The Unifying Butterfly

The Unifying Butterfly
Season 3 Chapter 2 : Terbuka



"Kenapa setiap mereka akan bertemu... aku selalu harus menunggu disini?" gumam Vian.


Beberapa hari yang lalu... aku meminta Andra untuk memberikan penjelasan sebelum pulang dari rumah sakit.


Beberapa hari yang lalu, ngga.. lebih tepatnya seminggu sebelum keluar dari rumah sakit...


"Jadi begitu, dia itu adikmu? Aliana Jahzara Ameera katamu?" tanya Vian sambil menunjuk Amanda yang memakai kursi roda.


"Baiklah, sudah kuduga, ini semua menjelaskan kecurigaan ku" kata Vian.


"Sama sepertimu, Amanda juga baru mengetahui identitasnya yang sebenarnya" kata Andra.


"Memangnya kau itu sebenarnya kenapa? apa rencana mu?" tanya Vian.


"Ya, yang hanya saya bisa katakan untuk pertanyaan mu hanyalah, saya harap adik saya punya teman yang bisa diandalkan" kata Andra.


"Huh! apanya! lagipula aku bukan temannya!" kata Vian.


"Hihi" Amanda hanya tertawa kecil melihat tingkah Vian.


"Oh ya, saya ingin bilang... kalau sebenarnya, sahabatmu itu... Zaki, telah ada kontrak denganku" bisik Andra pada Vian dengan mendekapnya.


"A... Apa!!? kenapa kau malah membawa-bawa dia!!!?" Seru Vian.


"Sudahlah, yang penting, kau sudah tahu kenyataan, tolong ya Vian" kata Andra sambil tersenyum.


Flashback Off...


"Jadi kakak yang dia cari adalah Andra... waktu itu dia terlihat putus asa, aku bahkan kaget kalau mengetahui, Amanda teman masa kecilku adalah seorang bangsawan... aku bahkan teman Andra dari kecil ngga di kasih tahu, dasar si Andra" gumam Vian.


Bunker lingkar dalam....


"Ada apa? kenapa kamu menatap ku se-intens itu?" tanya Andra.


"Anu.. itu luka goresan itu, didapat saat kita terjatuh dari jembatan itu ya? apakah masih terlihat sakit?" tanya Amanda.


"Ya, benar... ini berbekas dan sudah lama.. jadi sama sekali tidak merasa sakit,... apakah kamu terganggu?" tanya Andra.


"Ng.. ngga kok" kata Amanda sambil gelisah.


"Ng... ukh... um.. "


"Ng?" Andra penasaran kenapa Adiknya bertingkah seperti itu, sampai matanya berubah menjadi hijau.


"Maaf saat waktu itu!" kata Amanda.


"Waktu itu?" tanya Andra.


"Maaf aku pernah menampar kak Andra saat marah waktu itu" kata Amanda yang pipinya langsung merah.


"Oh.. sebulan yang lalu itu.. ngga apa, itu ngga masalah kok" kata Andra.


"Ng? kenapa dia? ada masalah lagi? jika ada masalah katakan saja" pikir Andra.


"Ng.. tingkahnya"


Amanda sadar dia sedang di perhatikan.


"Ng!? aku di perhatikan!? hm, aku harus serius, jika tidak maka aku akan di remehkan...." Amanda langsung murung menatap Andra.


"Ng!? Reaksinya berubah lagi?" pikir Andra.


Akhirnya kakak beradik itu saling tatap menatap dengan mata mereka yang berubah menjadi warna hijau.


"Kenapa kamu menatapku seperti itu?" tanya Andra sambil tersenyum.


"Bukannya Kak Andra yang natap duluan!? kan jadi ngga enak di tatap gitu!" kata Amanda.


"Emangnya seperti apa aku menatap kamu?" tanya Andra.


"Err... tatapan tajam memberikan kayak ini! karena Kak Andra itu seorang Raja... jadi kayaknya tertekan gimana gitu" kata Amanda langsung merubah posenya menjadi wajah Andra entah bagaimana caranya.


"Lho? kenapa mukanya bisa kayak gitu?" pikir Andra.


"Haha, sebenarnya aku hanya heran... kenapa seperti itu, jadi aku menatapmu tadi karena berusaha memahami mu. Aku bersyukur kamu mau memanggilku kakak, memangnya ada yang mengganggumu ya, Ana?" tanya Andra.


Amanda langsung berubah menjadi sedih.


"Tentang yang Pak Randi bilang soal kondisi Kak Andra" kata Amanda.


"Ya?" tanya Andra.


"Kak Andra bener-bener ngga sakit keras kan? aku hanya takut suatu hari jika aku teralihkan dengan suatu hal... kak Andra akan tiba-tiba pergi seperti... Ibu" kata Amanda.


"Ah... Ibu Aliza meninggal karena penyakitnya" gumam Andra pelan.


"Harusnya aku seneng bisa ketemu kakak, tapi aku jadi takut terpisah lagi... karena salahku meninggalkan ibu saat itu... ibu jadi pergi" kata Amanda sedih.


"Ah.. um" Andra langsung tersenyum tipis.


"Tenang aja... kakak hanya hidup dengan itu saja, tidak ada kenapa-napa kok" kata Andra sambil mengelus kepala Amanda.


"Bener lho ya... ngga bohong" kata Amanda.


"Wajahnya mirip Mama... " batin Andra.


"Andra, bener ya... ngga bohong?"


"Iya... ngga bohong kok" kata Andra


"Anu! Kak Andra punya mata senyap juga ya?" tanya Amanda.


"Mata... senyap? apa itu?" tanya Andra.


"Itu.. mata Kak Andra saat ingin memahami ku langsung berubah menjadi warna hijau... sama seperti mataku" kata Amanda.


"Oh... itu bukan Mata senyap, tapi itu di sebut Silent" kata Andra sambil tersenyum.


Catatan : ( cara baca Silent dalam bahasa Inggris : Sailen tapi dalam penulisan adalah Silent)


"Silent? apa itu?" tanya Amanda heran.


"Haha, mata kita menurun pada Ayah dan Ibu... jadi mungkin suatu saat nanti kamu akan ngerti, dek" kata Andra.


"Begitu ya?"


"Iya"


Semua kupikir berjalan sesuai yang kuinginkan... tapi....


.


.


.


.


"Ana!! Sadarlah! Ana!"