
Perhatian!! Chapter kali ini agak sadis, jadi jika ada yang tidak tahan untuk membaca, harap jangan di baca.
Amanda sedang berada di Dimensi Astral.
TRANG! CTRANG! Sedang menghabisi para musuh dengan keahlian teleportasi-nya yang menuruni Arif, dia menjadi salah satu Kunoichi yang paling ditakuti di gerakan pemberantasan.
TAP! Amanda berhenti di salah satu atap.
"Hebat juga Nda,... untung saat belajar Kung Fu dulu aku berlatih pedang jadi handal" kata Nera.
"Gitu ya... "
"Btw... kenapa syal Biru itu masih kau pakai terus?" tanya Nera lagi.
"Ah, ini... "
Amanda melihat hujan.
"Ah.. kenapa aku malah mengingat hal ini!? tapi... ini juga hari pertama aku bertemu dengan Erlan, bisa di sebut... Hari sadis pertama yang ku lihat" batin Amanda.
Flashback 26 tahun yang lalu...
Amanda yang berumur 5 tahun, beberapa bulan lagi akan masuk TK, sedang berada di kota Magnaga, sedang di rumah dekat pinggiran hutan bersama pelayan perempuan dan laki-laki yang di percaya Aliza, sebut saja Bi Minah dan suaminya Pak Anto.
"Lihat Bi! Amanda udah buat pola saputangan!" kata Amanda.
"Wah! bagus Non! hebat!" kata Minah.
"Haha! makasih Bi! Dasar... " kata Amanda.
"Pertahankan terus ya Non, karena pola di saputangan itu berbeda-beda cara buatnya,... ajarkan dan sampaikan pada anak Non juga nanti ya" kata Bi Minah.
"A.. Oh... emangnya, cara buat anak gimana Bi?" tanya Amanda dengan polosnya.
"Em.. Em... Non tanya saja pada pak Anto" kata Minah.
"Sa.. sayangnya saya juga tidak tahu Non, Oh ya... sebenarnya akan ada dokter yang datang memeriksa. Namanya Dokter Harry Ramanathan, yang akan memeriksa Non, tanya saja pada beliau" kata Pak Anto.
Tok! Tok! Tok!
"Oh! cepat sekali sampainya" kata Anto.
*****
JRAASH!! Hujan deras mengguyur Magnaga City.
Tok! Tok! Tok!
"Mba Aliza, apakah perlu menyembunyikan anak angkat anda dari Organisasi Night Darkness? meski anda adalah salah satu Agen SAI yang menyamar seperti saya dan istri saya,... trauma macam apa yang di derita anak angkat anda?" batin Harry.
"Hari ini... ayah akan memeriksa seorang anak perempuan, dia bernama Amanda, usianya setara denganmu Erlan, Ayah harap kamu dapat berteman baik dengannya" kata Harry.
"Itu tergantung bagaimana sikapnya" kata Erlan yang berumur 6 tahun dengan sikap dinginnya.
"Kau tidak akan punya teman jika begitu, kenapa tidak ada yang membukakan pintu?" tanya Harry heran.
KRIEET! Pintu dibuka Harry.
"Maaf kalau lancang-... HAH!?" tanya Harry sangat kaget melihat yang terjadi.
"A.. Ayah? apa yang terjadi?" tanya Erlan.
Harry pun langsung masuk dan melihat Minah yang tak bernyawa dengan ada bekas bacokan di lehernya, dan Anto yang juga tak bernyawa dengan luka tusukan di organ vital kanannya.
Harry mendatangi Minah dan memeriksa.
"Ini tidak bagus! Erlan! tunggu disini, Ayah akan menghubungi Agensi dulu!" kata Harry.
Di kabin yang tidak terlalu jauh..
Amanda terkapar dengan lemah.
Flashback...
Anto membuka pintu.
Ada 3 orang asing dan salah satunya langsung menusuk perut Anto hingga sekarat.
"Maaf kalau lancang"
Minah langsung bergetar dan reflek mengambil gunting.
"AAAA!!!" Dan langsung ingin mengarahkannya pada salah satu diantara mereka.
