Na, aku ingin bilang kalau aku sudah bisa mengingat siapa Erlan" kata Amanda dengan senang.
"Hah?! benarkah? syukurlah! kau sudah mengingat semuanya?" tanya Nina dengan gembira.
"Ya!" kata Amanda.
"Aku sudah mengingatnya semua, termasuk bagaimana perasaanku kepadanya" batin Amanda dengan tersenyum.
"Baik, maaf mengganggu Na, aku akan mengatakan selengkapnya saat kamu pulang saja, sampai jumpa ya" kata Amanda.
"Ya! "
Trek! telepon ditutup.
Sekarang mengerti kan? kenapa Kak Vanora Pamit tadi?.
Ya! begitulah, akhirnya setelah mendapat izin dari Pangeran, mereka semua berlibur, kecuali aku dan Vian yang tak ada rencana dan akan menginap dirumahku.
"Hah, baru saja mereka semua berangkat, Rosement jadi sepi, ayo Vian! aku antar pakai mobil" kata Amanda.
"Hah?! kau bisa bawa Mobil Amanda?" tanya Vian.
"Ya, mobilku sudah ku parkir didalam Rosement sejak tadi malam untuk persiapan, sekarang kemasi barang-barangmu" kata Amanda.
"Ya"
Akhirnya mereka berangkat dan menggunakan jalan memutar agar tidak kelihatan orang, dan jadi lebih lama, sekitar perjalanannya 2 jam lebih.
"Ng? Foto apa ini Nda?" tanya Vian.
"Oh, itu foto masa kecilku dengan Nina, dan.... Erlan" kata Amanda dengan pipi agak merona.
"Erlan itukan aku" batin Vian.
"Vian, kita berhenti dan beli minuman dulu ya, kau mau apa? nitip sini" kata Amanda sambil memarkirkan mobil.
"Aku mau... jus saja, yang dingin" kata Vian sambil menyerahkan uang.
"Iya" jawab Amanda.
Setelah selesai membeli, akhirnya Amanda masuk lagi kedalam mobil, dan mereka melanjutkan perjalanan sekitar 1.5 jam lagi.
"Hei Vian" panggil Amanda sambil menyetir.
"Ya?" tanya Vian sambil mengetik Laptopnya.
"Apa.... apa ada seseorang yang Vian sukai?" tanya Amanda.
"Hah?" kata Vian tidak mengerti.
"Maksudnya, orang yang selalu menarik perhatianmu di Kantor, atau teman masa pelajar mu dulu" Jelas Amanda.
"Tidak ada" kata Vian.
"Benarkah? kalau aku ada orang yang kusukai, dia orang yang selalu menarik perhatianku" kata Amanda dengan tersenyum.
"Aha, apa mungkin orang yang kau sukai itu adalah orang yang ada di foto yang kau ceritakan yang bernama Erlan itu ya?" tanya Vian dengan malu tapi meledek.
Amanda berbalik memperhatikan wajah Vian dengan tersenyum dan memalingkan wajahnya lagi dan menatap Vian lagi dengan tersenyum.
"Hm.... Kau benar!" kata Amanda menatapnya dengan tersenyum yang membuat pipi Vian sangat merona.
"Walaupun dia itu sangatlah usil, dan juga otaknya itu selalu di penuhi dengan buku dan belajar sejak ia masih Kecil, tapi jika dia sedang melindungi atau menolong, ia terlihat sangat berani, peduli, dan juga sangat keren!!" kata Amanda dengan tersenyum dan agak malu.
"Ukh!" Pipi Vian sangat Merah mendengar hal itu.
"Aku,... benar-benar.... sangat menyukai Erlan!" katanya menegaskan tapi dengan wajah merona.
Ckiit! mobil berhenti karena lampu lalu lintas menjadi merah.
"Tapi untuk ini, jangan beritahu dia ya?" kata Amanda sambil mendekati kursi Vian dengan berharap.
"Ah,... iya" kata Vian seakan tidak percaya.
"Cuman Vian saja yang tahu perasaanku" kata Amanda lagi.
Bruum, akhirnya mobil kembali berjalan.
"Kau benar-benar sama sekali tidak boleh memberitahu Erlan!" kata Amanda dengan menegaskan dan melanjutkan perjalanan.
"Ya!"
Sampai juga dirumah Amanda.
"Nah, ini rumahku, ibuku sudah meninggal saat usiaku 16 tahun, rasanya sekarang aku sudah mempunyai seorang teman! aku jadi merasa bisa memberitahukannya kepadamu semuanya" kata Amanda.
"Amanda" batin Vian dengan iba.
"Oh ya, karena ada beberapa kamar, kau menginap di kamar atas saja ya" kata Amanda sambil melangkah ingin menutup gerbang.
"Eh, tun... tunggu dulu... eee... Amanda" kata Vian dengan terbata-bata.
"Hah?" tanya Amanda.
"Se.... sebenarnya.... " ucap Vian dengan ragu.
"Ada apa?" tanya Amanda yang mendekatinya.
"Se... sebenarnya aku-..... " ucapan Vian terhentikan oleh suara notifikasi di HP Amanda.
"Sebentar ya, ada kabar kayaknya" kata Amanda.
"Kalau kau memberi tahu identitasmu yang sebenarnya, maka orang-orang yang berhubungan denganmu akan menanggung akibatnya juga, obat yang kau minum itu, berbahaya" Vian teringat dengan sebuah ucapan.
"Maaf Vian, tadi ada apa?" tanya Amanda.
"Ah, ngga aku hanya mau bilang.... kalau... eee.... bagaimana kalau kita masuk sekarang? hehe" kata Vian dengan gugup.
"Oh, ok! ayo, kamu di kamar atas saja ya" kata Amanda.
"Ya, baiklah" kata Vian.
"Alamat rumah dan posisinya tidak berubah, hanya bentuk rumahnya saja" batin Vian.
"Ok, kita mandi dulu dan sarapan, naiklah tangga itu dan di ujung adalah kamarmu, kau mandi saja dikamarmu ada kamar mandi, aku akan memasak sesuatu untuk sarapan setelah mandi, kita belum makan pagi bukan?" tanya Amanda.
"Ah, baiklah terimakasih" kata Vian sambil menaikkan kopernya.
Vian masuk ke kamarnya yang sudah disusun sangat rapi.
30 Menit berlalu, Amanda sudah selesai mandi dan selesai memasak, sedangkan Vian baru selesai Mandi.
"Vian! Turun! Sarapan dulu" kata Amanda dari bawah.
"Ya!" kata Vian yang turun membawa Laptopnya.
"Kau juga membawa Laptop? aku juga! karena mumpung waktu luang pengen nonton sama tulis naskah novel" kata Amanda sambil mengantarkan makanan ke meja makan dekat jendela.
"Good! makanan sudah ada, begitu juga Laptop! sekarang makan! jangan lupa baca doa" kata Amanda.
"Amanda, password WIFI nya apa?" tanya Vian.
"Oh iya! Passwornya huruf Alfabet ZAE 16" kata Amanda.
"Hm? agak aneh" kata Vian sambil mengetik Password itu.
"Ada maksud lain dibaliknya" kata Amanda.
Setelah berdoa mereka sarapan dan terlihat asyik memainkan Laptopnya.
"Wah!" kata Amanda melihat HPnya.
"Ng? ada apa?" tanya Vian.
"Vian! kita kesana yuk!" kata Amanda.
"Kemana?" tanya Vian.
"Ini!" kata Amanda memperlihatkan apa yang ia lihat di Handphone.
Gedung Pencakar langit dikota Helvetia telah selesai dibangun, dan diberi nama menara Enforcer akan dibuka untuk pameran melihat cermin anti peluru, Pameran akan dibuka besok, pukul 20.00 malam sampai malam tahun baru, pesta kembang api.
