The Unifying Butterfly

The Unifying Butterfly
Chapter 26 : Kita bekerja sama! (2)



"Ryan! kamu akan ditangkap! " kata Amanda.


"Apa!? jadi Mbak Amanda akan melaporkannya? " tanya Ryan.


"Tidak! misalkan, jika pembajakan sistem ini berlangsung, Vian ngga akan pernah sebodoh itu! dia orang yang tangkas, dan juga Pintar! dia pasti sudah punya rencana dalam menghadapi hal ini! apa lagi mereka yang memanfaatkanmu! meskipun mereka diduga tersangka mereka orang yang punya koneksi dan juga bukti yang kuat! sementara kamu!? hanya Anak Magang! makanya mereka gampang mempermainkan dirimu!!! aku akan membelamu dari tuduhan! " Jelas Amanda.


"Jadi, ayo kita hentikan, dan cari bukti yang kuat bahwa kamu ngga bersalah! " kata Amanda sambil berlari.


"Tunggu! kamu mau kemana!? " tanya Ryan.


"Akan keruang rapat untuk menghentikan Rapatnya! " kata Amanda.


"Percuma saja kalau kamu ke ruang Rapat, itu hanya akan memberikan kesempatan besar bagi mereka! Aku punya rencana! ikuti ya!? " tawar Ryan.


"Jadi, aku harus mengambil memory card milik Ryan, dan langsung menyusul kak Riri yang ngambil" gumam Amanda dengan pelan.


Sebelumnya,....


Amanda : "Kak Riri ! "


Riri : "kenapa Nda? "


Setelah dijelaskan Amanda dan Ryan,...


Riri: "Oh gitu, pantesan aja aku ada ngerasa aneh sama si Yudha! ternyata si Ryan itu ngikutin sikap biang keroknya rupanya! "


Amanda : "Yang penting nanti saja kak! ayo kita atur rencana! "


Amanda akan mengambil memory card Ryan, dan Riri akan menjemput ibu Ryan yang ada dirumah. Lalu kita akan bertemu di tempat yang ditentukan dan menghapus Virus yang akan memakan semua data teknologi Vian dengan komputer Ryan, kita tidak akan melakukan ini, jika Vian menyadarinya dan memasang Keamanan anti Virus komputer.


"Cih! kenapa disimpan ditoilet nya segala!!! Ryaaaan!" batin Amanda dengan gerutu.


"Semoga ngga ada yang lihat aku, kan aku pakai tudung" batin Amanda lagi.


Bruk! Amanda bersenggolan seseorang yang tak lain adalah Ali.


"Ng? siapa dia? " tanya Ali.


Drap! Drap! Drap! Amanda berlari dan berlari untuk pergi menemui Ryan.


"Hosh! Hosh! Hosh! Ryan! ini ada! lalu harus bagaimana? " tanya Amanda.


"Sebentar Mbak! aku ke toilet di Lantai ke 4 dulu! mau ambil memory Card yang kusimpan di toilet ini! " jelas Ryan.


Kreeet! suara pintu dibuka.


"Hei! kalau mau pakai Laptop, jangan ditoilet! " kata staff itu.


"Eh? Anda mau pakai? " tanya Ryan.


"Tidak, hanya menitip, cepat ya? soalnya Yudha udah nungguin! " jawab Staff yang ternyata suruhan Yudha.


"Celaka!! aku di Awasi!! " batin Ryan.


Ting! Ting! suara notifikasi di handphone Amanda.


Unknown Number


..."Tolong Aku! ada penjaga lain yang berjaga didepan toilet! aku diawasi! "...


By: Ryan


"Hei! kau!" panggil seseorang dengan memegang bahu Amanda.


Lantas Amanda langsung menyerang laki-laki itu dengan mengunci kaki dan tangannya.


"Siapa kamu!? apa maumu!? seenaknya nyentuh bahu orang! bukan Mahrom! " kata Amanda.


"Hei! Ini aku! " ujar laki-laki itu yang tak lain adalah Ali.


"Hah!!?? Astaghfirullah! Kak Ali! ngapain!? " tanya Amanda dengan melepaskan kunciannya.


"Duh! sakit juga kunciannya, cepet juga kuncianmu ya?, Nda? " tanya Ali.


"Itu nanti saja Kak! aku mau minta tolong! ini penting! " Kata Amanda, ia kenal betul Ali, karena Ali adalah orang yang paling banyak mengetahui informasi dan juga ia dekat dengan si Penghuni Rosement Nomor 9.


"Oh ya? kenapa? " tanya Ali.


"Jika Kak Ali bisa membantuku, aku akan mengakui dengan yakin kalau Kak Ali memang hebat! jika itu yang bisa Kak Ali lakukan! Kak Ali seorang informan kan? " tanya Amanda.


"Wah, sebuah tantangan ya? baiklah, kau mau aku melakukan apa? " tanya Ali dengan menerima tantangan Amanda.


"Aku akan meminta tolong kepada kak Ali, semoga jalan yang aku ambil ini tidak salah! selama No 9 berpihak kepada Presdir, maka Kak Ali juga pasti begitu!! " batin Amanda.


"Baik! Seperti ini kak!" Amanda akhirnya menjelaskan dengan rinci dan singkat apa yang terjadi.


"Ayo! kita ke lantai 4! " ajak Ali.


"Iya kak! " kata Amanda.


"Disini? benar ada staff yang berjaga! " kata Ali.


"Dan staff itu keras! kita ngga mungkin ngelawan dia! " kata Ali lagi.


"Dan, sekarang kita akan memerlukan karate! " jawab Amanda.


"Ka, karate!?? " kaget Ali.


Amanda pun masuk ke situ.


"Kenapa masuk kesini Mbak? ini toilet laki-laki" kata Staff itu.


"Suara Mbak Amanda! " Batin Ryan.


Hiyaaa!!!


"Apa, apa yang dia lakukan? " batin Ryan.


Bruk! gubrak! dalam sekejab staff itu akhirnya pingsan.


"Ryan! keluar ayo! " kata Amanda setelah membuka Pintu.


"Ke, kenapa Staff ini!? " tanya Ryan dengan kaget melihat staff itu babak belur.


"Kita keluar dulu! disitu sudah ada Kak Ali yang bakal bantuin! " ujar Amanda.


"Hoi! Nda! udah selesai? buat staff yang tadi babak belur? " tanya Ali.


"Hah!? jadi, yang bikin staff tadi babak belur? Mbak Amanda yang?- Ryan belum selesai bicara.


" Sudah!! sekarang ayo kita pergi! kita ngga ada waktu lagi! sebentar lagi waktunya aku akan ketemu Kak Riri untuk memory Card ke 3! " kata Amanda.


"Sial! tidak ada waktu lagi! "