"Bi.. Bi Minah?" tanya Amanda.
"Lari Non!! cepat!!" Seru Minah.
"Ta.. Tapi, Paman Anto" kata Amanda.
BRUK! Minah langsung jatuh dan kehilangan nyawanya.
DEG!!! Amanda kaget sekali saat itu, hingga Silent-nya hampir aktif.
Amanda hanya bergetar dan langsung di pukul hingga lemah dan setengah sadar.
Flashback Off...
Amanda sedang terkapar di lantai.
"Bocah ini cantik juga ya" kata preman 1.
"Iya memang, tapi dia bukan tipeku... dia juga masih anak-anak" kata preman 2.
"Seharusnya bagus dan mahalnya yang wanita tadi! tapi malah kau bunuh!" kata Preman 1.
"Habisnya dia malah menyerang, harus kita apakan bocah itu?" tanya Preman 2.
"Aku akan menjualnya pada para mafia mesum, itu akan menghasilkan uang juga kan?" tanya preman 1.
Amanda hanya terus mendengarkan percakapan dengan kondisi lemah terikat tali.
Krieet!! Pintu terbuka.
"Ah!"
Erlan muncul dari balik pintu.
"Hei bocah nakal!! sedang apa kau disitu!?" tanya Preman 2.
"A... Aku sedang tersesat dan ketakutan saat berjalan di hutan sendirian, la.. lalu aku menemukan bangunan ini" kata Erlan dengan membendung air matanya memerankan aktingnya.
Preman 2 menatap preman 1 dan si preman 1 hanya mengizinkan.
"Duh nak, kamu tidak boleh disini seharusnya... " kata Preman 2, sementara itu Erlan menyembunyikan sebilah pisau belati di belakangnya.
"Baiklah... mari paman antar kau pulang-... " belum selesai preman 2 bicara.
JLEB! Sebilah belati itu langsung menancap di leher si preman 2.
"Terimakasih Paman, tapi... aku sudah tidak ketakutan lagi" kata Erlan langsung mencabut pisau dari leher si preman 2 dengan raut wajah dingin dan sadis.
BRUK!
"A... Apa!?" tanya preman 1.
Kriieet!! Erlan langsung perlahan menutup pintu.
"Oi bocah! jangan lari!" kata Preman 1.
BRAK! Akhirnya preman 1 membuka pintu sambil membawa kapak dan mencari Erlan.
"Kemana dia?" tanya Preman 1.
"HAAAA!!!!" Erlan berteriak dan menancapkan tombak dan menusukkannya pada preman 1 secara tubi-tubi.
"Rasakan ini!!! seenaknya menindas yang lemah!!" Seru Erlan dengan geramnya memainkan tombaknya.
TAP! Erlan menjatuhkan tombaknya dengan nafasnya terengah-engah sambil melihat Amanda yang menatapnya.
"Semuanya sudah aman, kau baik-baik saja?" tanya Erlan.
Amanda tersenyum tapi karena lemahnya dia hampir ambruk ke depan jika saja Erlan tidak dengan tangkas menangkapnya.
"Kau baik-baik saja!? tunggu, ku lepaskan talinya, kau duduk dulu" kata Erlan.
Akhirnya Amanda duduk, Erlan membantunya membuka talinya.
"Namamu Amanda kan? aku adalah Erlan Ramanathan, putra Harry Ramanathan kau adalah pasien Ayahku dulu" kata Erlan sambil melepaskan talinya.
Amanda membayangkan bagaimana para perampok itu masuk.
"Mereka... datang bertiga" kata Amanda.
"Eh!?" tanya Erlan.
KRRIEET!! Pintu di belakang mereka terbuka dan preman 3 muncul.
Erlan melebarkan tangan kanannya untuk melindungi Amanda.
"Jadi kalian!? yang membunuh mereka!?" tanya Preman 3 dan langsung ingin menyerang Erlan, Erlan langsung mendorong Amanda agar tidak terkena serangan.
DUAK!! Erlan di tendang dan rambutnya di tarik lalu lehernya di cekik.
"Aku akan membuatmu menemui mereka!!!" Kata Preman 3.