
"I,... ini, Pangeran Aliandra!? " batin Amanda yang saling bertatapan dengan Presdir.
"Silahkan bicarakan kepada beliau, apa yang ingin dibicarakan" Kata Vandro dengan menatap Monitor.
"Ah! Iya maaf! "
"Dengan segala Hormat Pak Presiden Direktur, nama Saya Amanda. Saya OG baru di Perusahaan ini, saya berada disini dengan alasan menjadi saksi bahwa Ryan sudah berusaha untuk menghentikan sabotase, Oh.... d, dan juga saya sudah menyerahkan beberapa bukti kepada Vian" jelas Amanda sambil menatap Vian.
" Sebuah Recording dan 4 buah memory Card" sambung Vian dengan memperlihatkan kantung ziplok berisi barang bukti yang disebutkan Amanda.
"Jadi-,.... " kalimat Amanda dipotong langsung sebelum selesai.
"Sudah cukup! bukti dan keterangan sudah ditetapkan, kalaupun memang ada pembelaan, perubahan pikiran, atau membantu itu akan di pertimbangkan, Sekarang bawa mereka pergi! " Perintah Presdir.
"Ryan,.... maafkan aku" batin Amanda.
"Dan Pak Kurniawan, saya yakin anda bisa menangani kasus Yudha dan Ryan" kata Presdir.
"Baik, serahkan ini kepada saya" ucap Pak kurniawan dan yang lainnya, sehingga ruangan yang besar itu hanya ada monitor, Amanda, Vian, dan Vandro.
"Untuk Amanda, Vian, dan Vandro terimakasih atas kerja sama kalian terutama kamu Amanda" ucap Presdir.
"I, iya Pak!? " kata Amanda dengan gugup.
"Saya sudah dengar situasimu,.... Mari kita bertemu, 'disana' ya " ucap Presdir yang ucapannya diakhiri dengan senyuman dan menutup monitornya.
"Disana itu,.... di Rosement? " batin Amanda dengan tertunduk dan Vandro melihatnya dengan tatapan iba.
"Aku juga harus pergi untuk memeriksa barang bukti ini" ucap Vian dan berlalu pergi meninggalkan Amanda dan Vandro.
"Eh!! tu,... tunggu itu!! " ucap Amanda yang ingin mencegah Vian.
"sudah tidak usah, Vian yang akan menolong Ryan" ucap Vandro.
"Hah? "
"Vian meminta persetujuan saya saat itu" kata Vandro dengan mengingat beberapa hari yang lalu.
Flashback chapter 24.
"Tentang Ryan, bolehkan ia, ditolong? " tanya Vian.
"Apa!? kenapa? " tanya Vandro dengan kaget.
"Karena orang pintar dan baik, harus bersama-sama" ucap Vian.
"Boleh, tapi ia harus membuktikan bahwa ia juga membantu, kau setuju? " tanya Vandro.
Flashback Off.
" Yudha, kenapa kau tidak membela dirimu? " tanya Vian tanpa menatap Yudha yang dibawa 2 orang satpam.
"Kenapa? kau ingin aku ditolong? sudah terlambat"
"Sayang sekali"
"Hahah! sudahlah Vian! jangan banyak berlagak, lebih baik kau perbaiki sikapmu, jangan sampai orang-orang sepertiku akan muncul lagi dimasa depanmu" ucap Yudha.
Sementara itu Amanda dan Vandro,...
"Amanda, ayo ikut saya" ajak Vandro kepada Amanda.
"Kemana Emangnya Pak? " tanya Amanda.
"Ikut saja, ok? " kata Vandro dengan tersenyum.
"Iya"
Taman AR group kearah luar.
"Amanda! sini! Ryan mau diantar ke pengadilan" kata Riri.
"Baiklah, kami akan berangkat sekarang" ucap Rahmat yang ada disana.
"Eh, tunggu dulu kak! " kata Amanda sambil kearah mobil yang membawa Ryan.
"Ryan, kamu ngga apa-apa? " tanya Amanda.
"Yah, begitulah ibu sangat kecewa saat mendengar pernyataan itu, tapi memang inilah yang pantas kudapatkan, kurasa ibu akan sibuk mengurus semua sanksi yang akan ku Terima" jelas Ryan.
"Jangan menyerah Ryan! aku tahu kamu orang yang baik! berjuanglah! " kata Amanda dengan yakin.
"Mbak Amanda sudah banyak membantu, terimakasih banyak Mbak! " ucap Ryan sambil tersenyum.
"Ryan, kamu harus tetap semangat ya! " ucap Amanda sambil tersenyum dan menyemangati.
"Hmp! terimakasih banyak, Angel! " ucap Ryan dan akhirnya menutup jendela dan pergi.
"Angel, ya? seperti pernah kudengar" batin Amanda dengan mengerutkan Alis.
"Aku mengandalkanmu,.... Angel"
Kata-kata seorang wanita yang asing menurut Amanda.
"Siapa dia? " tanya Amanda dengan pelan, dan menatap iba kepergian Ryan.
"Sudahlah!! dia pantas menerima konsekuensi nya! " kata Ali sambli memutar-mutar kepala Amanda.
"Begini saja, sudah buat kamu lengah, Hati-hati lho! ntar tempatmu bisa kuambil! " bisik Ali pada Amanda.
