The Unifying Butterfly

The Unifying Butterfly
BONUS! CHAPTER 5 bagian 1



"Kurang lebih itu bisa di bilang Perang Kehancuran Dunia Astral ketiga" kata Amanda yang menceritakannya pada Zaki.


"Aku mengerti, jadi Iblis perempuan yang bernama Bestari itulah yang menjadi pemimpin kelima semua sekte dan Organisasi ya?" tanya Zaki.


"Benar sekali, jadi kami ingin memperbanyak anggota gerakan pemberantasan sekte dan organisasi sesat" kata Amanda lagi.


GYUT! Ada yang menarik sedikit rok Amanda.


"Mama... aku ingin bermain di taman Istana" kata Erika.


"Ya baiklah, silahkan" kata Amanda.


"Baik! permisi Paman" kata Erika.


"Ya, Hati-hati little princess" kata Zaki lagi.


"Btw, kau mengajak Zeydan ya?" tanya Amanda.


"Haha, ya.... dia bilang sumpek main di rumah terus" ucap Zaki.


Di Taman Istana....


"Ah,... Tuan Putri Erika, Anda ingin kemana?" tanya seorang Pelayan.


"Kata Mama, aku boleh main di taman Mbak" kata Erika.


"Oh tentu... jika anda butuh sesuatu, silahkan goyangkan lonceng ini ya" kata pelayan itu.


"Wah, menarik! makasih!" kata Erika.


Akhirnya Erika pergi ke Taman Istana.


"Wah, menyenangkan! lho?" tanya Erika melihat seorang anak laki-laki di taman.


"Tumben... " batin Erika.


"Hai... kamu siapa? kok disini?" tanya Erika.


"Ng? Apa?" tanya anak laki-laki itu.


"Aku Zeydan Al-Farisi, usiaku 5 Tahun, Ayahku mengajakku kesini" kata Zeydan.


"Hihi... namaku Erika Ameera atau Kitagawa Yuna, Usiaku 5 tahun juga lho!" kata Erika.


"Ameera atau Kitagawa? itu bukannya nama marga Ratu Aliana dan marga Shinobi keluarga kerajaan Verheaven ya?" tanya Zeydan masih santuy.


"Oh... Ratu Aliana dan Raja Erlan itu adalah Mama dan Pa-... Maksudnya Ayah dan Ibuku" kata Erika.


"Oh... Eh!? Apa!? ja.. jadi kau adalah Putri Kerajaan di istana ini!?" tanya Zeydan.


"Ahaha.... bisa di bilang gitu, Dasar..." kata Erika.


"Ng? 'Dasar'? kau mengejekku?" tanya Zeydan.


"Maaf! Maaf! bukan begitu, itu jika aku sedang heran, malu, kaget, takut, dan juga tegang... aku menuruni Mama-.. Ibuku maksudnya" kata Erika.


"Jujur aku mencoba menahannya tapi tidak bisa dan pasti keceplosan!" kata Erika.


"EH!? Ze.. Zeydan! tungguin!" kata Erika.


"Emangnya kenapa?" tanya Zeydan.


"Ukh!!! Tunggu Zayn!!!" Seru Erika.


Zeydan berhenti dan berbalik menatap Erika.


"Zayn?" tanya Zeydan.


"Maaf!! Aku keceplosan Zeydan!" kata Erika.


"Tidak apa"


"Ng?"


"Pakai nama itu saja.... " kata Zeydan.


"Ha? maksudnya?" tanya Erika.


"Kau juga... kau akan ku panggil Eri!" kata Zeydan.


"A.. Anu! aku masih bingung" kata Erika.


"Baiklah! salam kenal Eri! akan ku ajak kamu ke tempat yang bagus! aku pernah kesini jika di ajak Ayah" kata Zeydan.


"O.. Oh.. tapi! bukan Mahrom!! Dasar...." kata Erika mencoba melepaskan genggaman tangan Zeydan.


"Eh? Mahrom itu... apa?" tanya Zeydan.


DOENG!


"Se.. Serius kamu gak tahu!!?" tanya Erika.


"Ho'oh"


"Mahrom itu kata Mamaku, singkatnya... gak boleh bersentuhan dengan lawan jenis!" kata Erika.


"Oh... maafkan aku, ini" kata Zeydan mengeluarkan sebuah kain.


"Ng?" Erika mengikatkan di pergelangan tangannya, sedangkan Zeydan juga gitu.


"Nah... kalau kayak gini bisa jaga jarak kan?" tanya Zeydan mengedipkan sebelah matanya.


"O... Ok"


Akhirnya di tepi bukit tak terlalu jauh dari taman Istana.


"Wah! Serius lho Zayn! bagus banget!! anginnya sejuk! rumputnya juga nyaman banget!! bisa lihat penjuru Istana dari sini!" kata Erika.


"Ah.. iya, duduk dulu.. aku mau kasih tahu sesuatu"


"Ok"