The Unifying Butterfly

The Unifying Butterfly
Season 4 Chapter 16 : Kebenaran



"Jadi, kita akan berangkat besok, jangan berangkat malam jumat, karena Pascal sedang rada sangat kuat disitu" kata Jiwa Erlan.


"Latihan dulu saja.... nih, aku baru aja pinjam buku dari kak Andra, baca aja" kata Amanda sambil meletakkan beberapa buku.


"Kita tidak akan berangkat ke istana Pascal jika masih lemah, itu hanya akan membuat kita dalam bahaya, oh ya... nanti kamu tetap di bros ya, akan bahaya jika kau keluar" kata Amanda lagi.


"Ya,.. baiklah"


"Btw, kamu baca buku apa Lan?"


"Ini"


Jurus Gombal Jitu


"Ih! berhentilah baca-baca yang kayak gitu! cringe tahu!" kata Amanda sambil menatap lain dengan muka yang merona.


"Hihi.. tapi kamu suka kan? hahaha" ujar jiwa Erlan sambil mengedipksn sebelah matanya dan tersenyum meledek.


"Idih!"


"Ya udah... aku mau selesaikan bab terakhir penelitian" kata Amanda.


"Kapan deadline nya?" tanya Jiwa Erlan.


"Sekitar tanggal 9"


"Masih lama"


"Ngga apa"


Akhirnya Amanda menyelesaikannya.


"Cepat amat"


"Cepat kah? ku lihat dulu deh, apa ada yang di revisi atau ngga"


"Kalau di revisi ya ulang lagi"


"Aku lebih suka membuat yang sempurna"


"Mau ku bantu?"


"Ngga deh, kamu kan Astral"


"Siapa bilang? meski aku astral aku bisa memadatkan jiwaku"


Erlan langsung memadatkan jiwanya.


"Eh?! bisa!" kata Amanda.


"Iya dong! eh! tapi abis ini nonton drakor ya" kata Erlan.


"Ngga!"


"Kenapa? biasanya kan cewek demen nonton drakor"


"Sorry! ngga!"


"Boleh ya?"


"Diam! kembali aja ke bros!"


"Iya,.. maaf"


Di kamar Vandro...


Vandro terdiam


Vandro menggenggam erat selimut yang menyelimuti dirinya saat mengingat pertengkarannya dengan Vanora.


"Hah!? membuatku senang!? dengan menipuku!? jangan bercanda!!"


Vandro terus mengingat memori yang telah tersimpan di otaknya.


"Kira-kira... apa yang akan di lakukan Amanda saat dia berada di posisi ku?" batin Vandro.


Ternyata... kau masih hidup ya?


"Kenapa... si kurang ajar itu bisa ada di AR group!?" desis Vandro.


Tok! Tok! Tok!


"Masuk"


Ceklek!


"Ng? kamu?"


Meanwhile... di Istana Pascal.


Arka sedang tertawan dengan kondisi tangan di ikat melebar.


"Bagaimana? sudah sadar?" tanya Pascal.


"Kau!!! aku hanya bilang ingin menemui adikku! dan kau ingin membantuku! tapi apa!?" tanya Arka.


"Kau belum jera juga kah? oh ya... adik ya? si Putri itu hanya adik angkat mu, dia sudah menemukan keluarga aslinya" kata Pascal.


"Apa? Putri? maksudnya?!" tanya Arka.


"Kau ini... aku sudah bilang akan mencari seorang perempuan Fujiwara yang menjadi Terano, adikmu adalah orangnya, lebih tepatnya dia adalah seorang bangsawan" Jelas Pascal.


"Apa?!"


"Kaget? kakaknya adalah seorang pemimpin di Kerajaan ini"


Arka menunduk.


"Kenapa? merasa bersalah karena menelantarkannya? takut dia akan membalaskan dendam?"


"Heh... biar saja, memang aku yang salah, sebagai kakak angkatnya yang ingin melindunginya dari bayangan... adikku sudah dewasa rupanya" kata Arka.


"Mau dia balas dendam terserah,.. ini salahku, Ibuku meninggal karena sakit, entah bagaimana sekarang, lagipula... dia pasti bisa mengalahkanmu! aku percaya padanya!" ujar Arka lagi.


DUAK! Pascal memukul perut Arka.


"Uhuk! Uhuk!!"


"Siapa yah, yang menyuruhmu mengomentari ceritaku?" tanya Pascal.


"Uhuk! uhuk!" pinggiran mulut Arka mengeluarkan sedikit darah karena saking kerasnya pukulan Pascal.


"Lihat saja,... kalau kau tidak percaya, lebih baik... 'dia' saja yang ceritakan" ujar Pascal.


"Eh? 'dia'? siapa?" gumam Arka.


"Masuk!" kata Pascal.


"Lama tidak bertemu ya? Arka?"


"Eh?! Suara... ini!? Ayah!!?!!"