The Unifying Butterfly

The Unifying Butterfly
Season 3 Chapter 53 : Segel



Amanda pergi ke ruang kerja Andra karena mendapat kabar kalau Andra akan pulang malam ini sambil mengingat kembali kejadian...


Flashback...


Season 3 Chapter 49...


"A.. Apa maksudnya?" tanya Andra.


"Iya... apakah karena segelnya melemah, lalu akhirnya karena suatu hal Ryu keluar dari segelnya? dan jangan-jangan disitu lah terjadinya 'Tanggal emas'?" tanya Amanda.


"Kakak juga kurang memastikan, tapi... sebenarnya untuk memulihkan kembali segelnya ada dua cara" kata Andra.


"Pertama adalah caranya seorang Terano akan membiarkan dirinya mati bersama Kara yang ada di dalam tubuhnya, sedangkan cara kedua... " Andra memberhentikan kata-katanya.


"Cara kedua?" tanya Amanda.


"Cara kedua adalah, pergi ke lembah Pemulihan dan seorang Terano harus bertarung dengan Kara nya secara ghaib di dalam alam segelnya" ucap seseorang.


Amanda langsung berbalik.


"Ah... anda, Pak Andi?" tanya Andra.


"Ka... Kakek?" tanya Amanda.


"Ya.. saya sedang kesini hanya untuk mengantarkan jadwal besok pagi, karena nak Radith sedang saya suruh tunggu di saung untuk membicarakan sesuatu, tidak apa kan Nak Andra?" tanya Pak Andi.


"Baiklah, tidak apa" kata Andra.


"Tentu.. saya Permisi Nak Andra, Nak Amanda" kata Pak Andi.


"Tentu" kata Amanda dan Andra secara bersamaan.


Blam!


"Begitulah caranya" kata Andra.


"Begitu ya... "


Flashback Off...


Amanda sedang duduk di ruang kerja Andra, sambil memikirkan kejadian sebelumnya sambil menatap ramalan gulungan bulan emas yang di depan meja.


"Aku tidak percaya akan ramalan... biar ku lihat salah satunya" batin Amanda.


-Gulungan bulan gold-


"Tapi... "


Amanda menyentuh salah satu gulungan.


SING!


BRUK!


"Ukh! apa yang terjadi!? saat menyentuh salah satu gulungannya Liontin menekan ku, sakit... Aika bahkan sama sekali tidak menarik ku ke alam bawah segel untuk memberitahu apa yang terjadi" gumam Amanda.


"Apa mungkin itu hanya bisa di buka saat bulan berwarna emas?" tanya Amanda.


"Tapi kak Andra bisa membuka penutup gulungannya... apa maksud nya!?" batin Amanda.


Ceklek!


"Kak Andra... tadi aku berusaha untuk membuka salah satu gulungan yang dirantai di tas usang itu, tapi kalung ku tiba-tiba memanas dan menekan seolah-olah mencegahku untuk membukanya" tutur Amanda.


"Karena itu adalah gulungan yang memang hanya bisa dibuka pada saat bulan berwarna emas, tidak bisa di buka sembarangan karena kamu Terano... lain lagi yang memegangnya itu pemegang segel nya seperti ku, karena aku hanya memegang kendalinya, bukan wadah untuk Kara seperti Terano" Jelas Andra.


"Aku mengerti, jadi... jika itu dibuka maka,... " Amanda menghentikan kata-katanya.


"Ya, Ryu akan keluar dari segelnya" ujar Andra.


"Maaf kak... aku bertindak seenaknya, andai saja tadi aku tetap bersikeras membukanya pasti Ryu sudah menghancurkan Apartemen ini" ujar Amanda.


"Ya... kakak yakin Ryu ingin melindungi mu, meski tidak secara langsung" ujar Andra.


Akhirnya untuk membicarakannya, mereka duduk di kursi saling berhadapan.


"Kak Andra"


"Ada apa?"


"Aku... aku ingin memilih pilihan pertama!" kata Amanda sambil duduk bersimpuh di depan Andra.


"Aku... aku memilih untuk membiarkan diriku mati bersama Ryu" ucap Amanda.


"Eh!? kenapa!?" tanya Andra.


