
Toni berhasil membawa pergi Rafa dengan menggendong belakang Rafa.
BRUK!
"Ukh! orang ini... berat sekali... sampai kapan!? aku harus mengejar Nera, apa yang terjadi? aku mendengar suara tembakan tadi" batin Toni.
Drap! Drap! Drap!
"Kak Toni!" panggil Amanda yang menghampirinya.
"Apa yang kalian berdua lakukan disini!? Diki!" kata Toni.
"Semua kebakaran! ini sudah gawat kak!" kata Amanda.
"Kebakaran? karena mu?" tanya Toni.
"Bukan! ini ada yang ngga beres! kak Rafa!? hah!!! Kak Rafa!?" Amanda kaget melihat keadaan Rafa, Amanda langsung mengusap wajah Rafa yang kotor dan terluka.
"Kak Rafa... maafkan aku" batin Amanda.
"Tolong Diki, kau bawa Amanda dan sepupu Andra ke tempat aman, aku mau menyusul Nera, kalian berdua berhati-hati lah" kata Toni.
"Iya kak!" kata Amanda.
Akhirnya Amanda dan Diki yang menggendong belakang Rafa pergi dari sana.
Tiba-tiba....
"AWAS!!!!" teriak Toni dari jauh.
Dor! Dor! suara peluru di tembakkan dua kali.
BRUK!
"Akh! kaki ku!" kata Diki ternyata kakinya tertembak.
"Akh!!!! Ta... tanganku tertembak!" kata Amanda yang lengan kirinya.
"Kalian pikir.... kalian bisa pergi begitu saja?" tanya Rey dari jauh.
"Ukh! Sa... sakit!" kata Amanda meringis.
BRET! Amanda merobek jilbab luarnya yang berwarna krem itu menjadi dua dan mengikatkan luka Diki agar darahnya tidak terlalu banyak keluar, juga mengikat luka Amanda.
"Dasar! pelurunya menancap di lenganku! aku harus berhati-hati agar tidak semakin masuk" kata Amanda.
"Mas Diki gimana!?" tanya Amanda.
"Tolong bawa Pangeran Rafa pergi dulu..." kata Diki.
"Jangan khawatirkan aku! pergilah selagi Toni meladeninya!" kata Diki yang tidak mampu berjalan.
"I.. iya!" Kata Amanda.
Amanda berjalan tertatih-tatih, menahan derita sakitnya tembakan yang dia dapat.
"Mana Nera!?" tanya Toni yang masih disitu.
"Oh... tertimpa seng bangunan dan bebatuan ini kali?" tanya Rey sambil menunjuk.
"Apa!?" tanya Toni.
"Sudahlah! kau tidak usah banyak tingkah Rey!" kata Toni.
"Oh... silahkan cek Nera, aku ngga akan menghalangi.. tapi kau ngga akan tahu apa yang akan terjadi pada mereka" kata Rey yang menarget Amanda, Diki, dan Rafa.
"Rey! sudah! kalau mau balas dendam jangan target mereka!! tidak puas kah kau sudah menembak mereka!?" ujar Toni.
"Heh! kau juga gitu! apa susahnya mengambil keputusan, pengkhianat!? dengan gampangnya kau memilih Nera saat itu" kata Rey.
Toni terdiam untuk berpikir.
"Dasar...!!" Gumam Amanda yang pelan-pelan membawa Rafa pergi.
"Jangan berhenti Amanda! aku akan melindungi kalian!" kata Toni.
"Eh!?" Amanda kaget, tapi tetap membawa pergi Rafa.
"Oh? jadi itu yang kau mau?" tanya Rey.
"Lagipula melihat tanganmu yang sudah di lumpuhkan Nera, berapa peluru yang tersisa Rey? kau ngga akan bisa mengganti peluru dengan 1 tangan!" kata Toni tersenyum.
"Cih!" Rey kesal.
"Lagipula.. Aku percaya Nera bisa menghadapi situasi yang dia alami, karena dia ketua geng cakar naga yang ku kagumi" kata Toni, yang membuat Rey terbelalak.
DOR! bunyi tembakan lagi.
"Kyaa!!!" Amanda tiarap agar Rafa tidak kena.
"Hosh! Hosh! Hosh! apa tadi? aku ngga kena tembakan selain lenganku, kak Rafa juga! itu tadi tembakan meleset atau... " Amanda menoleh ke tempat Toni dan Rey.
BRUK! Toni kehilangan keseimbangan karena terkena tembakan di bagian perut sebelah kiri.
"ukh!"