"Kesana?" tanya Vian.
"Ya! kesana ya?" kata Amanda dengan memohon.
"Ya, baiklah" kata Vian.
"Yeey! Yuhuu!" kata Amanda dengan senang.
"Dia selalu saja begitu" batin Vian sambil tersenyum.
Mereka kembali kekamar masing-masing....
"Aku sudah mengambil flashdisk data dari laboratorium ibu, ini ada data-data para Anggota Organisasi yang ibu maksud, kubuka ah!" gumam Amanda dengan pelan sambil membukanya.
"Ada Fotonya, orang yang selalu mengurus transaksi, codename nya Roy, ia orang yang lumayan berbahaya, dan juga ahli dalam menggunakan senjata Api, dan berambut silver panjang" kata Amanda dengan sangat pelan membacanya.
"Asistennya bercode Peter, ia adalah orang yang ceroboh jika tidak bersama Roy, ia juga ahli dalam menggunakan senjata, dan selalu menggunakan kacamata hitam" gumam Amanda.
"Sebaiknya kututup! aku agak takut, dan tidak membukanya lagi! akan kusimpan di laboratorium ibu dan akan ku lihat saat diperlukan" kata Amanda yang mengamankan Laptopnya dan pergi ke kasurnya yang ia tahu bahwa itu bisa mengarah ke Laboratorium ibunya.
Ia membuka lacinya dan memasukkan kode didalam tablet yang disamarkan seperti buku, dan menggeser kasur yang langsung memunculkan tangga kearah laboratorium ibunya.
Setelah selesai ia langsung naik, dan pergi keatas.
Malam Harinya...
"Hei Vian, mumpung dirumah kita nonton Film yuk!" ajak Amanda.
"Hah? nonton?" tanya Vian.
"Ya! nonton film The Movie Horor" kata Amanda.
"Judulnya apa memangnya?" tanya Vian.
"Kerusuhan didunia Ghaib" kata Amanda dengan bersemangat.
"Hah?! jangan bercanda! aku tidak terlalu suka Hantu!" batin Vian dengan sedikit menggigil.
"Ngga mau ya?" kata Amanda dengan memelas.
"Wajahnya, imut seperti saat SMA dulu" batin Vian dengan tidak tega.
"Yah, baiklah" kata Vian dengan pasrah.
"Ok! kita mulai sekarang, kamu duduk aja di kursi panjang itu, camilan dan minuman sudah ada, tinggal santai" kata Amanda yang langsung duduk disebelah Vian dan meletakkan makanannya di tengah-tengah mereka berdua.
KYAAAAA!!! suara teriakan demi teriakan di Film itu terus menerus bergemuruh.
......THE END ......
"Filmnya sudah selesai, gimana Vian? bagus?" tanya Amanda dengan santai.
"I..... iya! ba... bagus! se... se... kali!" jawab Vian dengan sangat merinding dan gugup.
"Hm? kau takut?" tanya Amanda.
"Hah?! te... tentu tidak!" jawab Vian dengan meyakinkan.
"Kalau begitu, kita nonton film komedi yuk" kata Amanda dengan mengatur Proyektor miliknya.
Filmnya sangat lucu, sampai-sampai Vian langsung lupa dengan Film Horor yang ia tonton.
Keesokan harinya.....
"Hoaaam! lho? kenapa aku udah dikamar? bukannya semalam aku di kursi tonton ya?" tanya Amanda.
"Vian? kamu dimana? lho? bau gosong? ada yang terbakar?!" kata Amanda yang langsung menuju ke dapur.
"Vian!! apa yang terbakar???!!!" kata Amanda dengan panik.
"Ohok! Ohok! semuanya baik-baik saja kok" kata Vian sambil menunjukkan hasil masakannya ke Amanda dan wajahnya pun ada bekas gosong.
"Hah? hm?" tanya Amanda yang memperhatikan wajah Vian dan melihat hasil makanannya, saaanggaaat Gosong.
"Kenapa bisa begini memangnya?" tanya Amanda dengan sedikit menyisingkan kerudungnya dari piamanya.
"Aku berusaha membuat telur ceplok, tapi baru tinggal sebentar buat cuci tangan udah gosong" jelas Vian.
"Pfft! ayolah, kalau tidak bisa kenapa tidak bangunkan aku? ini baru pukul 05.00 pagi kan? belum sholat shubuh" kata Amanda dengan sedikit tertawa.
"Yah, melihatmu yang tidur pulas males bangunin" kata Vian dengan menaruh telur hasil masakannya.
"Sholat shubuh dulu terus mandi, nanti aku yang masak, Oh ya Vian" kata Amanda sambil mengarah ke tangga.
"Ada apa?" tanya Vian.
"Tadi malam kok bisa ya aku sudah di kamar?" tanya Amanda yang membuat Pipi Vian merah.
"L.. lho? masa tidak ingat? kamu sendiri kan yang pindah sendiri?" tanya Vian.
"Benarkah? agak meragukan" kata Amanda langsung menaiki tangga kearah kamarnya.
"Tentu saja!" kata Vian.
"Bagaimana bisa aku memberitahu apa yang terjadi tadi malam?" batin Vian.
Flashback tadi malam....
"Akhirnya Filmnya sudah selesai... eh?" kata Vian yang melihat Amanda tertidur duduk sambil bersandar padanya.
"Amanda.... Amanda bangun" kata Vian.
"Nggg! aku.... udah sholat isya" kata Amanda yang lanjut tidur bersandar pada Vian.
"Ya Ampun" kata Vian dengan Pipi merah dan meletakkan tangannya dijidat.
Akhirnya dia memperbaiki posisi Amanda tidur di kursi panjang sementara dan membereskan semua nya.
"Udaranya kalau malam dingin juga" kata Vian.
"Maaf ya Amanda, ku pindahkan kekamar jangan marah" kata Vian yang langsung menggendong Amanda ke kamar.
"Tubuhnya ringan sekali" batin Vian.
Ceklek, ia langsung membuka pintu dan meletakkan Amanda ke kasur dan menyelimutinya dengan selimut.
"Good Night, Have a nice dream" batin Vian yang langsung berlalu pergi.
"Ng..... Erlan.... " Ngigau Amanda membuat Vian berbalik.
"Kau,.... maaf aku tidak bisa memberitahu yang sebenarnya kepadamu, tapi aku berjanji akan mengatakan yang sebenarnya kepadamu, mulai dari siapa diriku sampai bagaimana perasaan ku yang sebenarnya kepadamu langsung dari mulutku sendiri Amanda, sampai aku bisa membalaskannya kepada para Organisasi itu" kata Vian sambil berlalu pergi dan menutup pintu.
Blam!
Flashback off.
"Kalau aku beritahu yang sebenarnya, aku pasti sudah dibunuhnya dengan karatenya" batin Vian dengan bergidik ngeri.
"Oh ya, dimana bi Minah Amanda?" tanya Vian.
"Bi Minah sudah mengabari lewat SMS katanya anaknya sakit, jadi ingin meminta Cuti lebih lama lagi" jelas Amanda.
Mereka selesai Mandi dan makan, akhirnya mereka Video Call dengan Vanora dengan Laptop.
"Halo Vian! Amanda!" kata Vanora melalui HP di Hotel.
"Hai Kak Vanora! gimana nginepnya?" tanya Amanda.
"Lumayan menyenangkan lho! seharusnya kalian ikut" kata Vanora.
"Hehe, tidak apa kak bagaimana dengan fasilitasnya? memuaskan?" tanya Amanda.
"Ya, dan aku memenangkan undian dapat menginap lagi beberapa hari dengan gratis! sangat menyenangkan, Amanda sudah ku berikan bukan? Alat daruratnya?" tanya Vanora.
"Bahkan dirumah Amanda lebih mirip hotel, memangnya Alat seperti apa? " batin Vian dengan mengetik Laptopnya.
