The Unifying Butterfly

The Unifying Butterfly
Chapter 24 : Kau setuju?



"Amanda, apa kamu ingin kembali ke Rosement? " tanya Vandro dengan pelan.


"Sa, saya mau bilang,... kalau sudah mengetahui siapa yang mengirim pesan itu" jawab Amanda.


"Apa!? benarkah? " tanya Vandro dengan kaget.


"Iya, ini ada rekaman yang menunjukkan bahwa kalau Ryan adalah yang mengirimkan SMS itu" jawab Amanda.


"O,... oh begitu ya, ok nanti mungkin bisa ada yang lakukan dengan petunjuk ini" ucap Vandro.


"Terimakasih Pak, nanti saya kirim ke Handphone atas rekamannya" kata Amanda.


Flashback Di Rosement setelah Amanda pergi,...


"Hatsyii! kenapa semuanya berjalan sesuai yang tak kuharapkan? " keluh Vandro yang terkena Flu.


"Yo! Vandro! aku dan Rahmat bawa bakso nich! " Kata Vanora dengan berbinar-binar.


"Ng? " Vandro dan Rahmat terbelalak secara bersamaan dan memalingkan wajah mengingat kejadian tadi pagi.


HUH! gerutu mereka.


Grep! Vanora meraih tangan Vandro dan Rahmat dan menjabat tangan mereka.


"Sudahlah! jangan bertengkar! kalian ini sudah seperti Saudara tahu? " ucap Vanora dengan tersenyum.


"Ma, maafkan aku Mat, udah bentakkin kamu tadi pagi" Vandro yang menatap Rahmat dan memalingkan wajahnya lagi.


"Iya, aku juga minta maaf" kata Rahmat dengan wajah datarnya.


"Nih! aku bawa bakso Buatanku isi Pete! ini, kesukaanmu Dro! " kata Vanora dengan senang.


"Ng? memangnya sejak kapan aku suka pete? tunggu sebentar! Vanora bilang buatannya!?" batin Vandro dengan menaikkan satu alisnya.


"Vandro suka Pete? ngga mungkin! orang jengkol aja dia muntah-muntah apa lagi Pete! Dan Vanora bilang Buatannya!? " batin Rahmat yang terkejut.


"Bak, Bakso pete !? ja,..jangan bilang, itu masakan Vanora!!!! " batin Vandro dan Rahmat secara bersamaan dengan mata terbelalak.


"Ah! aku! tidak lapar! " ujar Vandro.


"Aku, harus melihat para staff" kata Rahmat. Mereka berdua mencari alasan.


DUAK! Tembok yang keras itu di tinju oleh tangan kosong Vanora.


"Makan yaaa~~~" kata Vanora dengan mengambil tinjuan tangannya dari tembok sambil tersenyum.


"O,... Ok, baiklah" kata Vandro dan Rahmat secara bersamaan.


"Maksa duuuh! " batin Rahmat.


"tau gitu gak usah aku ijinin belajar taekwondo deh dulu! mana telat lagi ngelarang nya! udah master sabuk hitam! " batin Vandro dengan menyesal.


*GLEK! * suara telanan ludah mereka yang bergidik ngeri, dan mereka saling bertatapan dengan memegang sendok berisi kuah bakso.


"Ini adalah hari terburuk kita Ya? " batin mereka sambil bertatapan.


Malam hari setelah memakan bakso Vanora,....


" A,... aduh! kamar mandiii! sepertinya gara-gara memakan Bakso buatah Vanora! emang dia ngasih apa sih? " ucap Vandro.


"Ng? V,... Vandro? ke,... kena,... Aduuh! perutku! " kata Rahmat yang memegang perutnya, karena kamar Rahmat dan Vandro bersebelahan.


"Pe,... perutku,... sa,... kit! " ujar Vandro.


"DUH! mana sih Pinnya!? " gerutu Rahmat.


Ceklek , Blam!


Flashback Off


"Hiii! diinget lagi makin merinding! aku makan sampai 3 mangkok! dia buatnya banyak banget! " kata Vandro.


TING! Suara Notifikasi pesan di HP Vandro berbunyi.


...*Amanda No. 10...


...Pak Vandro,... saya sudah mengirimkan Rekamannya, yang membuktikan kalau Ryan juga dibalik semua ini, tapi belum pasti dia yang memimpin atau seorang suruhan, sekian terimakasih*....


"Ng,.... mungkin akan ku bicarakan dengan Vian" ucap Vandro.


"Vian! aku sudah tahu seseorang yang menjadi salah satu dari musuh! " kata Vandro.


"Benarkah? "


"Ya! "


"Aku mendapat kabar dari Amanda kalau dia sudah mendapat rekaman kalau Ryan juga terlibat" jelas Vandro.


"Amanda? "


"Ya! "


"Ng,... mungkin akan kulihat, tapi Vandro,... tentang Ryan, bolehkah ia ********? " tanya Vian.


"Apa!? kenapa? " tanya Vandro dengan kaget.


"Karena orang pintar dan baik harus bersama-sama" kata Vian.


"Yah, mungkin saja bisa, kalau ia bisa membuktikan bahwa ia juga membantu,kau setuju? " tanya Vandro.


"Baiklah"


"Ya sudah, istirahatlah" Vandro yang menutup pintu.


"Ya"


"Amanda ya apa dia benar orangnya? " batin Vian