
"Eh?!? sejak kapan kau punya kontak dengan FBI? bahkan kelompok agensi lainnya?" tanya Andra.
"Aku juga punya kontak dengan SAI, kelompok Agensi dari Kerajaan kita yang sudah didirikan pada saat keluarga Ameera generasi pertama" Jelas Randi.
"Aku hanya minta jawaban, bukan tentang agensi SAI!" Kata Andra.
"Iya... bukankah kau bilang? kalau aku sebagai jembatan para medis? untuk jaga-jaga, temanku yang seorang medis dulunya mantan SAI dan mendiang ayahnya seorang FBI, akhirnya aku meminta kontaknya yang sekarang sedang mencari tahu dan menyelidiki organisasi OND yang termasuk kriminal" Jelas Randi lagi.
"Oh aku mengerti" kata Andra sambil meriksa berkas yang di berikan Randi.
Data Berkas
Nama : Elena
Nama Samaran : Elena Ramanathan
TTG : Magnaga 17-5-1995
Tgl kematian : 13-2-20XX
"Elena" batin Andra.
"Oh ya... memangnya, kenapa kau terlalu peduli padanya?" tanya Randi.
"Hanya karena 'saat itu' yang menyebabkan ku tidak bisa melupakannya" jawab Andra.
"Tuan.... Nona datang berkunjung" kata Radith.
"Oh begitu ya? baiklah, persilahkan masuk" ujar Andra.
"Baik Tuan"
"Kak Andra,... maaf siang-siang berkunjung, hihi" sapa Amanda.
"Ah ya,... sudah selesai kuliah nya?" tanya Andra.
"Karena tadi dosennya mau rapat, lho? ada pak dokter?" tanya Amanda.
"Yah begitulah"
KRING! KRING!
"Astaghfirullah! Eh?! maaf kak! aku ada telepon, ada ruangan ngga?" tanya Amanda.
"Itu, di ruangan situ saja, kan masuk ruang tengah" kata Andra.
"Baik"
Di Ruang tengah...
"Ng? Eh?! Erlan!? kenapa tiba-tiba?" tanya Amanda.
"Assalamu'alaikum?"
📞"Wa'alaikummusalam"
"Kenapa tiba-tiba telepon?"
📞"Ngga, gini... aku mau tanya, berapa nomor telepon rumah Professor Hirata?"
"Anu... aku kurang tahu, tanya Zaki aja deh"
📞"Oh ya udah... kalau gitu, ada yang ingin kamu tanyakan? mumpung lagi telepon"
"Anu... ini"
Sementara itu di ruang tamu bunker...
"Aku ke ruang tengah dulu, mungkin sudah selesai" ujar Andra.
"Ya udah" kata Randi.
Saat Andra memegang engsel pintu.
"Aku pengen tanya" kata Amanda masih telepon.
📞"Tentang?"
"Bagaimana kabar kak Elena? dia baik-baik aja kan?" tanya Amanda.
DEG!!!
"E.. Elena!? Ana!? tahu?! atau bagaimana!? terlibat apa lagi dia!?" tanya Andra kaget dalam hati.
📞"Yang aku tahu sih... dia baik-baik aja"
"Ya udah.. makasih ya, Assalamu'alaikum"
📞 "Wa'alaikummusalam"
TIT!
"Siapa disitu? ada orang di luar pintu kah?" tanya Amanda.
Andra langsung perlahan menenangkan dirinya sambil pergi dari situ.
"Siapa? siapa yang Ana telepon? kenapa dia bisa tahu tentang Elena!?!" batin Andra.
Di Ruang tamu Bunker...
"Ndra? kok cepet keluarnya?" tanya Randi.
"Hah... ngga apa, oh ya... tentang SAI tadi" ujar Andra.
"SAI? Special Agent of Investigator?" tanya Randi.
"Kalau tahu ngapain lagi nanya ntong?" tanya Andra.
"Yah.. ngga apa, aku pengen nanya, sebenarnya kenapa kau ingin menyelidiki masalah 'Tanggal Emas'? bukankah keluarga Ameera bukanlah lagi keluarga bintang emas di bagian aliran shinobi, karena peristiwa Ryu yang terjadi 19 tahun yang lalu?" tanya Randi.
"Itu masih bagian aliran, jika yang lainnya tidak bisa segampang begitu saja ku biarkan, kotak Pandora turun temurun milik klan Fujiwara, bukan milik keluarga Kencana" Kata Andra.
"Aku mengerti" kata Randi.
"Tapi.. ngapain kau harus bahas sama aku?!?! aku ngga bakalan ngerti!" kata Randi.
"Lah? yang bukannya tadi kau bilang ngerti ya? jadi biasa aja dong" kata Andra dengan santai.
"Kayak gitu biasa aja?!? lah terus aku apaan!? centong kuali!?" batin Randi kesal.
"Tapi serius Andra, sebenarnya aku menemukan beberapa kalau dimensi Shinobi mulai memperketat kekuatan pertahanan dimensi itu, dengan menggunakan kotak Pandora" Jelas Randi.
"Maksudnya?!" tanya Andra.
"Nak... Pengertian dari dunia itu adalah cermin, ilusi, cerminan dari aslinya, artinya... " Pak Andi memberhentikan kata-katanya karena Andra dan Randi akan melanjutkannya.
"Itu pasti palsu atau memang ada karena dari cerminannya yang asli, bukan begitu?" tanya Amanda yang tiba-tiba muncul.
"Ayam!!!" teriak Randi.
"Adu... du... du, jantung ku" Kata Andra.
"Astaghfirullah" kata Pak Andi.
"Maaf!! apa karena aku?" tanya Amanda.
"Aku kaget bukan karena kamu, aku kaget karena Randi teriak" Jelas Andra.
"Sama nak" kata Pak Andi.
"O.. oh, tapi maaf kalau aku bikin kaget, kak, Pak, kek" ujar Amanda.
"Ngga kok"
"Ya udah.. aku mau ke kamar dulu ya" Kata Amanda.
"Baik"
BLAM!
"Fyuh! kirain"