"Sudah kok Kak, makasih Hei Vian! sini ada Kak Vanora" kata Amanda.
"Bentar" kata Vian dengan singkat.
"Cepetan kalau ngga WI-FI nya ku matikan" ancam Amanda.
"Yah baiklah, Hai Nona Arrogant" kata Vian.
"Hei! kenapa kau memanggil kak Vanora begitu?" tanya Amanda.
"Grrrr..... Vian, ku dapat kau saat aku pulang ke Rosement nanti!!! Amanda, sudah dulu ya, terimakasih sayonara~~~" kata Vanora yang ramah jika ada Amanda.
Pip!
"Hayoloh" ledek Amanda.
"Biasa aja kali" kata Vian.
"Vian! jangan lupa untuk janjimu nanti malam!" kata Amanda.
"Janji?" tanya Vian.
"Huh! kau sendiri bilang kan? kalau kita akan ke puncak menara Enforcer untuk melihat pameran!! jangan bilang kau lupa!" seru Amanda yang memukulnya tapi Vian berhasil menghindar.
"Hah? masa? bicara apa kau ini?" tanya Vian.
"Hmm! yasudah! aku juga tidak mau pergi denganmu! kau bisa pergi saja sendiri!" kata Amanda yang pergi menaruh piring dan gelas kotor di wastafel dapur.
"Hei! Hei! jangan marah! aku ingat! nanti malam jam 20.00 ke menara Enforcer, hehe" kata Vian sambil mengikuti Amanda.
"Bagaimana aku bisa lupa?" batin Vian.
"Sebagai tebusan atas candaanmu tadi, kaulah yang harus membayar semuanya!" kata Amanda sambil mencuci piring dengan kesal.
"He....Hei! Amanda! tunggu dulu! jangan begitu!" kata Vian.
Di gedung kosong.....
"Peter, apa kita akan menjalankan rencana untuk mencuri cermin itu?" tanya anggota organisasi, Roy!.
"Heh! tentu saja Kak! aku sudah meminta 3 sniper handal untuk membantu jika ada masalah" jawab Peter.
"Oh ya? siapa saja?" tanya Roy.
"Yang pertama dengan kode nama Astoria, yang kedua Hawk, yang ketiga Jasson" kata Peter lagi.
"Oh begitu, sepertinya kita juga perlu menangkap orang berkode nama 'Albert' itu" ucap seorang wanita yang berkode nama Rose.
"Hm Rose, kau disini? apa tugas dari 'dia' sudah selesai?" tanya Astoria.
"Tentu, Astoria" jawab Rose.
"Kalau begitu, permainan..... Dimulai" ucap Roy.
Sementara itu ditempat Vandro...
Amanda
Pak, saya akan pergi dengan Vian malam ini ke Menara Enforcer terimakasih
^^^Baiklah, Hati-hati^^^
Terimakasih Pak
From pesan.
"Jadi Vian dan Amanda akan ke Menara Enforcer ya?" kata Vandro.
"Hm, aku agak cemas kenapa Andra memperbolehkan kami semua ya?" tanya Vandro.
Kriiing! Kriiing! suara telepon di HP Vandro.
"Halo? Oh Andra! ada apa?" tanya Vandro.
"Vandro!! aku dapat berita dari mata-mata di organisasi bahwa mereka akan melakukan pencurian cermin dan melakukan transaksi ilegal! cepat suruh Nera, dan yang lainnya cepat kembali sebelum malam ini pukul 20.10!!" perintah Andra.
"Apa?! tapi, Amanda dan Vian!" kata Vandro.
"Suruh yang lainnya cepat kembali dan berusaha untuk mencegah Vian serta adikku ke sana!" Perintah Andra.
"Ba... baik! akan aku usahakan!" jawab Vandro.
"Terimakasih! aku percayakan semuanya kepadamu! jika butuh sesuatu, hubungi aku!" jawab Andra.
"Ya!"
Tut!
Sementara itu ditempat Nera....
"Apa?!!! 'mereka' mulai bergerak??!!" kaget Nera saat Vandro memberi kabar lewat Telepon.
"Baik! aku dan Toni akan berangkat 2 jam lagi! perjalanan ke Helvetia sekitar 8 jam,kami akan sampai kira-kira pukul 7 malam! bersiaplah!" jawab Nera sambil menutup Telepon.
"Ada apa ketua?" tanya Toni sambil meminum air mineral di botol.
"Hah... Roy mau berulah lagi" kata Nera dengan menghembuskan nafas.
SEMBYUURR!!! Saking kaget akan perkataan Nera, minuman yang diminum Toni jadi menyembur dari mulutnya karena kaget.
"OHOK! OHOK! Yang benar saja??!!" tanya Toni dengan kaget.
"Yah bereskan barang-barang, kita akan berangkat ke bandara pukul 09.00, dan jam 10.00 naik pesawat, Andra sudah mempersiapkan tiketnya" jelas Nera sambil membereskan kopernya.
"Ya! kalau begitu, kita hubungi Randi dan Rahmat!" kata Toni sambil meraih wireless earpiece miliknya.
Bzzz! Bzzt!
"Gawat! tidak berfungsi! biar kucoba lagi!" kata Toni.
"Iya! coba lagi! aku akan menghubungi Vanora!" jawab Nera.
"Baik!" jawab Toni.
Tut! Tut! Tut! Trek!
"Halo Nera?" tanya Vanora.
"Van! cepat kembali! 'mereka' akan membuat masalah di menara Enforcer!, kita disuruh cepat kembali untuk menghentikan mereka!" Seru Nera.
"Begitu? baik! aku akan berangkat segera!" jawab Vanora.
"Terimakasih! kita bertemu di titik pertemuan yang sudah ditentukan!" kata Nera.
"Ya!"
Tit!
Ditempat Randi....
"Hah? earpiece ku ada yang telepon?" tanya Randi.
"Halo?"
"Halo Ran... Eh? ketua!" ucap Toni.
"KENAPA NGGA JAWAB DARI TADI????!!!! " Teriak Nera sampai menusuk telinga Randi, rupanya Nera mengambil Earpiece Toni untuk berbicara.
"Ma... maaf Ner, tadi di kereta" kata Randi.
"Kita disuruh ke Helvetia sekarang! Mereka mau bergerak! kita harus mencegah Vian dan Amanda untuk ke Menara Enforcer!" kata Nera.
"Me... mereka mau ke pameran itu untuk cermin? bagaimana bisa? di situ banyak orang!!" Kata Rahmat yang ikut bicara.
"Yang penting cepat kembali! aku dan Toni sedang dalam perjalanan ke bandara!" kata Nera.
"Ya! kita sudah tentukan dimana bukan tempat bertemunya?" tanya Randi.
..._______________...
" Vian! sudah kita tentukan, kita akan pergi ke...." ucap Amanda disambungkan oleh yang lainnya secara bersamaan.
...______________...
"Menara Enforcer" ucap Nera, Toni, dan semuanya secara bersamaan meski semua dikota yang berbeda.
Sementara itu.....
"Kak Roy, apa tidak apa-apa jika kita akan mengambil cermin itu?" tanya Peter sambil mengemudikan mobil.
"Bagaimana pun juga, aku ingin melihat apa 'mereka' juga akan bergerak untuk menghentikan kita atau tidak" ucap Roy sambil mengisap Rokoknya.
"Hehe, benar juga kak, kita akan bersiap pukul 20.00 malam nanti" kata Peter.
Pukul 19.23....
"Hei! kami sudah sampai!" kata Nera yang dari bandara langsung ke menara Enforcer.
"Hei! Nera!" panggil Vanora.
"Kau sudah sampai Van?" tanya Nera.