"Ambil? Ali bisa bicara sebentar? tentu dengan Riri yang berhubungan dengan kasus ini" kata Vandro dengan tersenyum.
"Baik!"
"Wah, Jatuh!? kalau begitu saya ikut-,.... " belum selesai Vandro bicara.
"Tidak apa-apa Pak, saya disini saja" ucap Amanda dengan memegang tas yang ia bawa.
"Saya akan nyusul nanti kok" ucap Amanda lagi dengan tersenyum saat melihat Vandro khawatir.
"Baiklah"
Akhirnya Amanda pergi ke salah satu tempat duduk yang tertutup semak-semak.
"Astaghfirullah! Pak Vandro belum tahu ya? kalau HP ku mati!? " tanya Amanda dengan kaget.
kreseek! kreseek! seperti ada suara dari semak-semak yang dibelakang Amanda.
"Hah!? apa itu!? " batin Amanda dengan mendekat perlahan.
"Vian!? kok bisa disini!? " tanya Amanda yang kaget melihat Vian terbaring tertutup semak-semak.
"Berisik! jangan keras-keras, bisa ngga sih!? " protes Vian dengan mata tertutup.
"A,... aku kan kaget? " Kata Amanda.
"Yaudah, maaf ganggu aku permisi" kata Amanda yang berdiri dan beranjak pergi.
Tit!
"Tidak, jika pembajakan sistem ini berlangsung, Vian ngga akan pernah sebodoh itu! dia orang yang tangkas dan juga pintar! dia pasti sudah punya rencana dalam menghadapi hal ini! " suara Amanda dari dalam recording yang membuat Amanda bingung.
"Hei, kau ini orangnya tidak pernah punya pilihan ya? " tanya Vian.
"A,... apa maksudnya? " tanya Amanda.
"Yah begitulah, kau melakukan hal ini pun tanpa pikir panjang, padahal kau sudah berpikir kalau aku sudah punya rencana" jelas Vian tanpa menatap Amanda sedikit pun.
"I,... itu karena aku berpikir jika Ryan tidak dibantu, maka dia akan-..... " Kata-kata Amanda dipotong.
"Naif sekali" kata Vian.
"Kamu juga!, pak Vandro bilang kamu punya rencana" ucap Amanda.
"Rencanaku selalu sukses, contohnya seperti tadi mau bagaimanapun juga, terimakasih udah bantuin" kata Vian.
"Kalau kamu ngga bertindak dan memberikannya rencana padanya, mungkin aja dia tidak akan dapat membuat bukti yang kuat kalau dia berusaha membantu" kata Vian.
"Oh, Sama-sama" jawab Amanda.
Keheningan berlangsung hingga 30 detik,....
"Ini, tangkap! " kata Vian dengan melemparkan sesuatu.
"Permen? " tanya Amanda dengan bingung.
"Ya"
Vian akhirnya pergi, sampai,....
Tuk! Tuk! Amanda menunjuk bahu Vian.
"Ada apa lagi? apa permennya kurang? " tanya Vian.
"Bisa duduk sebentar? aku ingin bicara sesuatu" ucap Amanda.
Akhirnya mereka berdua duduk.
"Ini, aku ingin memberikanmu ini" ucap Amanda dengan mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya, seperti bekal tapi lumayan besar.
"Aku sangat minta maaf karena telah melukaimu saat di Rosement beberapa Hari yang lalu, aku terlalu terbawa emosi, dan kau bilang kau suka Brownies coklat, bukan? jadi aku membuatnya khusus untukmu, terimalah sebagai permintaan maaf " ucap Amanda dengan menyodorkan tempat bekal yang lumayan besar itu.
"Ini,..... untukku? " tanya Vian dengan kaget.
"Begitulah aku permisi, kita akan bertemu lagi nanti" ucap Amanda dengan tersenyum.
"Erlan,... kita akan bertemu lagi nanti" ucapan seorang gadis cantik sambil tersenyum yang diingat Vian.
"Tu,... Tunggu!! " kata Vian yang membuat Amanda berhenti melangkah.
"Hm? kenapa? apa browniesnya kurang enak? " tanya Amanda.
"Kau! apakah kau itu!?,..... " Kata-kata Vian terhenti.
"Hm? kenapa?" tanya Amanda dengan agak bingung.
"Ti, tidak kau hanya menjengkelkan, karena mengingatkan ku pada seseorang yang memberikan Dasi dan kacamata ini kepadaku" ucap Vian dengan memalingkan wajah.
"Barang berharga Vian" batin Amanda.
"Oh ya Ngomong-ngomong, apakah kamu sudah maafkan aku waktu kejadian di Rosement itu? " tanya Amanda lagi, sekarang jarak mereka berdiri hanya 1 meter.
"Kau ini bodoh atau apa? akulah yang harusnya minta maaf? " ucap Vian.
"Oh, ngga masalah kok, yaudah ngga ada lagi yang ingin disampaikan? " tanya Amanda.
"Kau,... datang ke Rosement pasti karena punya tujuan bukan? " tanya Vian.
"Ya,... begitulah" jawab Amanda.
"Apakah kau,.... ingin kembali?" tanya Vian lagi.
"Eh? emangnya kenapa? " tanya Amanda.
"Bukankah kau Partnerku Di Rosement? " tanya Vian.