
Amanda pagi ini akan bertarung dengan Nera.
"Ayo!"
Amanda melakukan beberapa tendangan dan hampir menjatuhkan Nera, tapi hasilnya nihil, dia kalah 3 kali.
"Ada apa Amanda? kenapa kau diam? Tiba-tiba gampang kalah, ada apa? apa ada di pikiranmu yang mengganjal?" tanya Nera.
"Kak Nera, apa yang akan kau lakukan jika ada seseorang yang ikut-ikutan urusanmu karena ingin membantu, tapi... saat kau ingin membantu urusannya, dia berkata Ini bukanlah urusanmu, aku tidak ingin kau terlibat, apa yang akan kamu lakukan?" tanya Amanda.
"Sudah pasti aku kecewa! dia seperti main hakim dan ingin dia terus yang ngatur! seenaknya saja! aku akan langsung tidak akan pernah menegurnya sampai dia mau jujur!" kata Nera.
"Begitu ya... "
"Yah, itu prinsipku sih, apakah ada yang membuatmu menganggu? apakah ada yang gitu ke kamu? sini ku hajar dia!" kata Nera.
"Ngga kak, ngga perlu, makasih ya" kata Amanda.
Sedangkan di balik pintu GYM....
Vian yang disitu mendengar.
"Nera benar, ini salahku, seharusnya aku tidak menduakan jiwaku, tanggal 12 jiwaku akan menyatu kembali" batin Vian dan langsung pergi dari situ.
"Begitu ya kak... " kata Amanda.
"Yah, kayaknya mukamu suram! ayo! kita ke Gamezone di mall! ku bayarin semuanya! biar kagak suram karena kerjaan kampus" kata Nera.
"Boleh deh kak, makasih yah"
"Wokeh! kita siap jam 10.00!" kata Nera.
Akhirnya Amanda menghabiskan waktu bersama Nera di mall Gamezone, tapi tetap saja... perasaan Amanda yang tersakiti tak kunjung sembuh juga.
Di Rumah Bella, Ibu Vanora dan Vandro....
"Kau yakin dengan keputusanmu?"
"Aku yakin Andra"
Jantung Vandro berdegup kencang dan menghembuskan nafasnya di depan pintu.
Tok! Tok! Tok!
"Siapa?"
Ceklek!
"Eh?!?!?" Vanora dan Bella kaget sekaligus terharu.
"Aku,... pulang, Vanora... dan,... Mama" kata Vandro.
Vanora dan Bella terharu akan hal itu.
"Vandro!! terimakasih!!! maafkan aku!!"
"Tak apa,.. aku salah, aku keluar dari kegelapan karena seseorang, dan juga kau Vanora, aku bisa akan hal itu"
"Vanora... "
"Ya Ma?"
"Terimakasih, tujuanmu untuk menyatukan keluarga kecil ini kembali!"
Di Istana negara...
"Paman... "
"Andra"
"Ada yang ingin paman katakan ke kamu" kata Adimas.
"Sebaiknya cepatlah Paman, saya banyak kerjaan" kata Andra yang masih memperhatikan beberapa berkas proposal saat Adimas berkunjung ke ruangannya.
"Begini,.. Paman, ingin membicarakan yang paman sembunyikan darimu, dan ini sudah dari kesepakatan Azka" kata Adimas.
"Saya harap.... ini menarik" kata Andra dengan formal dan dingin.
"Maafkan, Paman Andra... karena Paman, semua ini terjadi, saking tidak terimanya Paman akan perbuatan yang kau lakukan sampai-sampai Paman jadi kesal denganmu, Paman terlalu meremehkan mu, maafkan Paman ya" kata Adimas.
Andra tersentak, baru kali ini perkataan Adimas yang benar-benar jujur dan dari hati sendiri, Andra bisa melihatnya dengan Silent.
"Kenapa,.. Tiba-tiba?" tanya Andra.
