
PATS! Elemen pikiran yang di lakukan Arif berhenti.
"Ayah"
"Itu benar, ada yang juga ingin ku katakan padamu, selamat ulang tahun" kata Arif.
"Maaf ya kalau aku mengatakannya bertepatan di hari kematian kami" ujar Arif yang mengerutkan keningnya sambil tersenyum.
"Tidak apa, terimakasih" ujar Amanda.
"Ini bukanlah tempatku, tugasku memberitahumu sudah selesai, sampaikan ini pada Andra, sebelum berpisah, ada yang ingin kau tanyakan?" ujar Arif.
"Eh? bagaimana caranya?" tanya Amanda.
"Ini,.. aku memberikan sedikit energi elemen pikiran, dan ceritakan itu pada Pak Andi, dengan begitu akan bisa Andra ketahui" Kata Arif.
"Aku mengerti, tapi sebenarnya bagaimana caranya aku mengalahkan si Pascal? aku saja tidak bisa" kata Amanda.
"Hmf,... Ana dengar, tidak ada yang tidak bisa jika kau meraihnya dengan sungguh-sungguh sesuai tekad pasti bisa, yang penting adalah tekad, kuatnya tekad seseorang dalam mencapai sebuah keinginan bisa dilihat dari bagaimana caranya dia meraih tujuannya" Jelas Arif.
"Ayah"
"Ada apa?"
"Apakah Ayah... benar-benar mencintai Ibu?" tanya Amanda.
BLUSH!!!
"Eh?! A,.. anu!"
"Kikikik!!! Muka Ayah merah! kayak waktu kak Andra ngomong minta adik dulu, hehe" ujar Amanda menggoda Arif.
"Huft,.. baiklah, aku akan memberitahumu" ujar Arif sambil menatap ke samping dan menggaruk leher belakangnya yang tidak gatal dengan mukanya yang merah karena salting.
Arif mendekat ke telinga Amanda yang di lapisi jilbab, Amanda sudah gugup karena itu.
"Eh?! kenapa ni anak gadis?! kok ngga ada telinganya?" tanya Arif.
BUK! Amanda meninju Arif.
"Tidak sopan!! telingaku disini tahu!! Dasar... " ujar Amanda.
"Tapi tinjuan mu sakit.. juga" kata Arif sambil memegang perutnya.
"Karena, aku berlatih ninja bersama Kakek dan Kak Andra, bahkan tinjuan ku merobohkan sebuah pohon" ujar Amanda.
"Andra... yang begini saja sudah membuat adikmu berbahaya, aku harap kau tidak mengajarkan aliran sesat padanya" batin Arif.
"Oh, baiklah"
"Apa yang ingin Ayah lakukan?! kena tonjok kan ku baru tahu rasa" batin Amanda.
"........ "
"Eh? A, yah?" Amanda langsung kaget dan merasakan iba dan rasa berharga ucapan Arif.
"Yah, begitulah" kata Arif sambil tersenyum.
"Oh ya, apakah bagaimana caranya aku bisa mengalahkan Pascal!! aku masih ngga ngerti!" Seru Amanda.
Arif terdiam.
"Tolong!! beritahukan padaku!! aku mohon padamu! Shinobi legendaris ke 6!" kata Amanda.
"Memangnya tadi kau belum ngerti?" tanya Arif.
"Hanya saja, Ayah begitu percaya padaku dan kak Andra, tapi aku ngga tahu! gimana kalau aku gagal?! aku pasti tidak bisa membuat kerajaan ini selalu damai" Kata Amanda lagi dengan menunduk.
Arif menaruh telapak tangannya di atas kepala Putrinya yang dilapisi jilbab itu.
"Aku percaya padamu dan kakakmu, aku menyerahkan nasib kerajaan Carna pada kakakmu dan dirimu Ana, aku selalu berdoa demi keberhasilan kalian" Kata Arif sambil tersenyum tipis.
"Sepertinya sudah waktunya aku pergi, untuk selebihnya pikirkan sendiri, karena aku juga mungkin tidak akan tahu jawabannya, energiku untuk tetap bertahan disini mulai perlahan menghilang, sebelum itu... aku akan memulihkan Ryu agar perasaan amarahnya tidak muncul sementara, sampai kalian menemukan jawabannya" Jelas Arif lagi sambil memegang Liontin Amanda dan muncul cahaya.
"Eh?"
"Aku akan pergi, Hati-hati ya"
"Eh,.. tun.. ggu" Tapi terlambat, muncul cahaya terang yang membuatnya tersadar dari ilusi Pascal.
*******
"Eh?" Amanda sadar dia sedang ada di kamar tidur dengan perban di tangan dan kepalanya yang di plester kecil.
"Kenapa ini?" gumam Amanda.
Ceklek!
"Ng? sudah sadar ya?" tanya Randi.
"Pak,.. Randi? kenapa saya bisa ada di ruang kesehatan?" tanya Amanda.
"Saat penyerangan, Andra berinisiatif kamu sedang berada dalam mimpi tapi karena kamu tidak bangun juga, karena kamu ada dalam hipnotis ilusi, makanya yang membuat kamu tidak kunjung bangun, sedangkan luka-luka itu kamu dapat dari sisa-sisa pertarungan" Jelas Randi.
"Begitu.. Ah! kak Andra dimana?!" tanya Amanda.
"Em, Andra sedang berbicara dengan Pak Andi" kata Randi.
"Oh, apakah mereka baik-baik saja? apakah mereka berhasil mengalahkan-... " belum selesai Amanda bicara.
"Em, sebenarnya mereka selamat, tapi andai saja jika 'dia' datang terlambat, mungkin kalian sudah tidak bisa di selamatkan lagi, kecuali Pak Andi yang memang tidak bisa bertahan" Jelas Randi.
"Maksudnya 'Dia' itu siapa? dan apa maksudnya Pak Andi?" tanya Amanda.
"Em, sebenarnya saya tidak boleh menceritakan ini tapi baiklah, rahasia yang membuat Pak Andi, tidak bisa bertahan"