
"Kak Rafa... menolongku, dia duel... 10 menit demi melindungi ku" kata Amanda yang di gendong oleh Radith karena lukanya, juga asma juga sinusitisnya.
( Fireman's carry)
"Baik, akan saya sampaikan" kata Radith.
Semua bantuan, mulai dari interpol, tim penyelamat rahasia yang di pimpin Komandan Arsya, helikopter, Andra juga sudah sampai.
"Mataku kunang-kunang... ada yang mendekat... Kakek dan... " batin Amanda.
"Bagaimana keadaannya?" tanya Andra pada Radith.
"Asmanya kambuh, lengan bagian kiri terkena tembakan, tapi karena diikat dengan kain jadi tidak terlalu banyak darah yang keluar, tapi karena itu dia mendapatkan anemia yang menyebabkan tubuhnya melemah, dan pingsan" kata Radith sambil menjelaskan keadaan Amanda.
"Maafkan aku" kata Andra sambil mengelus pipi adiknya.
"Suara yang samar-samar" batin Amanda.
****
"Ng! Huh? lho!? aku dimana?" tanya Amanda yang sudah berada di bed rumah sakit.
Hari sudah sore.
Rupanya kata perawat yang mengurusku aku sudah berada di rumah sakit dan tidak sadarkan diri selama 4 hari, Alhamdulillah bukan koma.
Tanganku tertembak, dan membutuhkan waktu 2 bulan lebih untuk sembuh, kepalaku yang terkena gegar otak jadi harus di perban, meski begitu aku tetap menggunakan jilbab tetap saja terlihat perban ku. Wajahku yang luka karena pukulan, juga tanganku yang berdarah sudah di perban... badanku yang kurang enak badan.
Akhirnya aku hanya di perbolehkan keluar dengan kursi roda selama sebulan lebih, karena kata dokter, berjalan akan membuatku memperlambat proses penyembuhan luka di seluruh tubuhku.
"Aku mau keluar" batin Amanda sambil menggerakkan kursi rodanya, sambil membawa tongkat infusnya.
Di luar ruangan....
"Andra! tolong dengarkan aku!" kata Vandro yang memaksa Andra untuk bicara.
"Vandro, ini bukan waktunya, istirahatlah" kata Andra.
"Ngga! ini hanya luka biasa! wajahku hanya di pukuli! tidak parah! aku Mohon Andra!" kata Vandro.
"Vandro! sudahlah! jangan memaksa diri!" kata Vanora.
"Andra!!" Seru Vandro.
"Baiklah, ada apa?" tanya Andra.
Amanda mendengarkan saja dari sejauh 10 meter.
"Maafkan aku! Jika saja aku melarang mereka pergi ke restoran Amanda, Vian, Rafa, para staf, semuanya ngga akan terluka parah seperti ini! ini salahku! maafkan aku Andra!" kata Vandro yang membendung air matanya yang tumpah.
"Vandro!" ujar Vanora yang mencoba mencegah Vandro.
"Kau ngga salah Vandro, kau sudah melakukan semua yang kau bisa, ini semua adalah salahku, karena kalian semua adalah tanggung jawabku, kau sama sekali ngga salah, sekarang kembalilah ke kamar, jangan buat adikmu khawatir lebih dari ini" kata Andra.
"Dan kamu Amanda, syukurlah kamu sudah sadar, apa yang kamu lakukan disini? seharusnya istirahat bukan?" tanya Andra yang menyadari keberadaan Amanda.
"Amanda... " gumam Vandro menatap Amanda.
"E... Eh? anu itu... aku ingin menjenguk kak Rafa, beliau terluka karena melindungi ku" kata Amanda.
"Tidak perlu, Rafa sekarang tengah menjalani perawatan intensif, jadi sebaiknya jangan di ganggu" kata Andra.
DEG!
"Ayo Vandro!" kata Vanora sambil menuntun Vandro ke kamar.
"Pak Vandro... " Amanda menatap Vandro dengan tatapan iba.
"Maaf Amanda" kata Vandro sambil membendung air matanya.
"Eh!?"
📞" Halo Tuan Andra, Pangeran Rafa sudah sadar" kata Radith.
"Begitu"
Di ruangan Rafa...
"Kau ini kenapa keras kepala sekali sih Rafa!?" tanya Azka.
"Uhuk! Uhuk! Ngga urus! mana Amanda!? aku harus ketemu dia!" kata Rafa, terluka parah, kepalanya di perban, mukanya di plaster sana-sini.
"Amanda? siapa dia?" tanya Azka.
"Lho? paman Azka?" tanya Andra membuka gorden kamar yang menutupi kasur Rafa.
"Andra! Uhuk! mana Amanda!?" tanya Rafa.
"Rafa! kamu masih sakit! mana demam lagi!" kata Azka.
"Uh! mana urus aku! itu urusan ku! Ayah urus saja pekerjaan Ayah!" kata Rafa.
"Ukh!" Azka sudah terlanjur kesal, jadi akan meninggalkan tempatnya.
"Rafa, kau ngga boleh gitu, Paman Azka tadi menangis, karena takut kau ngga sadar, menangisnya pun menangis habis-habisan" kata Andra.
"Ah! bohong!" kata Rafa sambil menyangkal perkataan kakak sepupunya.
"Rafa... Ayah minta maaf atas perlakuan Ayah selama ini.. Ayah sama sekali tidak menyadari perlakuan Ayah yang sudah melewati batas" ucap Azka sambil tertunduk.
DEG!