"Kau lihat lah aku disini pasti sudah! Vian tidak bisa dihubungi, aku rasa organisasi itu sudah memutus hubungan komunikasi kita dengannya, karena dia salah satu dari mereka" kata Vanora.
"Bagaimana pun juga, sepertinya kita harus mencegat mereka disini" Kata Nera.
"Itu Mereka!" tunjuk Toni.
Amanda dan Vian memakai pakaian hangat karena ini akan turun salju.
"Vian, bagaimana bajuku?" tanya Amanda.
"Hm...Sa... sangat Cantik" kata Vian dengan malu-malu.
"Hah? aku kan mau tanya soal bajuku ada yang kurang ngga? karena ini kan turun salju?" kata Amanda.
"Eh? hahaha, aku hanya ngawur!" kata Vian dengan gugup.
"Oh begitu baiklah tidak apa, kenapa kamu hanya pakai syal dan baju tipis?" tanya Amanda.
"Aku kepanasan" kata Vian.
"Oh, begitu dasar ntar ke dinginan hayo?" tanya Amanda.
"Ngga apa-apa" kata Vian.
"Hahaha, kamu ini lucu ya" kata Amanda.
"Hm, kamu tetap seperti SMA dulu ya Amanda" batin Vian dengan tersenyum.
"Vian, kamu mirip Erlan" batin Amanda.
"Kenapa kamu pakai kacamata?" tanya Amanda.
"Oh? kamu mau aku lepas kacamatanya?" tanya Vian.
" Tidak, hanya bertanya " kata Amanda.
"Aku sudah pernah bilang kan? kalau kau mengingatkan ku pada orang yang memberikan dasi dan kacamata ini padaku" kata Vian.
"Oh, begitu ya" kata Amanda.
Dari kejauhan.....
"Tu dua orang lagi kencan atau mau liat pameran saja? mana mesra lagi" kata Randi yang tiba-tiba muncul.
"WAAAH! Kamu! kenapa tiba-tiba muncul Dobul!" Kata Vanora.
"Hah? Dobul? apa itu?" tanya Nera.
"Dokter Cabul!" Jawab Vanora.
"Eh! ngomong-ngomong mereka berdua lumayan cocok" kata Nera.
"Nggak!" ucap Randi.
"Cih! sekarang sudah pukul 19.45, Vandro kemana?" tanya Rahmat.
"Ssstt! gawat! Peter lagi disana!" kata Toni.
"Loh?! Vian dan Amanda dimana?!" kata Vanora.
"Hei! Mereka di Lift kaca itu!" kata Vandro yang baru datang.
"Ya sudah! ayo kita ke atas! tapi hati-hati! tetap waspada!" kata Toni.
Semua anggota Rosement memakai masker agar tidak terlihat oleh 'mereka', sesampainya Amanda dan Vian diatas.....
"Apa-apaan ini?! kenapa perasaanku tidak enak? seperti... akan ada sesuatu yang terjadi tapi itu bukan hal yang baik?" batin Vian.
"Ada apa ini?! perasaan ini sama saat waktu 3 tahun yang lalu! apa mereka akan melakukan sesuatu?! Dadaku terasa sangat sesak, apa karena asma ya?" batin Amanda sambil memakai inhaler.
"Vian, pakai masker yuk! udaranya agak dingin" kata Amanda sambil memakai masker.
"Ya, baiklah" jawab Vian.
Ditempat Pak Andi....
"Nak Andra menyuruhku untuk tetap tinggal disini, semoga 'mereka' tidak mencelakai Nak Amanda dan yang lainnya" batin Pak Andi.
Lanjut ke Tim Vandro dan yang lainnya....
"Capek! kalau bukan karena Lift di gedung Enforcer lagi penuh, ngga mau dah aku naik tangga!! malah make up ku hilang!" keluh Vanora sambil membuka tas make up nya.
"Jangan Make up mulu!! Ayo kita cepet naik lagi! tinggal 1 lantai lagi!" kata Randi.
"Harus cepet ayo" kata Toni.
"Gimana Ran? sudah bisa hubungi Amanda sama Vian?" tanya Nera yang melihat Randi memegang Ponsel.
"Duh, Vian hpnya ngga bisa dihubungi, Amanda HP nya juga ngga bisa" kata Randi.
"Sepertinya, mereka sengaja membajak semua kontak dan HP Vian agar tidak bisa dihubungi, kemungkinan besar HP yang sering dikontak Vian itu yang Di hack agar kita tidak bisa mengganggu rencana mereka, jadi firasat ku mengatakan kalau HP Amanda juga terkena Bajak tanpa sengaja dan dugaan mereka" Jelas Vandro.
"Kalau begitu bahaya! tumben banget si Vian ngga waspada" ucap Vanora.
"Kayaknya selain untuk mencuri cermin, mereka juga ingin menguji kita, ayo! susun rencana dulu!" usul Rahmat.
"Alasan mereka ingin mengambil cermin itu adalah, karena mereka juga mengetahui, kalau cermin itu mempunyai teknologi tinggi yang bisa...... "
Di puncak gedung menara.....
"Waaah! indahnya! beruntung sekali kita bisa datang ya Vian?" tanya Amanda dengan senang.
"Yah, kita tidak tahu jika mungkin hanya sekali seumur hidup bisa melihatnya" kata Vian dengan melipat tangan di dadanya.
"Hei! itu cerminnya!" tunjuk Amanda.
Cermin yang sangat indah dan sangat mahal, yang dibuat dengan anti peluru dan tahan Api itu sudah di letakkan dan dipamerkan.
"Aku bahkan ingin sekali melihatnya dengan orang yang kusuka" ucap Amanda dengan pelan tapi masih bisa didengar Vian.
"Kau...andai bisa menyadarinya kalau bukan karena mereka, aku pasti tak akan meninggalkanmu yang sudah selama 5 tahun kau menunggu" batin Vian.
"Apa aku menyalakan earpiece saja ya? sepertinya Roy mulai bergerak" pikir Vian sambil memakai Earpiecenya.
Tiba-tiba.....
DOORRR!!! Suara tembakan yang membuat kaget semua orang termasuk para anggota Rosement.
"HAH!? JA.... JANGAN BILANG...." Seru Vandro, Vanora, Randi, Rahmat, Nera dan Toni secara bersamaan.
"Ya ampun! ini bahkan lebih cepat daripada yang kuduga!! aku harus bisa mengamankan Amanda, jika tidak mereka akan tahu kalau Amanda berhubungan dengan anggota organisasi yang sudah tiada itu mereka pasti akan berusaha mendapatkan Amanda!" batin Vian.
"Su.... suara tembakan apa tadi!?" tanya Amanda dengan kaget.
BRAK! Akhirnya mereka mendobrak pintu dan langsung berpencar mencari Amanda dan Vian dan saling mengabari lewat earpiece.
"WAAAA!" Kerusuhan orang-orang yang berebutan keluar karena suara tembakan tadi membuat mereka susah bergerak.
Pip!
"Roy, aku sudah selesai perlu yang mana?" tanya Astoria.
"Bagus, kalau kau Jasson?" tanya Roy.
"Yah, begitulah aku akan memasang Bom diujung penyangga yang berpengaruh akan meruntuhkan menara berikut juga gedungnya" kata Jasson yang berdiri di dekat tangga.
"Kalau Hawk bagaimana Kak?" tanya Peter.
"Hawk akan jadi cadangan nantinya dan sedang diawasi Rose" jelas Roy.
"Albert bersiaplah, kau akan berakhir sebentar lagi" ucap Roy dengan tersenyum tajam.
Sementara itu Vandro dan Vanora...
"Ssstt!! Vandro! lihat! mereka juga menaruh Bom!" kata Vanora.
"Gawat, mereka juga menaruh pemancar yang jika bom itu mendapatkan sinyal pemancar, maka akan meledak! Dan disini memiliki waktu 60 menit" kata Vandro.