"Entahlah, Hanya saja, saat melihatmu yang melakukan ini dan itu sendirian, sedangkan Almarhum kak Arif tiada, serasa seperti aku bertanggung jawab penuh untuk menjagamu, aku sangat merasa bersalah saat penculikan yang menyebabkan hilangnya Ana, aku jadi sangat merasa bersalah, bahkan tim pencari tetap tidak bisa menemukan Ana dimana pun" tutur Adimas.
"Apakah paman... benar-benar merasa bersalah?" tanya Andra.
"Sangat, sekarang... aku akan menuruti keinginanmu, apa saja... ini juga sebagai ganti atas hilangnya Ana, maafkan aku, silahkan hukum aku bagaimanapun kehendak mu Baginda Raja" kata Adimas.
"Paman... tidak perlu seperti itu, yang aku inginkan... tolong Paman ceritakan semua yang Paman lakukan, dengan begitu, urusanku akan sedikit usai" kata Andra.
Adimas terdiam.
"Baiklah"
Adimas mulai bercerita kalau pertama saat kematian Arif dan Afifah, Pak Andi tidak mengatakan apapun karena luka yang di temukan mirip kecelakaan dan membuat Andra merasa lebih berdiam diri bersama Ana semenjak kematian Arif dan Afifah, merasa menyembunyikan sesuatu, akhirnya mengutus ahli psikolog yang dapat di andalkan, Bagas Abifandya.
Di situ, mulailah Andra menceritakan seorang wanita menyeramkan menyerang dan mengamuk bagaikan naga, dan mulai menyerang banyak wilayah, disitu tiba-tiba orang tuanya terluka dan menyebabkan mereka meninggal, Andra dan Ana hanya tertidur.
Dan langsung mulailah Adimas mengumpulkan itu dalam satu buku, untuk mencari tahu dan menyusun apakah ada puzzle yang hilang? mulai mencari dan mencari, tapi hasilnya tetap saja nihil, apa kaitan antara seorang wanita dengan seekor naga besar?
"Mungkin itu Ryu" batin Andra.
Dan setelah beberapa kali percobaan, Dokter Bagas akhirnya melakukan sesuatu dengan memberikan permen yang terdapat obat yang dapat memulihkan pikiran, tapi tidak berhasil sama sekali, hingga saat kehilangan Ana, Adimas, Azka, dan kakek Andra memutuskan untuk meminta dokter bagas melakukan sesuatu.
"Andra.... apakah kau tahu? apa yang kami minta lakukan?" tanya Adimas sambil menangis deras.
"Kenyataan bahwa kami menyuruh dokter Bagas untuk menghapus memori mu bersama Ana" kata Adimas, Andra sangat terkejut akan hal itu.
Di saat itu, karena kami hanya tidak ingin kau depresi, bahkan kau koma hingga 3 bulan karena di temukan di bawah jembatan dengan luka di kepala tanpa Ana, kalian hilang karena penyerangan di istana entah kenapa.
"Jangan-jangan.... mereka yang adalah anggota Organisasi Night Darkness yang di perintah Pascal untuk mencari kami agar Ryu bisa dia ambil, karena mana ada yang berani akan hal itu, untung saja saat itu ada murid-murid Papa dan Mama, aku harus berterimakasih pada para lupin nanti" batin Andra.
Saat itulah, kami memulai lagi agar kau mengingat lagi, karena kau tiba-tiba menjadi amnesia lagi, dan kami memilih untuk mencari Ana tanpa kau mengetahui kalau dulu kamu punya adik dan mengadakan sayembara dengan bayaran besar, tapi banyak yang memalsukan identitas Ana demi sayembara.
Dan sudah semakin lama kau semakin besar, dan memperoleh posisi seorang Raja, kami ingin tahu tentang memori mu sekarang tapi begitu begini kami merasa tidak ada gunanya mencari Ana tanpa bantuan mu, maaf.
"Dan yang menemukan Ana adalah kakaknya sendiri, pantas aja ngga ketemu" batin Andra dengan heran.
"Kami benar-benar sangat minta maaf, kau boleh menghukum ku, sesuai kehendak mu" kata Adimas.
"Paman... "