
Ting tong! Ting Tong! Suara intercom camera bell rumah Nina ditekan oleh Amanda.
"Iya?" tanya Nina di Intercom itu.
"Ninaaaa, i'm Coming~~" kata Amanda dengan senang.
"Hahaha aku tahu, kan bisa lihat di Camera Intercom Ndaaaa" kata Nina dengan tertawa.
"Aku nyuruh Penjaga diluar bukain gerbang Ok? tunggu ya, kututup dulu Intercom nya" kata Nina sambil menutup Intercom nya.
"Yes" jawab Amanda.
Greeeek, Klang! Suara bukaan gerbang besar dirumah Elegan itu.
"Nona Amanda silakan masuk, anda telah ditunggu oleh Nona muda Nina" kata Penjaga itu.
"Tentu, terimakasih banyak" ucap Amanda dengan tersenyum.
Amanda pun memasuki rumah itu.
"Amanda!! sahabatkuuuu" Seru Nina dengan senang.
"Hai! maaf kalau berkunjungnya jam 10.00 begini" kata Amanda.
"Ngga apa-apa, mumpung sendiri dirumah aku jadi ada temen deh, hehe" kata Nina sambil membawa Amanda ke kamarnya yang mewah.
"Jadi.... kamu mau bicarakan apa Nda?" tanya Nina dengan rebahan dikasur.
"Eh gini, bisa ngga? kamu ceritakan hal-hal yang kamu ketahui?" tanya Amanda.
"Tentang apa?" tanya Nina.
"Tentang.... Em.... Erlan?" kata Amanda.
"Hoooo, tumben nih? rindu ya? bilang boss, hahaha" kata Nina dengan tertawa.
"Hush! aku kan pengen tahu doang, boleh ngga?" tanya Amanda.
"Haha boleh kok, bentar ya" kata Nina sambil berjalan kearah lemarinya untuk mengambil sesuatu.... Em.... berkas?.
"Ya, tapi aku tak ingat" ucap Amanda melihat foto itu.
"Tak apa kalau tak ingat, waktu itu wajahmu juga sedikit berubah, tapi masih bisa dikenal entah kenapa saat wajahmu berubah kau seperti orang lain" ucap Nina.
"Begitu ya? lalu bagaimana aku tetap bisa menjadi sahabatmu sampai sekarang? tanya Amanda.
"Nda, kau sahabatku satu-satunya Sahabat dari kecil yang aku punya, tentu aku bisa mengenali dirimu meski kau berubah" ucap Nina.
"Kau suka sekali kupu-kupu biru, jadi aku tahu kalau kau satu-satunya di SMA yang sangat menyukai kupu-kupu biru, aku menduga kau seperti orang lain karena mungkin....em karena....Tante Aliza...." Nina tak ingin melanjutkannya karena takut Amanda akan sedih.
"Tak Apa Na kau benar, aku sangat terpukul atas kematian ibu tapi bagaimanapun, aku harus dapat melupakannya" kata Amanda.
"Tapi ada hal aneh yang kau katakan" ucap Nina.
"Ha? Hal aneh? apa memang nya?" tanya Amanda.
"Kau sering mengatakan, hal yang Aneh, Optik 294.1, itu yang sering kau katakan" kata Nina.
"Optik 294.1? " tanya Amanda.
"Begitulah, kau mulai mengatakan itu saat em...lulus kuliah dan tante Aliza sudah....tiada, maaf maksudku, dan Erlan juga lebih dekat denganmu dari pada orang lain selain Zaki dan aku" kata Nina.
(Jika tidak ingin bingung, silahkan baca Novel The Story Of Amanda's student).
"Begitu Kau berubah dan mengucapkan kata-kata itu, Erlan menjadi Aneh, dan beberapa hari kemudian dia pergi" kata Nina.
"Dia.... pergi?!" tanya Amanda dengan kaget.
"Ya, dia pergi setelah kelulusan Kuliah, dan tak kembali setelah itu sampai sekarang" kata Nina.
"Oh, begitu kah Nina?" tanya Amanda.
"Ya, maafkan aku karena tak bisa mengetahui lebih dari itu Nda, aku yakin kalau kau bisa mengingatnya lagi suatu hari nanti" kata Nina meyakinkan.
"Tentu, terimakasih Na" kata Amanda dengan memeluk Nina.
Sahabat adalah sesuatu yang bisa dicari, tapi jika kita kehilangan salah satu sahabat, hal itu tidak bisa diduplikasi.