"Jika... jika kejadian 19 tahun yang lalu saat kematian Ayah dan Ibu, banyak sekali memakan korban, akan lebih baik lagi jika aku mengorbankan diriku sendiri, aku tidak ingin kehilangan siapapun apalagi kak Andra, kak Andra sudah menemukanku, memperlakukan ku selayaknya antara kakak dan adik dengan penuh kasih sayang, sedangkan aku!!? aku saja yang bahkan tidak bisa bertemu langsung dengan Ayah dan Ibu ini.. belum bisa membalas jasa budi kak Andra" Jelas Amanda sambil membendung air matanya.


"Tidak apa Ana, justru kaulah yang telah memberikan kebahagiaan untuk kakak" kata Andra sambil meletakkan tangannya di atas tangan Amanda.


"Eh!? benarkah?" tanya Amanda.


"Itu tidak terbilang jumlahnya, saat pada tanggal 20 Januari 19 tahun yang lalu pada pukul 03.00 pagi, tangisan pertamamu, mirip seperti suara terompet malaikat, bagaikan musik terindah yang pernah aku dengar, tapi saat itu... insiden yang tidak diinginkan terjadi, tapi kakak tidak terlalu ingat terjadi dan itu berhubungan dengan kematian kedua orang tua kita, walau begitu kakak bersyukur sekali atas lahirnya dirimu" Jelas Andra sambil berjalan pelan ke beranda.


Amanda mengusap air matanya.


"Setelah itu 2 hari kemudian, saat meninggalkan rumah sakit, langit sudah terbit, tapi bintang-bintang... masih bertebaran di angkasa, bagaikan alam semesta memberikan kehidupan baru untukku, dan pagi hari itu pertama kalinya kakak menggendong mu yang masih bayi, mendengar dan merasakan semua itu... kakak sangat terharu sekali sampai ingin menangis" Jelas Andra sambil menatap langit malam.


Amanda hanya mengikuti kakaknya sambil mendengar semua nya.


"Lalu hari berganti hari, bulan berganti bulan, hingga berlalunya kematian kedua orang tua kita, tahun berganti tahun, kita hidup berdua tanpa orang tua, dan terpisah... tapi sekarang kita sudah bertemu kembali, rasanya saat masa kecil itu tidak terlupakan, bagaikan kenangan yang tidak dapat di buang begitu saja" Jelas Andra.


"Aku... merasa agak bimbang, apakah aku mampu menyelamatkan semua orang tanpa kehilangan satu nyawa pun?" tanya Amanda sambil menghentikan langkahnya.


"Tentu saja kamu bisa, kamu harus percaya pada keyakinan mu, kakak tahu kalau keyakinan dan seluruh sikapmu menuruni Mama, kakak kenal Mama, dia wanita yang benar-benar luar biasa, dia juga baik... Papa kita tidak salah memilihnya sebagai Ibu kandung kita, kau harus percaya pada tekad juga keyakinan mendiang kedua orang tua kita, kakak juga tahu.... Mama adalah wanita biasa yang bukan dari kalangan bangsawan yang tidak terlalu banyak punya bakat menonjol, tapi dia itu sangat istimewa dan selalu ingin membahagiakan orang lain, itulah salah satu sikap istimewa Mama yang menurun pada mu, kau juga pasti akan seperti itu kan?" tanya Andra, sedangkan Amanda hanya mengangguk.


Mereka akhirnya duduk di teras beranda.


"Jadi... jangan takut untuk melakukan sesuatu, kamu pasti bisa lakukan pilihan kedua, kakak dan Pak Andi akan membantumu, saat aku menziarahi di makam kedua orang tua kita... kakak sudah berjanji pada mereka berdua untuk melindungi mu sebagai kewajiban seorang kakak, tidak perlu cemas... kakak yakin masa depan dan apapun rintangan yang ada kau pasti bisa melewatinya, Ana" ujar Andra sambil memegang bahu Amanda.


"Kakak berjanji akan melindungi mu apapun yang terjadi" kata Andra.


"Ah... Ng!" kata Amanda sambil mengangguk sambil tersenyum.


"Kalau begitu... bagaimana jika besok kita latihan lagi?" tanya Andra.


"Boleh! aku pengen sekali nonjok pohon lagi!" kata Amanda.


"Hm.... dia memang benar-benar mirip seperti Mama" batin Andra.


"Baiklah... besok masih banyak pohon tersedia"