"Pemancar seperti apa memangnya?" tanya Vanora.
"Pemancar seperti kalau kita menyalakan HP dengan tujuan ingin berkomunikasi, maka ia akan langsung meledak! itu untuk mengurung kita semua disini! tapi tidak untuk alat komunikasi seperti earpiece" jawab Vandro sambil memeriksa Bom itu.
"Kalau begitu berikan HP mu Vandro, kita akan mematikannya agar tidak berbahaya sebelumnya pakai dulu masker, aku akan mengabari mereka lewat earpiece yang akan menghubungkan para anggota Rosement" kata Vanora.
"Ya, amankan dulu" jawab Vandro sambil memberikan hpnya kepada Vanora.
"Bagus sekali kalian, sudah mulai bertindak ya?" tanya Seseorang.
"ROSE!" Kata Vanora dengan geram.
"Wah, sayangnya aku akan menyalakan HP ku" kata Rose yang hampir menekan tombol telepon.
"TIDAK! JANGAN!" Seru Vandro dan Vanora.
DOR! Suara tembakan lain dari arah yang berbeda menembak sedikit tangan Rose, tapi Hpnya tidak selamat.
KRAK! HP nya Retak dan pecah berat karena jatuh dan tertancap peluru.
"Teman-teman!!!" Teriak Randi sambil berlari.
"Eits! ternyata ketemu lagi sama master dokter" kata Rose yang menghadang Randi sambil dengan santai mengambil saputangannya dan menyeka darah yang keluar dari jarinya.
"Heh ya, ketemu juga dengan Artis kecantikan bermuka dua, mau apa kau dengan teman-temanmu!?" tanya Randi sambil menodongkan Pistol.
Randi dan Rose terus saja bertatapan serius, sementara itu Vandro dan Vanora berada dibelakang Rose.
"Kenapa? kau menatapku seperti itu?" tanya Rose.
"Heh, memangnya kenapa aku harus menatapmu dengan tatapan Akrab? mau apa kau dengan teman-temanmu!?" tanya Randi dengan serius.
"Santailah sedikit, bagaimana jika kita menikmatinya dengan melihat pemandangan kembang api?" tanya Rose dengan melihat jendela besar gedung yang terlihat kembang api.
DOR! PRANGG! Peluru meleset ke samping Rose hingga terkena kaca yang langsung pecah dan baju Rose sedikit Robek, tapi ia tidak terluka.
"Kyaaa! Randi!" kata Vanora dengan kaget sambil memeluk Vandro.
"Wah, kau masih punya senjata?" tanya Rose.
"Kau harusnya berhati-hati!" kata Randi.
"Sekarang saatnya sebentar lagi kau akan..... Ukh!!!!" Tiba-tiba Randi merasa kesakitan.
"RANDIIII!!!" Teriak Vandro dan Vanora melihat Randi tertembak di sebelah Perut kanannya.
"Hm.... Thank you Astoria" ucap Rose sambil menatap Astoria yang berdiri di atas lemari tinggi.
"Untung saja tadi kubawa Peredam suara untuk berjaga-jaga, Kalian semua jangan bergerak, kalian ada dalam jangkauan tembak" ucap Astoria.
"Aku serahkan urusan disini padamu Astoria, aku harus mendapatkan Albert" kata Rose dengan berlari pergi.
"Cih! kalau tidak ada target disini tidak mungkin aku menurutinya" kata Astoria.
"Sekarang, siapa dulu yang akan bertemu Tuhan yang Maha Esa?" tanya Astoria dengan sombong.
"Ga... gawat! senjata itu.... UZI!! " batin Vandro melihat senjata besar itu.
Tempat Nera dan Toni.....
"Cepat Ton! kita harus menemukan yang lainnya!" kata Nera sambil berlari.
"Aku tak menemukan apapun!" kata Toni.
Tiba-tiba....
DORR!!!!
"AWAS TON!!!" Teriak Nera sambil mendorong Toni dan dirinya menyingkir dari peluru.
Bruk! Toni dan dirinya jatuh karena menghindari Peluru.
"Ke... ketua!!??" tanya Toni sambil membalikkan tubuh Nera.
"A... aku tidak apa-apa Ton, siapa yang menembak!?" tanya Nera yang dibantu berdiri oleh Toni.
Plok! Plok! Plok! Suara tepukan tangan yang angkuh di depan mereka yang berjarak 15 meter.
"ROY!!" Geram Nera.
"PETER!!!" Teriak Toni dengan tatapan tajam.
"Kenapa? Sudah lama kita tidak bertemu bukan, Nera?" tanya Roy.
"Halo saingan" kata Peter menatap Toni.
"Apa yang kalian inginkan?" tanya Nera.
"Yah, sudah jelas bukan? aku dapat perintah kalau harus membawa Albert kembali, dan katanya ia juga kenal dengan anak angkat 'Cecillia' bukan begitu?" tanya Roy.
(Agar tidak bingung siapa Cecillia, silahkan baca Novel The story of Amanda's student).
"Bagaimana ia bisa tahu kalau Vian ada di Menara Enforcer!? dan siapa memangnya Cecillia dan anak angkatnya!?" batin Nera dan Toni bersamaan.
"Hei, cepat jawab" kata Peter.
"Sabarlah Peter, sepertinya mereka ini belum puas-puas juga ya" kata Roy.
"Bagaimana sekarang!?" tanya Nera.
Kondisi tempat Amanda dan Vian....
"AMANDA! VIAN!" Teriak Rahmat sambil berlari mendekati mereka.
"Kak Rahmat!" kata Amanda.
"Rahmat!? kok bisa disini?" tanya Vian.
"Nanti dulu bicaranya! 'mereka' sedang bergerak! kau dan Amanda cepatlah sembunyi!" Perintah Rahmat.
"Tapi!!!.... Eh?" Vian tiba-tiba sadar kalau earpiece dalam mode jaringan.
"Teman-teman!!!! tolong, Randi tertembak!!" kata Vanora.
"Apa?!!!" Kata Rahmat dan Vian secara bersamaan.
"Ba.... bagaimana bisa kak?!!" kata Amanda yang membuat Rahmat dan Vian kaget.
"Ga.... gawat! Amanda memakai earpiece juga?! tidak kelihatan karena ia pakai kerudung dan lapisan luar kerudung" batin Rahmat.
"Ja.... jadi ini barang yang diberikan Vanora kepada Amanda" batik Vian.
Flashback sebelum Vanora berangkat keluar kota.....
Dikamar Vanora.....
"Maaf ya Amanda, kamu jadi ikut bantu" kata Vanora.
"Ngga apa-apa kok Kak, aku juga lagi senggang" kata Amanda.
"Oh ya, sebagai permintaan maaf, ini aku kasih, dipakai disaat saat yang bagus ya" kata Vanora.
"Mmm, Ini Earpiece yang buat di telinga itu ya?" tanya Amanda.
"Yaps, bagaimana? suka?" tanya Vanora.
"Makasih banyak Kak" kata Amanda dengan senang.
Flashback Off
"Ya sudah, kamu dan Amanda pergi! Sekarang disini kami yang urus!" kata Rahmat.
"Biar aku yang urusi dia!" Amanda teringat ucapan.
"Amanda ayo!" kata Vian sambil menggenggam lengan Amanda dan membawanya pergi.
"Jangan lari-lari Vian!" kata Amanda yang ikut berlari.
Tiba-tiba.....
DORRR! Suara Pistol kembali berbunyi.
"Wah, ketemu lagi ya sama Master Koki?" tanya Rose setelah membunyikan pistolnya.
"Rose.... " gumam Rahmat.
"Kenapa?" tanya Rose.
"Memangnya apa lagi yang kau rencanakan? sayangnya kami semua sudah mengurus kalian" kata Rahmat dengan tersenyum.
