The Unifying Butterfly

The Unifying Butterfly
Season 2 Chapter 103 : Confession (2)



"Karena... akulah kakak kandungmu" kata Andra.


Push! Amanda menarik tangannya dengan segera begitu mendengar perkataan Andra, sedangkan Andra menatapnya dengan terkejut dengan air matanya yang tumpah.


Amanda menunduk.


"Tuan... anda tadi bicara langsung" kata Radith sambil memberikan sapu tangan pada Andra.


"Tidak apa-apa, ok... sebelum saya menjadi ragu kembali... Amanda juga sudah menunggu lama, akan saya tunjukkan bukti-bukti yang kamu minta" kata Andra sambil mengusap air matanya.


Akhirnya Andra, Pak Andi, Amanda, dan Radith pergi ke bunker bawah tanah kediaman Andra demi keamanan, Amanda memakai kursi roda yang memiliki infus yang bisa di bawa kemana-mana dan di dorong oleh Radith.


DEG! DEG! Jantung Amanda berdebar-debar.


Ruang tamu...


Radith berjaga-jaga dari dalam agar tidak ada yang menguping sekaligus ingin melihat apa yang terjadi.


"Ini... bukti yang kamu minta, foto kita berdua saat masih kecil, panti asuhan dimana kamu di asuh sementara, juga tes DNA yang membuktikan hubungan darah kita, golongan darah kita sama yaitu Rh-null.... ini adalah tes DNA yang saya lakukan dan Randi lakukan, jika kamu memang masih belum percaya, kita bisa melakukan tes kembali hari ini di ruang kesehatan anggota Apartemen" Jelas Andra.


"Fotoku saat masih bayi? panti asuhan dimana aku di tinggalkan seperti yang di ceritakan Tante Dinda? tes DNA golongan darah yang sedarah denganku... Rh-null... Golden Blood!?" batin Amanda.


"Kita berdua saat masih kecil dulu di culik, lalu terpisah, hingga akhirnya saya berusaha menyelidiki semuanya, termasuk menemukan perempuan yang membawamu pergi, ini foto perempuan ini... saya sudah menemukan nya dan meminta keterangan lebih lanjut dari pihak wanita itu, kita di culik saat usiamu sekitar 1,5 tahun" kata Andra lagi menambahkan.


Amanda memajukan kursi roda nya untuk lebih dekat, tapi agak kesulitan menggerakkannya dengan satu tangan.


"Perempuan yang ada di mimpiku... dia nyata!? semuanya... menjadi nyambung, cerita Kak Sembilan.." batin Amanda.


"Bagaimana saya bisa percaya kalau anda adalah kakak saya?" tanya Amanda.


"Kalau memang benar anda adalah kakak saya... "


Tap, Andra menaruh tangannya di punggung tangan Amanda.


PLAK! Amanda menarik tangannya.


BRAK! Amanda meninju meja sampai retak rusak parah, bahkan Radith sampai kaget dalam hati.


"Kakak macam apa sebenarnya anda!!? anda kan bisa saja memberi tahu saya saat di rumah sakit, saat di kantor waktu itu, atau mungkin anda bisa juga menelepon saya! dan anda dengan santainya yang segampang itu saja memberitahu!? anda tidak berpikir kah sudah berapa banyak saya mengorbankan seluruh kepercayaan saya pada anda!?" tanya Amanda lagi dengan marah.


Andra mengambil tangan Amanda.


"Eh? Hah!?"


"Saya memang kakak kurang ajar, yang telah mempermainkan adiknya.. yang sudah lama hilang, jadi kamu bisa membalas saya, agar kamu lega" kata Andra sambil meletakkan telapak tangan Amanda di pipinya, dan perlahan-lahan melepaskannya.


PLAK! Amanda menampar pipi Andra karena tidak terlalu kuat menahan emosi, Pak Andi kaget Amanda bisa melakukan hal seperti itu, sedangkan Andra tidak terlalu kaget hanya terdiam dan tertunduk, karena dia sudah siap untuk menerima semua konsekuensi juga resiko yang akan dia dapatkan.


"Anda pikir... saya tidak akan berani? hanya karena anda yang seorang Raja, sekaligus penguasa di Kerajaan ini yang bisa berbuat sesuka hati!?" tanya Amanda sambil memutar balik kursi rodanya untuk keluar ruangan karena sudah terlalu muak.


Andra berdiri dari tempat duduknya.


"Maafkan saya yang sudah menipumu!" kata Andra, Amanda hanya mengusap air matanya yang terlanjur mengalir deras.


"Tapi di luar juga dalam di keluarga Ameera sedang memiliki kondisi yang tidak baik, juga karena ada kesalahpahaman yang sedang berusaha di sambung kembali, dan saya tidak ingin kamu jadi target yang empuk" kata Andra sambil menggenggam tangan kanan adiknya.


"Lepas! Lepaskan! lepas!" ujar Amanda sambil memberontak, dia tidak bisa memukul dengan tangan kirinya yang masih dalam penyembuhan.


"Anda pikir... apakah anda tidak akan takut!? kalau kita tidak akan bertemu kembali saat insiden geng cakar naga itu!!? kakak macam apa juga yang bahkan tidak menjenguk adiknya sedikit pun bahkan saat di rumah sakit!!?" Seru Amanda.


"Aku sudah menjenguk mu... saat setengah hari kau masuk rumah sakit dalam keadaan banyak keluar darah, aku mendonorkan darahku padamu... juga menjenguk mu... kau yang tidak tahu" batin Andra.


"Saya sudah sering mengalaminya! ketakutan yang saya alami bahkan sampai tidak ada satupun yang bisa saya percayai termasuk kamu, kita berdua adalah saudara, tapi saya dan kamu adalah orang asing karena kita sudah lama terpisah, tapi walau begitu... tidak akan ada yang bisa mengubah kenyataan, kalau di dalam darah kita.. mengalir darah keluarga kerajaan" kata Andra.


"Sekarang saya akan menghargai pilihanmu, kamu di perbolehkan hidup sendiri tanpa harus terikat dengan semua ini tapi saya akan tetap membiayai semua kehidupanmu... pilihan kedua.. ataukah kamu ingin tetap disini dan tinggal bersama saya Kakak kandungmu" kata Andra sambil menunduk.


"He?"