The Unifying Butterfly

The Unifying Butterfly
Season 2 Chapter 39 : Toni (2)



"Kak Toni!! Astaghfirullah! kirain siapa!" kata Amanda.


Toni : |"|-_-|"|....


"Tapi... kenapa tiba-tiba Kak Toni ada disini!? ngebuntutin aku ya!?" tanya Amanda.


"Enak aja, tapi tadi aku lihat kamu diikuti" kata Toni.


"Jadi Kak Toni lihat aku.... mukulin tu orang!?" tanya Amanda.


"Ya, aku hanya ingin melihat rileks sedikit" kata Toni.


"Tuh! Ka-...." belum selesai Amanda bicara.


"Bisa diem ngga? berisik tahu! lebih baik jangan bicara jika terlalu berisik!" kata Toni dengan raut wajah menyeramkan.


"Cara bicaranya berbeda dari yang selama ini !!" batin Amanda.


"Menurutku, kau adalah rantai yang paling cepat putus, bahkan kau selalu saja terlibat masalah tidak jelas, dan itu bisa saja membuat terseret para anggota Apartemen!" kata Toni lagi.


"Dan seharusnya kau tidak usah kembali saat itu!!" kata Toni.


Amanda langsung mengarahkan tendangan ke arah wajah dan leher Toni saking marahnya atau bisa di bilang Jeet kune do.


Tapi Toni berhasil menghindar, tapi lehernya sedikit tergores dan mengeluarkan darah yang memang tidak terlalu banyak.


"Apa yang kau!?"


"Sebaiknya Kak Toni jangan sekali-kali meremehkanku! Aku sama sekali tidak tahu tujuan Kak Toni masuk ke Rosement! jadi Kak Toni ngga berhak sama sekali untuk mengadili dan menghakimi ku!!!" Seru Amanda.


"Karena Presdir membutuhkanku! Dan mungkin saja tujuanku lebih penting daripada tujuanmu!!!" kata Amanda.


"Oh ya? coba beritahu aku? apa tujuanmu? dari dulu aku sangat penasaran? jika memang itu lebih penting daripada tujuanku?" kata Toni dengan menantang tapi raut wajah mengerikan.


"Cih! kalau ingin tahu, beritahu dulu tujuan Kak Toni! menyebalkan!" kata Amanda langsung pergi ingin menghajar kembali orang berbaju putih itu tapi....


BRRRRM!!! Orang berbaju putih itu langsung kabur.


"Naik, kita akan pulang" kata Toni sambil menyerahkan helm ke Amanda.


Grrrt! Amanda menggertakkan giginya karena geram, tapi mau bagaimana lagi.


"Sepertinya orang yang mengejarmu adalah orang suruhan" kata Toni tapi Amanda tidak bisa mendengarnya.


Brrrm!


Di Rosement....


"Duh! Amanda belum kembali!" kata Vandro.


"Amanda belum pulang Vian, aku jadi khawatir" kata Vandro.


"Cih.... sudah ku pindahkan ID Address GPS tu bocah ke ponselmu, jadi kau bisa melihat dimana dia berada" kata Vian sambil bermain Laptop.


"Makasih Vian" kata Vandro.


"Ng!? Amanda ada di Parkiran Rosement! ada tandanya!" kata Vandro.


Drap! Drap! Drap! Vandro lantas berlari ke Parkiran Rosement.


"Amanda! Lho? Toni!?" tanya Vandro melihat Amanda yang turun dari motor Toni.


"Amanda?" tanya Vandro.


"Minggir!!" kata Toni.


"Bahu Toni cedera, kenapa? " batin Vandro.


"Ng?" Vandro teralihkan karena melihat lutut Amanda yang berdarah.


"I... ini kenapa? lututmu berdarah? bahkan sikumu? apakah karena Toni?" tanya Vandro mengambil lengan Amanda dan melihatnya.


"Ukh!! kenapa Pak Vandro berpikir ini karena Kak Toni!?" tanya Amanda kesal.


Vandro terdiam beberapa saat....


"Saya bukannya mengejek, meski dia tipe yang suka melawak, tapi ia adalah orang yang tidak suka bergaul" kata Vandro.


"Mau di kasih tahu pun, aku sudah melihat kebenciannya" batin Amanda.


"Pak, sebenarnya.... apa pekerjaan Kak Toni?" tanya Amanda.


"Kenapa? Hm.... tidak bisa saya kasih tahu, ayo kita ke Randi dulu obati lukamu" kata Vandro.


Sehabis mengobati Amanda pada Randi.....


"Hei!" kata Vandro sambil memanjat dinding tempat Toni berada.


"Wah, si penjaga pemain bintang datang, kenapa? apa ada urusan?" tanya Toni.


"Ada apa? apa kau melukai Amanda? ada apa kau dengannya malam ini? saat aku menemuinya aku melihatnya turun dari motormu, dan melihatnya terlihat ketakutan, kau melukainya? dan juga untuk luka di lehermu" kata Vandro.


"Heh, dasar! luka ini? mungkin bisa di jelaskan ya? tapi asal kau tahu, ia tadi di buntuti oleh orang yang berbuat entah mau apa, tapi aku melihatnya membuat babak belur orang yang membuntutinya, dan begitulah" kata Toni.


"Memangnya kau melukainya? begitu!?" tanya Vandro mendekati Toni.


"Oh, mau ku jelaskan dari A sampai Z?"