"Oh begitukah? coba lihat baik-baik ini" kata Rose sambil mengeluarkan benda sebesar Koin.
Klang! siing! ternyata rekaman hologram langsung!.
"Lihat semua rekaman yang ada di dalam Cip itu Chef, bagaimana?" tanya Rose dengan angkuh.
Nera dan Toni tengah sulit menghadapi Roy dan Peter.
Randi, Vandro, dan Vanora tidak bisa apa-apa karena dalam jangkauan tembak.
"Te... Teman-teman" gumam Rahmat.
"Sayangnya dokter itu juga sudah terkena tembakan rupanya" kata Rose.
"Kurang ajar, BERANI-BERANINYA KAU!!!" teriak Rahmat dengan marah.
"Sekarang, giliranmu dan Albert" kata Rose dengan menodongkan Pistol.
"Gawat!! " batin Rahmat.
BRUK! DORRR!!! Rahmat terjatuh karena didorong oleh Vian?.
"Vi.... Vian!!?? kenapa!?" tanya Rahmat.
Sebelumnya....
Drap! Drap! Drap!
"Kenapa? kita lari!? bukannya kita harus menolong mereka!?" tanya Amanda.
"Akan berbahaya jika kita nanti tertembak, maka kita akan dalam masalah besar" kata Vian.
"Tapi, kita harus melakukan sesuatu" kata Amanda.
"Kalau begitu, tunggu disini akan ku urus mereka" Kata Vian sambil berlari.
"Vi.... Vian!!! jangan!" kata Amanda sambil mencegah namun sia-sia, Vian sudah berlari jauh.
"Pe.... perasaan apa ini? kenapa ini perasaan ini sama seperti Erlan pergi meninggalkanku dulu" batin Amanda.
Diluar Gedung.....
"Apakah terjadi sesuatu!?? suara tembakan beberapa kali terdengar" kata Polisi.
"Kita akan masuk melewati jalur lain Pak!" kata Petugas yang lain.
"Ya! cari yang lainnya!" kata Polisi itu.
"Siap!" kata Petugas itu dengan pergi melaksanakan perintah.
Lanjut ke Vandro dan Vanora...
"Astoria, kau jangan macam-macam" kata Vanora.
"Memangnya kenapa? aku harus mencegat kalian agar tidak mengganggu pekerjaan kami, jadi diam saja" kata Astoria dengan santai.
DORRRR.
"Kyaaa!!!!" teriak Vanora.
"Ha? siapa? aku dan Vanora sama sekali tidak kenapa-kenapa?" batin Vandro dengan bingung.
BRUK!
"Ah! Kakiku tertembak! siapa? SIAPA YANG MELAKUKANNYA!!??" tanya Astoria yang jatuh dari atas lemari karena kakinya tertembak.
"Aku! yang melakukannya, kenapa?" tanya seseorang yang ternyata adalah Amanda, tapi ia memakai masker hitam hingga wajahnya tidak kelihatan.
"Kau! akan membayarnya!" kata Astoria dengan geram.
"Kau jangan bergerak! Uzi milikmu ada ditanganku, kalau kau macam-macam kepada mereka berdua, berikutnya kepalamu akan ku tembak" kata Amanda menodongkan Pistol.
"Amanda, tahu cara menggunakan pistol!?" batin Vandro.
"Aku, harus berusaha agar wajahku tidak terlihat, aku yakin Pak Vandro dan Kak Vanora tahu kalau ini aku" batin Amanda.
"Baik, disini kalian berdua saja yang urus, aku akan ketempat lain" kata Amanda sambil melemparkan Uzi itu ke Vandro dan pergi.
"Ayo Vanora, kita urus" kata Vandro dengan pelan.
Sementara itu, di tempat Rahmat berada....
"Wah, wah, wah Albert, kau datang? aku sama sekali tidak percaya" kata Rose kepada Vian.
"Bahkan kau datang kesini, untuk mati?" tanya Rose.
"Kau juga sudah menyia-nyiakan rencana teman-temanmu" kata Rose lagi.
"Yah, aku datang juga bukan hanya untuk mati, tapi untuk mengakhiri semua ini" Kata Vian sambil melepas kacamatanya.
"Huh, seharusnya kau salahkan saja orang tua mu, yang mewarisi semua penelitian dan juga urusan organisasi padamu" ucap Rose.
"Ya, kau boleh membunuhku, tapi jangan membahayakan nyawa teman-temanku!" kata Vian.
"Yah baiklah selain master koki ini, yang lainnya akan kubiarkan hidup, tapi.... Kaulah yang akan mati duluan, ALBERT!" kata Rose sambil menarik pelatuk Pistol.
Tiba-tiba....
Drap! Drap! Drap! BRUK! Vian terjatuh dan tubuhnya tertindih orang yang mendorongnya karena berusaha melindungi Vian agar tidak tertembak.
"Mu.... mustahil!!! kenapa?" batin Rose melihat hal itu.
"Ja... Jangan-jangan ia tidak bersembunyi!!??" kaget Rahmat.
Ternyata Amanda mendorong dirinya dan Vian jatuh ke lantai, dan Amanda ingin melindungi Vian hingga penutup wajahnya lepas.
"Ga.... Gadis itu Kan!!!??" batin Rose dengan kaget.
"Minggir dari Pemuda berambut hitam itu!! kalau kau tidak mau mati" kata Rose.
"A... apa yang kau lakukan?" tanya Vian kepada Amanda yang masih memeluk kepalanya.
"Tunggu, jangan bergerak! aku sudah memanggil para polisi!" kata Amanda.
"Cepat! minggir kalau tidak..." kata Rose.
"Bertahan lah sekali lagi, Aku mohon untuk ini!!!" Bisik Amanda tapi sangat memelas.
"Tidak! " batin Vian sambil memikirkan hal yang tidak baik.
"MINGGIR!! MALAIKAT!!" Teriak Rose.
DORR!.
"Berhenti! kau berada dalam jarak tembak Rose!" kata Rahmat yang kakinya sebelumnya dibuat lumpuh oleh Rose dengan pistol.
"Letakkan Pistol itu kalau tidak, setelah lenganmu, kepalamu yang akan ku tembak!!" kata Rahmat dengan memegang pistol.
Ctrek!
"Bu.... bunyi Pompa?! Uzi? atau Shot Gun? gawat, dari belakang lorong! sepertinya lebih dari satu orang!" batin Rahmat yang tidak bisa banyak bergerak lagi karena kakinya lumayan banyak mengeluarkan darah.
"Wah Roy, Peter, Astoria, Hawk, dan Jasson? kalian cepat juga, mari kita singkirkan master Koki ini dari dua jarak" kata Rose sambil tersenyum.
"Hah!!?? kenapa mereka!!??" kaget Rose melihat hal ini.
Sebelumnya....
"Hah, Hah, Hah, capek, asmaku, seperti, hah, nya akan kambuh!" kata Amanda sambil meraih Obat berbentuk kapsul.
"Ibu bilang, jika minum obat ini, penyakit yang menyangkut pernapasan seperti Asma bisa tidak kambuh selama waktu kurang lebih 12 jam, meski kita berlari, atau yang membuat kita kecapean, tapi reaksinya akan habis dalam sekejap jika rasa capek, jantung berdebar, dan takut mencampur aduk jadi satu" kata Amanda sambil meminumnya.
"Wah, langsung merasa lebih baik" batin Amanda.
Drap! Drap! Drap!
"Saat aku dirumah tadi, aku membaca beberapa daftar di laboratorium ibu, dan menemukan beberapa daftar orang yang terlibat, diantaranya Bercodename Rose, yang ku tahu tentang ia, ia adalah Aktris besar legendaris yang lulusan akademi dunia keaktrisan dan kemiliteran, ia juga cukup dekat dengan ibu, dan sangatlah Ahli dalam menyamar dan mengumpulkan informasi, meski ia tak sering diberi perintah" batin Amanda sambil berlari.
