
"Semuanya,..... sudah berakhir" jawab Vian dengan tertunduk.
"Apa,.... maksudnya Vian!? " tanya Amanda yang memakai kacamatanya yang sama seperti Vian
"Oh iya!! aku bawa bukti-buktinya, ada 1 buah recording, dan 4 buah memory card milik Ryan! " jelas Amanda sambil menyerahkan semua yang ia jelaskan.
Vian langsung mengambilnya dan pergi ke sebuah ruangan tanpa berkata apa-apa.
Sebelumnya,.....
"Wah, ada apa ini? " tanya orang-orang yang terkejut, sedangkan Vian hanya menutup mulut dan sedikit heran.
"Mohon tenang semua nya! ini hanyalah contoh bagaimana peralatan teknologi yang baru ini mengatasinya! " kata Vian.
"Apa!? sejak kapan ia menanamkan akses penghancur virus komputer itu!? " batin Yudha.
"Lihatlah! begini caranya teknologi ini akan menghapus 100% Virus Komputer yang ada disistem maupun disistem Motherboard" jelas Vian sambil menekan beberapa tombol yang mengaktifkan dan dengan secepatnya program itu menghapus virus itu.
"Nah, begitulah caranya untuk menghapus virus ini yang tak perlu waktu lama, hanya perlu waktu 5 detik, paling lama 10 detik" jelas Vian.
Plok! Plok! Plok! suara tepuk tangan dan rasa terkejut para hadirin sekalian menumbuhkan rasa kagum kepada Vian.
" Ah! sejak itu!!!" Yudha tiba-tiba teringat sesuatu.
Sebelum kejadian di Rooftop tangga di AR group....
" Kamu lagi ngapain emang ian? " tanya Yudha.
"Ini, lagi ngecek draft" ujar Vian.
"Yaudah! sana kamu susul Ryan! ntar aku dan Wildan yang bawa Vian ke Rooftop! " bisik Kelly.
"Hoaaam! ngantuk! " ujar Vian yang pura-pura tidak dengar.
Flashback off.
"Disitu!! disitu ia menanamkan perangkat akses penghancur Virus komputer!! " batin Yudha dengan gerutu dan Vian menatapnya dengan senyuman penuh kemenangan.
"Huh, sebaiknya pergi! " kata Yudha sambil membuka pintu.
Ceklek.
"Yudha, bisa ikut saya? " tanya Vandro.
Deg!!
Flashback Off.
"Eh! tunggu! semuanya mau dibawa kemana itu!? " tanya Amanda yang ingin menyusul Vian.
"Amanda! kamu saya cariin tadi! " kata Vandro.
"Hah!? pak Vandro! Pak Vandro!!! Kemana aja!? saya cariin dari tadi!! kemana saja emang!? kenapa dicari ngga ketemu!? sebenarnya, ada insiden yang!-....." ucap Amanda yang langsung menghujani Vandro dengan 1000 pertanyaan.
"PAK VANDRO! bawa saya kesana, saya harus disana! " kata Amanda.
"Kenapa? kamu tidak seharusnya ada disitu! " Tolak Vandro.
"Ryan sudah memegang kata-kata saya untuk membelanya, ia sudah berusaha untuk menghentikan penyabotase yang terjadi! " ujar Amanda.
"Ba, baiklah, mari ikuti saya" kata Vandro.
Diruang Privat ada Pak kurniawan,Vian, Yudha, dan Ryan.
"Jadi, kenapa kamu melakukan begini Ryan? " tanya Pak Kurniawan.
"Bukan saya Pak!! saya disuruh oleh Mas Yudha! " tuduh Ryan.
"Anak ini, berani menunjuk ku!? " batin Yudha dengan perasaan tenang.
"Memang begitu bukan Yud?" tanya Vian.
"Mana mungkin ian! akukan Wakil kamu! lagipula aku udah masuk duluan sebelum kamu bekerja! " kata Yudha.
"Benar kata Yudha" ucap Kurniawan.
"Kalau begitu biar saya saja yang menjelaskannya Pak Kurniawan" Suara yang sangat Familiar bagi mereka, yaitu Presdir AR group, Pangeran Aliandra yang menggunakan kacamata agar wajahnya tidak kelihatan.
"Presdir!? " kaget Kurniawan.
"Jadi, jelaskan Vian" Perintah Presdir.
"Ya! " kata Vian sambil memasukkan Memory card kedalam Laptopnya dan memulai rekaman.
"Mas Yudha yakin!? mau minum obat biusnya? " tanya Ryan di rekaman itu.
"Sedikit saja tidak apa-apa" jawab Yudha.
Tit! Video di Pause oleh Vian.
"Bagaimana? Yudha? Ryan? untuk Yudha, saya tahu kamu bawahan 'beliau' karena saya tahu kamu memegang rekaman ditanganmu! sampaikan pesan saya agar, Jangan bermain-main dengan saya! silahkan temui saya secara langsung! " ucap Presdir.
"Untukmu Ryan, kamu juga terlibat besar, jadi pantas menerima hukuman yang telah ditetapkan" kata Presdir lagi.
"Tidak! saya berusaha membantu! Mas Yudha yang memperbudak saya! jika anda benar-benar tidak percaya, tanyakanlah kepada Mbak Amanda!! dia bersedia jadi saksi saya!! " kata Ryan.
"Adikku? " batin Andra dengan mengerutkan alis.
"Permisi!! " kata Amanda.
"Ada apa ini sebenarnya Vandro?" tanya Presdir yang membuat Amanda kearah layar monitor itu dengan mata terbelalak.
"I, ini.... Pangeran Aliandra!? " batin Amanda.
Akhirnya Presdir menatap mata Amanda begitu pula Amanda.