The Unifying Butterfly

The Unifying Butterfly
Chapter 17: Sudut pandang Vandro



Vandro sedang melamun dan memikirkan kejadian kemarin malam.


Pluk!


"Kamu ini! bandel banget sih! disuruh jangan disini! cepat masuk kekamar nanti masuk angin" ujar Rahmat sambil memakaikan selimut kepada Vandro.


"Iya, iya! aku tahu Mat!" ucap Vandro.


"Aku tahu pekerjaanmu sebagai supervisor Rosement, GM di AR group, ngebuat kau capek. Tapi sekarang malah tambah capek lagi!"


"Apa lagi saat Amanda datang, kau malah lebih milih ngasih perhatianmu kepada Amanda, daripada saudara kembarmu sendiri, kenapa? apa dia masih baru disini?" Tanya Rahmat dengan melipat tangan didadanya.


"Jadi, maksudmu perhatian berlebihanku ke Amanda, ngebuat kau berpikir bahwa aku suka padanya atau ada suatu hal begitu? tentu saja tidak" jawab Vandro.


"*N*g? ada suara Kak Rahmat? " batin Amanda yang baru datang.


"Baiklah Mat, jika memang kau ngotot ingin tahu. Bagiku, dia itu beban buatku" jawab Vandro sambil tersenyum mengecewakan.


"Ma-Maksudmu?" tanya Rahmat dengan bingung.


"Entah kenapa dia beban yang membuatku sesak, setiap hari jika aku bersamanya aku harus merasa lebih baik dan lebih sempurna! Dia bagaikan kaca atau berlian berharga yang tak boleh tergores sedikit pun! Etah kenapa Amanda yang sangat biasa itu..."


Vandro menghela nafas mengingat Andra memberi amanah untuk menjaga Amanda, seakan-akan itu adalah amanah terpenting.


"Apalagi ia seperti dianggap sangat spesial oleh 'nya'?"


"Vian saja cukup membuat masalah, apalagi aku kaget sekali kalau Amanda punya penyakit asma! Randi pasti tahu tapi gak bilang!" Jelas Vandro lagi.


"Vandro!! kamu kenapa? kamu sakit? kamu marah sama Amanda?!" tanya Rahmat dengan mengguncang-guncangkan tubuh Vandro, karena tidak biasanya Vandro mengeluarkan unek-unek.


"G-gak, tahu. Aku gak marah, aku gak tahu kenapa, aku mau istirahat, ayo Mat! kita kekamar" Kata Vandro dengan tersenyum, seketika Amanda langsung lari.


"Hm? siapa dibalik tembok tadi?" batin Vandro melihat bayangan yang lantas pergi.


"Vandro, jangan paksa dirimu, ada Vanora dan aku yang akan membantumu" kata Rahmat menahan Vandro yang membuat rasa penasaran Vandro dikalahkan soal siapa yang dibalik tembok tadi.


"Aku gak apa-apa" ujar Vandro sambil tersenyum.


"Vandro, sampai kapan kau akan bersembunyi dibalik senyuman itu dan bilang baik-baik saja?" batin Rahmat dengan melepaskan tangannya dari baju Vandro.


Vandro melirik tembok, "Tidak ada apa-apa, apa hanya halusinasi?"


"Ayo bareng"


"Ya"


Amanda akhirnya membereskan barangnya dan pergi ke luar kamar.


"Huft, terjadi lagi"


"Ayo! tinggal disini ya, tak usah sungkan" kata Amel.


"Iya Tante Amel.


Tante Amel adalah salah satu teman karib ibu angkatku, ia menawarkan tempat untukku berteduh, dan sukarela untuknya menawarkan tempat tinggal padaku.


Semua biaya ditanggung Tante Amel kecuali sekolah, semua kebutuhan sekolah tidak dibayar karena aku menggunakan biaya beasiswa yang ku perjuangankan dari SMP dan juga dari lomba nasional yang membuatku mendapatkan beasiswa.


Tante Amel dan suaminya, Paman Dono selalu saja membuatku senang, dan bersyukur aku ada disana karena membantu mereka.


"Terimakasih Amanda, kamu bisa diandalkan, terimakasih sudah disini" jawab mereka.


Aku selalu berusaha membantu untuk mendapatkan kata-kata tersebut.


Tapi pada suatu hari...


"*T*ante dinda hari ini ulang tahun, kebetulan juga biaya menulis yang aku kumpul sekarang sudah melebihi 15 juta! jadi bisa beli kue kesukaan Tante!" batin Amanda dengan senang.


Saat akan membuka Pintu...


"Maksudmu apa?! Buat hadiah ulang tahun... kamu mau Amanda dikirim ke panti asuhan?!" tanya Dono kaget.


"Kau juga kenapa setuju?! tetangga mulai bergosip Amanda itu adalah anak selingkuhanmu dan Aliza! ibu Amanda!" seru Amel.


"Kenapa keluarga Al Farisi yang kaya raya itu, sekaligus keluarga Aliza tidak mau mengambil Amanda?!" desis Amel dengan kesal.


"Kita akan bicarakan saat ia ujian akhir nanti, kita gak boleh mengganggunya! lagipula Amanda sendiri menolak saat keluarga Al Farisi mau ngadopsi dia" kata Dono.


Amanda akhirnya pergi untuk sementara waktu...


"Amanda? kamu baru pulang? kok sore?" tanya Dono.


"Ng, Tante! ini aku bawa kue Barakallahu Fii umrik ya!" Amanda dengan tersenyum.


"Wah, terimakasih ya Amanda" jawab Amel.


Disitulah aku sadar, bahwa segala apapun yang aku perbuat, tidak akan bisa mengubah statusku sebaga...


Orang luar.


Akhirnya aku mendapat penghasilan yang banyak dari uang yang ku kumpulkan sebagai penulis novel, aku akhirnya kembali tinggal di rumahku, rumah Ibu, tempat harusnya aku berada sejak dulu.


Daripada aku mengikuti orang lain dan diasuh dengan tidak Ikhlas.


Aku... Ingin kembali ke masa-masaku dengan ibu.


Karena dengan ibu lah aku paling merasa nyaman dan diterima meskipun bukan anak kandung nya.