"Kalau tidak salah, nama artis itu adalah....."
Flashback off.
"Laura Wind? jadi nama beberapa teman-teman mu yang lainnya itu Astoria, Hawk, dan Jasson? kelompok pedagang spesialis senjata untuk Uzi, Shot gun, dan Pistol" kata Seseorang yaitu Vanora!!.
"Va... Vanora!?" kaget Rose melihat Vanora berdiri.
"Dan juga untuk yang lainnya mereka sepertinya lari mirip singa kehilangan induknya" kata Vandro sambil menggendong Randi yang luka tembaknya sudah di tutup agar bisa bertahan.
"Apa!?" tanya Rose seakan tidak percaya.
"Sepertinya juga Nera dan Toni belum selesai menangani Roy dan Peter" kata Vanora.
"Dan untuk Artis yang dulunya cantik sepertimu itu pantas mendapat gelar bermuka dua, tapi sekarang yang ada hanyalah wajah cantik yang sudah keriput" kata Vanora yang menghentikan perkataannya karena Rose akan menembak.
DOR!! Peluru tepat mengenai Rose.
"Ukh!"
"Jangan Vanora!! jangan bunuh dia!" kata Rahmat.
"Jangan khawatir, dilihat dari gerakannya ketahuan ia memakai jaket anti peluru, tapi dua sampai empat tulang rusuknya patah, lihatlah, wajahnya yang robek itu? sudah kuduga itu wajah aslinya" kata Vanora lagi sambil memperbaiki Shot gun.
"Heh!! kalian pikir bisa bertindak begitu saja!? dengan ponsel ini, waktu Bom yang harusnya masih 30 menit lagi, akan terkuras hingga menjadi tinggal 5 menit lagi!!!" kata Rose sambil menyalakan Ponselnya.
"Apa kau bilang!?" kata Vian.
"Dan kau Albert! kau akan ku incar lain waktu nanti! berterimakasih lah pada gadis Angel itu!! karena perbuatan yang pernah dilakukan gadis itu dulu, aku tak akan pernah membiarkan siapapun meski organisasiku sendiri merenggut nyawanya!! ingat itu! jadi, jaga dia baik-baik!!" kata Rose sambil memecahkan kaca dan turun dengan Parasut ke tempat para anggota organisasi itu berkumpul.
"Gawat!!! aku lupa! kalau Amanda!" kata Vian yang langsung membalikkan tubuh Amanda.
"Bagaimana ia Vian?" tanya Vanora.
"Tidak apa-apa, hanya asmanya kambuh, aku sudah bawa masker oksigen yang bisa dibawa, dalam waktu 10 menit ia akan sadar, Vandro!! pergilah untuk menjinakkan Bom itu!!" kata Vian sambil memasangkan Masker Oksigen pada Amanda.
"Ya! Vanora, kutitip Randi disini! Aku sudah memeriksa Bomnya, kita hanya perlu memotong kabel warna merah dan selesai!" kata Vandro.
"Tidak, untuk menjinakkan bom, ketahui dulu akan jenis bom apa itu, karena bom banyak jenisnya" kata Amanda yang langsung sadar dan masih pakai masker oksigen, tapi masih lemas dan kepala serta punggungnya di tegakkan sedikit oleh Vian.
"Amanda!! kau sudah sadar?" tanya Vian.
"Yah, begitulah, untuk bom yang seperti itu, cabut pertama-tama pemicu bom meledak, yaitu kabel warna Biru, lalu warna merah yang fungsinya untuk menyalakan Bom, jika warna merah dulu, akan berbahaya karena meski mati, bom akan tetap menyala dan meledak, karena Warna merah itu memiliki fungsi tingkat tinggi untuk.... Hah! Hah! Hah!" Amanda sudah tidak punya banyak tenaga untuk berbicara.
"Ja, jangan banyak bicara Amanda! Vandro! ingat! kabel warna biru dulu! baru merah!" kata Vanora.
"Ja.... jangan... Hah! sampai memotong atau.... Hah! atau menggerakkan kabel.... Hah! warna.... ukh!! Hitam!! karena itu adalah kabel penyambung yang bisa menyalakan apa saja meski tersenggol sedikit akan meledak!" kata Amanda yang nafasnya sesak dan memegang jantungnya yang agak sakit.
"Baik! aku akan segera kembali! Vanora, usahakan hubungi Nera dan Toni!" kata Vandro sambil berlari.
"Ya Dro! berusahalah! nyawa kami semua ada di tanganmu!" kata Vanora dengan berteriak.
"Amanda hanya kebanyakan bicara, ia juga tadi melindungiku dari Rose, jadi hanya sempat pingsan mungkin karena Asmanya" kata Vian yang melihat Amanda tidur.
"Begitukah? menurutmu, apa maksud dari perkataan Rose tadi?" tanya Vanora.
"Aku... tidak tahu, kau pergi untuk menangani Rahmat dan Randi yang tertembak! hubungi Andra! pakai Walkie talkie saja karena itu tak akan tertangkap pemancar" kata Vian.
"Ya! Akan aku hubungi Andra!" ucap Vanora.
Sementara itu Vandro....
"Sampai! 2 menit untuk menghentikan bom, cukup kan?" tanya Vandro sambil mengeluarkan gunting.
"jangan sampai salah, kabel warna Biru,.... sudah! fyuhh! sekarang kabel warna merah... eh!!??" kaget Vandro.
...______________...
"Halo Andra? tolong, apa bisa kau mengirim bantuan?" tanya Vanora.
"Bzzztt!! kenapa lewat walkie talkie Vanora? aku bahkan dapat banyak laporan dari menara Enforcer dari para Polisi! ada apa!?" tanya Andra.
"Randi dan Rahmat tertembak, kami hanya bisa lewat HT karena tidak menimbulkan sinyal, karena ada Bom yang menangkap pemancar alat komunikasi seperti HP, jadi kami hanya bisa menggunakan HT! Amanda Asmanya kambuh, Vandro sedang menjinakkan Bom, dan kami hanya punya waktu kurang lebih 1 menit lagi sebelum jam 22.00!" jelas Vanora.
"Kalau begitu, aku akan mengirim secepatnya bantuan dari Rosement!" kata Andra dengan tegas.
"Ya!" kata Vanora sambil menutup walkie talkie.
"Bzzzt! Vanora!!!" kata Vandro lewat earpiece.
"Kenapa!?" tanya Vanora yang langsung memperbesar suara agar Vian dan Rahmat bisa mendengarnya.
"Kabel warna merah tertutupi oleh kabel warna Hitam! jika aku menyentuh sedikit saja kabel hitam maka.... kau tahu kan?" tanya Vandro.
"Lalu bagaimana!? waktu tinggal 30 detik lagi!!" kata Vanora.
"Andai Amanda bisa menjelaskannya lagi" kata Vandro.
"jangan ngaco! Amanda lagi sakit!" kata Vanora.
"Ti... tidak apa-apa.... Hah, cabut bagian ujung kabel warna merah saja, jangan sampai menyentuh kabel warna hitam" kata Amanda.
"A... Amanda?" tanya Vanora.
"Su... sudah! tapi.... Kenapa!? kenapa timer nya masih berjalan!?" tanya Vandro dengan panik.
Pip! Pip! suara Bom yang semakin mencekam tinggal 15 detik lagi.
"Apa!?" kaget Vanora dan Vian.
"Ca... cabut kabel hitam sekarang!!! " kata Amanda dengan agak berteriak.
"Ta... tapi" kata Vandro.
5....4....3...2
"SEKARANG!!!!" Seru Amanda.
Ctk! 1.... PIP! off!
"Fyuuh! Bom nya.... sudah dijinakkan" kata Vandro dengan lega.
