The Unifying Butterfly

The Unifying Butterfly
Season 3 Chapter 44 : Pesan berharga Andra bagi Randi



Alasan Randi berkata seperti itu...


Flashback On...


Bunker Lingkar dalam...


"Wah.. aku bahkan ngga nyangka kalau si Rey yang kau cari datanya itu yang sudah.. em, tiada itu memberitahu hal sedetail itu pada Amanda dan Rafa" Kata Randi yang di situ.


"Begitulah... ku kira akan sedikit simpel masalahnya... tapi malah makin ngelunjak" kata Andra.


"Ya Ampun! ngga usah kayak gitu juga napa!" kata Randi.


"Oh ya Ran, ku dengar.. kau belajar ninja bersama Vian dan berguru pada Pak Andi?" tanya Andra.


"Hehe... begitulah, tapi aku masih agak pemula dikit" kata Randi.


"Usaha membuahkan hasil, entah itu berhasil atau tidak aku akan mendukungmu, jika kau sudah hebat nanti... kita bertarung ya" kata Andra sambil tersenyum.


"Ok, oh ya... kau terlihat lusuh daripada sebelumnya, ada apa? jarang mandi?" tanya Randi.


"Bukan... sebenarnya Randi, aku baru saja memimpikan Almarhum dan Almarhumah orang tuaku, sebenarnya sudah lama mereka tiada, tapi melihat mereka yang muncul di mimpiku aku jadi ada rasa rindu pada mereka, ingin terbebas dari ini semua... tapi lama kelamaan saking banyak sekali hal yang perlu ku selesaikan, aku seperti akan mati sebelum mencapai garis akhir" Jelas Andra sambil menunduk.


DEG!


"Andra!?" batin Randi.


"Tapi aku tidak tahu... takdir dan kematian tidak ada yang tahu bukan? jadi.. pasti aku harus menyerahkan semua masalah ini pada yang pantas jika perumpamaan yang ku katakan tadi menjadi kenyataan kan? jadi, kau salah satunya... jika itu terjadi, aku minta tolong padamu... jaga adikku ya" kata Andra sambil tersenyum menatap Randi.


"Andra... tunggu, maksudnya?" tanya Randi.


"Aku tahu kau bingung, kata pepatah mengatakan, sedia payung sebelum hujan, itu sama saja bagiku, menyediakan rencana sebelum semuanya berakhir, adikku adalah satu-satunya keluarga kandung dan saudara yang sangat amat berharga yang ku punya sekarang, tiada siapa-siapa lagi yang bisa ku ajak bercanda sebagai seorang kakak, sudah sepantasnya untuk melindungi adiknya kan?" Ujar Andra lagi.


"Andra, memangnya apa yang membuatmu begitu!? ada apa!?" tanya Randi.


"Kau... aku berterimakasih, bukan... aku sangat-sangat berterimakasih padamu Randi, karena kau ada disini sebagai temanku,.. tidak, sebagai sahabat, satu-satunya sahabat yang tidak memikirkan harta, kekurangan, kau bahkan mengetahui aku pangeran saat kita kuliah, tapi kau tetap biasa dan sewot juga ngga kaku.. seperti kau tidak takut dan mencoba akrab padaku seperti Erlan yang meski dia seorang pangeran juga dia sama seperti mu, kau satu-satunya sahabatku yang bukan dari kalangan bangsawan, maaf jika aku ada kata-kata yang pernah menyinggung dirimu" kata Andra sambil tersenyum ramah kali ini.


"Hoi! Hoi! kau ini kenapa Andra!? seharusnya kau berdoa agar semuanya di lancarkan! kau ini kok malah sekarang baperan sih situasi ini!?" tanya Randi sambil meletakkan telapak tangannya di muka Andra.


Pluk!


"Mm mm mmmm mmm?"


( Ini udah cuci tangan belum? )


tanya Andra.


Randi pelan-pelan mukanya agak merona.


Flashback Off....


"Huh! si Andra... benar-benar, bisa ngga sih? jangan mikirnya yang ngga-ngga!" batin Randi sambil meminum minumannya.


"Jaga adikku ya" Randi masih teringat ucapan Andra.


Kamar No 11....


Blam!


"Aku sekarang sedang membantu nya kok! aku sekarang berniat untuk membantunya!" batin Rafa..


"Ada apaan dengan tempat sebenarnya!?" gumam Rafa.


"Sudahlah, sekarang aku perlu mengabari Ayah sesuai yang di katakan Andra" gumam Rafa.