The Unifying Butterfly

The Unifying Butterfly
Season 3 Chapter 9 : Pantang menyerah



"Kakak tahu, kamu master karate, sekarang... coba kamu duduk diam di kursi roda... rasakan aliran angin dan dengarkan apa yang akan menantimu" kata Andra.


Amanda melakukan apa yang di katakan Andra.


SING! DUAK! Rupanya ada papan kayu lebar yang akan mengenai Amanda, tapi Amanda langsung meninju kayu itu hingga hancur berkeping-keping.


Sraak!


"Bagus! sekarang coba lempar shuriken ke arah tanda merah di sana.." kata Andra.


Srak! KLAP! lemparan yang bagus, tapi sedikit lagi akan kena sasaran, sekitar 0,5 cm lagi.


"Huh! padahal tinggal sedikit lagi!" kata Amanda.


"Tidak apa... kamu pasti bisa, semangat! kerja keras akan membuahkan hasil, dan itu tidak akan pernah berubah" kata Andra.


"Kita istirahat di batang pohon itu dulu ya" kata Andra.


Akhirnya Andra duduk di batang pohon itu yang memang di sediakan untuk yang sedang berlatih disitu, Amanda sedang duduk di kursi roda dekat dengan Andra.


"Kak Andra... seperti apa Ibu dan Ayah saat menjadi Shinobi?" tanya Amanda.


"Ng... kakak kurang tahu sih, hanya saja... mereka Shinobi yang hebat, murid dari Pak Andi, yang kakak tahu, Mama adalah orang yang hebat.. karena menahan dan memegang segel seorang kara itu membutuhkan tenaga yang besarnya luar biasa, apa lagi Ryu... karena Ryu sebagai salah satu kara... dia yang paling kuat dan paling berbahaya, bahkan seorang lelaki yang menjadi Terano nya akan tiada karena memegang segel Ryu.. Mama adalah orang yang kuat, kamu menuruninya" kata Andra sambil membelai kepala Amanda.


"Begitu... ya? aku ingin bertemu Ibu dan Ayah, meski sekali... buku apa sebenarnya itu?" tanya Amanda.


"Buku itu... adalah buku ruang dan waktu, buku mantra yang di gunakan para Kara untuk teleportasi ke jaman apa saja berdasarkan cerita yang di tulis... yang bisa menggunakannya hanyalah para kara, Terano, dan orang yang memiliki tenaga dan Mana yang besar untuk membuka portal nya" Jelas Andra.


"Lalu... kenapa Kak Andra bisa ikut masuk waktu itu?" tanya Amanda.


"Karena, kakak memegang kendali formula segel Ryu.. itu yang menyebabkan kakak bisa masuk, tapi kakak hanya bisa masuk jika kamu yang masuk duluan" kata Andra lagi.


"Begitu... jadi, para kara bisa masuk dan dapat berinteraksi dengan siapa saja yang terdapat dalam buku.. tapi para Terano tidak bisa ya? karena waktu itu, kita hanya bisa melihat apa yang terjadi" ujar Amanda.


"Ng... itu kakak kurang tahu sih, sebenarnya bisa saja... tapi mungkin ada sesuatu yang melarang kita berinteraksi dengan siapa saja yang ada dalam alur cerita di buku itu" kata Andra.


"Aku membaca beberapa cerita di buku itu... tapi, tulisannya nama asli Ryu adalah Fujiwara Aika, dia Ratu Shinobi... maksudnya apa kak? julukan nya sebagai Ratu Shinobi itu apa?" tanya Amanda.


"E.. Eh? I... itu" Andra memotong kata-katanya.


"Apakah aku bisa berbicara dengan Ryu-... " belum selesai Amanda bicara.


"Soal Ryu kita bisa bahas itu kapan-kapan" kata Andra sambil berdiri.


"Kak Andra?" tanya Amanda melihat tingkah kakaknya.


"Serius?" tanya Amanda.


"Ya... di alam bawah sadar mu, kakak ingat kalau Mama dulu sering diam karena berbicara dengan Ryu, saat itu kakak masih kecil dan tidak terlalu mengerti, saat kakak bertanya kenapa Mama diam setiap saat, Mama hanya bilang 'Mama lagi ngomong sama Ratu' begitu katanya sambil terkikik, benar-benar aneh" kata Andra.


"Hihi... Kak Andra kayaknya punya situasi komedi bersama ibu dulu ya?" tanya Amanda sambil tersenyum.


"Eh... Pft... begitulah, hari ini selesai dulu latihannya" kata Andra agak tertawa.


"Ya, aku juga ingat kalau sore nanti akan menjenguk kak Toni di rumah sakit bersama Kak Nera dan Kak Vanora, kak Andra" kata Amanda.


"Baiklah... tapi hati-hati di jalan ok? apalagi dengan kondisimu yang masih pakai kursi roda" kata Andra.


"わかりました"


Wakarimashita


( Mengerti)


kata Amanda.


Sore harinya...


"Wah.. akhirnya bakalan jenguk Toni" kata Nera.


"Iya bener" kata Vanora.


"Udah jangan ribut" kata Radith yang ikut sambil mendorong kursi roda Amanda.


"Ng... Kak Nera! aku ngga yakin bakalan bawa ini deh" kata Amanda.


"Wah.. setahuku Toni mana suka bunga, tapi demen banget ama cerita horor yang ada kembang-kembangnya gitu deh" kata Nera.


"Ih! Kak Nera sendiri yang bilang bawa apa aja boleh" kata Amanda sambil membawa sebuket kecil bunga.


"Dasar si Nera, kenapa milih bunga bakung!? ini tuh melambangkan kematian! bukan jenguk orang sakit!" kata Vanora.


"Lah!? kenapa ngga bilang dari tadi!?" tanya Nera.


"Sudahlah, lagipula kata Kak Nera, kak Toni kan ngga suka bunga.. jadi mungkin ngga tahu soal lambang-lambang bunga seperti kak Vanora yang seorang designer kan?" tanya Amanda.


"Bener juga... ayo" kata Vanora.


"Duh... ini bukan pertama kalinya ketemu Kak Toni sih... tapi kok aku gugup ya....?" batin Amanda.