"Syukurlah" kata Vian dan Vanora.
"Hah.... Alhamdulillah... aku berhasil.... A.... yah... " kata Amanda yang langsung pingsan.
"Amanda!!!" Seru Vanora.
Malam panjang yang seharusnya terisi dengan hal baru sebagai tahun baru, harus berakhir dengan kesakitan, tak apa, aku harus melewati hariku dengan semangat.
Dirumah Sakit...
"Ng.... hah?" kaget Amanda yang melihat ia ada di rumah sakit.
"Ke... kenapa aku?" tanya Amanda yang melihat tangan dan kepalanya di perban.
Ceklek.
"Amanda!!!!" teriak Nina yang datang.
"Lho? Ni... Nina!?" tanya Amanda yang melihat Nina memeluknya.
"Kamu ngga apa-apa Amanda?" tanya seorang wanita.
"Ta... tante Clara, juga disini!? apa... yang terjadi?" tanya Amanda.
"Saat aku melihat berita di TV, aku melihatmu yang langsung dibawa dengan mobil Ambulans, jadi aku khawatir dan langsung kesini" kata Nina.
"Oh begitu" kata Amanda.
"Permisi Nyonya Clara dan Nona muda Nina, akan ada kunjungan Privasi dengan kerabat pasien, jadi dimohon untuk keluar" kata Suster.
"Baik Sus, dah Amanda" kata Nina.
"Ya, Hati-hati dijalan Nina, Tante" kata Amanda.
Blam!
"Ng? bunga? dari siapa?" tanya Amanda melihat ada bunga Zinnia di sampingnya.
Ceklek!
"Lho? Pak Vandro, Kak Vanora? ada Kak Nera dan Kak Toni juga?" tanya Amanda melihat mereka mengunjungi Amanda.
"Iya Amanda, kami ingin melihatmu, bagaimana? masih sakit?" tanya Nera.
"Sudah baikan kok Kak, oh ya kenapa Kepala dan tanganku diperban?" tanya Amanda.
"Semalam setelah diperiksa, saat kamu jatuh mau lindungin Vian, kepalamu kebentur, dan ada memar dan luka yang agak berdarah disekitar kepala, diduga benturannya lumayan keras dan menyebabkan gegar otak" jelas Vanora.
" Oh ya, kalau begitu, ini bunga dari siapa?" tanya Amanda.
"Bunga... Zinnia?" tanya Vandro.
"Bunganya cantik, tapi kami tidak tahu siapa yang melakukannya?" tanya Nera.
"Ah, aku tahu, tadi aku dan Vian bertemu seseorang yang mengaku kenal dengamu, dan ingin memberikan bunga ini untukmu" kata Toni.
"Oh begitu, lalu kenapa Kak Nera dan Kak Toni Seperti agak Luka?" tanya Amanda yang melihat Nera dan Toni ada bekas Perban, dan Plester.
"Oh, tidak apa" kata Toni.
Flashback sebelumnya ditempat Nera dan Toni....
"Kalau begitu, kau harus membuktikannya dengan kekuatanmu!" kata Roy.
"Aku tidak akan pernah menyerahkan Erlan!" kata Nera.
"Kalau begitu mau bagaimana lagi!!" Akhirnya Roy maju dan bertarung dengan Nera.
Begitu pula dengan Toni dan juga Peter. Semuanya punya keahlian bertarung, jadi susah siapa yang akan jatuh duluan.
Beberapa menit setelah bertarung...
"Huh sepertinya sudah dulu!" kata Roy yang langsung mengeluarkan Granat berisi Bom asap.
"Guh! uhuk! bom Asap!" kata Toni.
Setelah beberapa menit kemudian, bom asap menghilang bersama dengan kedua pria itu.
"Cih, mereka melarikan diri! kita harus membantu yang lainnya sekarang! aku mendengar suara tembakan dari arah yang berbeda" kata Nera.
"Ya Ketua!" kata Toni.
Flashback Off.
"Ng, bagaimana keadaan Kak Rahmat, Pak Randi, dan Vian Kak?" tanya Amanda.
"Untuk Rahmat, ia tidak apa-apa hanya luka tembak biasa, tapi kalau Randi sedang menjalani Operasi sejak semalam belum sadar, kalau Vian hanya demam" Jelas Vanora.
"Semoga mereka baik-baik saja" kata Amanda.
"Ya,kita doakan saja. Oh ya Amanda, bagaimana kau bisa menggunakan Pistol?" tanya Vanora.
"Hah!!??" tanya Nera dan Toni dengan kaget.
"Mu... Mustahil! aku aja jangankan tepat sasaran, mau nembak saja susah!" kata Toni.
"Iya Amanda, gimana?" tanya Vandro.
"Ah, aku ngga terlalu ingat sih, Ohok! Ohok!" kata Amanda dengan agak batuk.
"Yasudah, kami keluar dulu, kalau ada apa-apa, telepon saja"kata Vandro.
" Ya"
Blam!
"Bagaimana bisa aku bilang kalau aku belajar menembak bersama ibu" batin Amanda.
"Bunga ini..... hm? ada tulisannya?" tanya Amanda yang langsung membukanya.
...From: Secret...
...To: My Angel...
"Diantara banyaknya orang yang pernah memanggil ku begitu, tapi siapa wanita itu? Rose? kenapa Anggota Rosement semua mengetahui tentang organisasi itu? tanya Amanda.
"Kabarnya Vian gimana ya?" batin Amanda.
Di tempat Pangeran Aliandra...
"Tuan, saya sudah menghubungi beberapa stasiun TV yang memuat berita itu dan sudah menghapus semua yang berhubungan dengan insiden itu sesuai keinginan Anda" Kata Radith.
"Baik, terimakasih laporannya kamu bisa pergi" kata Andra.
"Tentu Tuan, selamat malam Assalamu'alaikum" kata Radith.
"Wa'alaikummussalam" kata Andra.
"Hm, Roy kau" kata Andra dengan dingin.
..._____________...
"Kalian organisasi" kata Amanda dengan geram.
"Kalian akan ku pastikan agar merasakan pembalasan dendam ku yang sebenarnya nanti" Kata Andra dan Amanda secara bersamaan.
Sebelum tamat....
"Randi, gimana keadaanmu?" tanya Rahmat yang masih memakai kursi Roda.
"Yah tidak apa-apa, meski lukanya lumayan dalam, tapi tidak mengenai organ Vital" kata Randi.
"Maaf ya, gara-gara aku tidak memeriksa HP ku dan tidak waspada, Pak Randi dan yang lainnya terluka" Kata Amanda.
"Ini bukan salah siapapun, jadi jangan khawatir" ucap Nera.
"Bagaimana untuk menghibur Pak Randi, akan ku masakkan Kari khas Jepang? tenang saja, ini halal" kata Amanda.
"Wah! Boleh tuh! enak ngga Nda?" tanya Toni.
"Enak Dong! kebetulan Kak Rahmat juga sedang tidak boleh banyak gerak dulu bukan?" kata Amanda.
"Aku... juga mau dong!" kata Randi.
"Lho? tapi menurut yang aku tahu, kalau ada luka di bagian perut atau saat gigi akan di cabut, tidak boleh makan Kari, karena akan menyebabkan iritasi, aku yakin Pak Randi yang dokter pun tahu akan hal itu bukan?" tanya Amanda.
*DEG*
"Hayolo Randi.... Gaboleh makan karii yeye" ledek Vanora.
"Iiihh! kok malah candain aku sih Van? kan aku juga yang nolong kalian saat itu!" kata Randi dengan ngambek.
"Sudah-sudah, untuk Pak Randi akan aku masakkan bubur dengan sayur dan ayam ya" kata Amanda.
"HAH!? Kan aku maunya Kariiii!!" kata Randi dengan merengek.
Hahahaha.