
Keesokan harinya...
Di Studio Vanora...
"Permisi Bu"
"Iya? ada apa?" tanya Vanora.
"Ada perempuan yang mengaku kenal dengan anda, ingin bertemu katanya" kata Gita, salah satu staf.
"Perempuan? ng... coba suruh masuk menghadap saya" kata Vanora dan mulai bersiap dengan segi perlawanannya agar dapat melindunginya jika itu membahayakan dirinya.
Dan pintu terbuka, Vanora akhirnya menyerang gadis itu di bagian lehernya menggunakan kakinya, tapi gadis itu menahan kakinya.
"Penyerangan melalui kaki untuk menyerang area leher dan wajah lawan, sungguh pembelaan yang bagus kak Vanora!" Suara yang sangat familiar oleh Vanora.
"Amanda?!" tanya Vanora.
"Hihi.... Pagi Kak!" ujar Amanda sambil tersenyum.
Semua cerita, tempat, dan lain-lain yang berhubungan dengan kenyataan hanyalah pemikiran Author atau fiktif belaka.
"Amanda!!! i miss you, you know!?" tanya Vanora memeluk Amanda dengan melingkarkan tangannya ke leher Amanda dan mengeratkan nya.
"Y.. Yes, I know sis, But please take this off, it's starting to hurt"
( I.. iya, Aku tahu kak, tapi tolong lepasin ini, ini mulai sakit)
Kata Amanda.
"Oh... sorry" kata Vanora.
"Maaf tiba-tiba aku berkunjung kak, soalnya ngga ada kerjaan, kakak bilang kalau ada pada senin, rabu, dan jum'at tapi karena hanya hari ini aja aku ada waktu jadi ku pastikan saja, semoga kakak ngga sibuk sih hehe" Jelas Amanda.
"Haha! ngga lah! biasanya juga aku cuman ngecek struk daftar" kata Vanora.
"Hihi! ngomong-ngomong aku udah kuliah lho kak! lanjutin S2!" ujar Amanda.
"Serius!?" tanya Vanora.
"Iya kak, i'm seriously" kata Amanda.
"Ok... oh ya, jadi? mau ngobrol apaan nih? kayaknya agak ngebosenin dikit jika kita ngobrol yang kayak gini dan gitu" kata Vanora.
"Ah! gimana Vandro? apakah dia mulai membaik?" tanya Vanora.
"Sebenarnya Pak Vandro-... " Amanda memberhentikan kata-kata nya karena sedikit berpikir.
"Tunggu, kalau aku memberi tau kak Vanora kalau Pak Vandro pernah memarahi ku, dan nanti kak Vanora akan merasa ngga enak hati, gimana dong?" batin Amanda.
"Em, beliau sedang lebih sering menyendiri kak, jadi kurang mau bergaul karena aku, Vian, dan Kak Nera yang ngga bermaksud menguping saat kakak dan Pak Vandro, Em... " Amanda memberhentikan kata-katanya.
"Tidak apa Amanda, kau tidak perlu kaku kayak gitu, aku baik-baik aja" kata Vanora tersenyum.
"Kak Vanora,... Kau-"
"Haha! Alhamdulillah!"
"Berpura-pura senang ya? aku tahu"
Ceklek!
"Lho? ada tamu ya?" tanya seseorang membuka pintu.
"Di biasakan ketuk pintu dulu sebelum masuk" ujar Vanora.
"Maafkan saya Bu!"
Amanda berbalik.
"Lho!? Mas Ryan!?" tanya Amanda.
"M.. Mbak Amanda!?" tanya Ryan.
"Jadi, Mas Ryan kerja disini kak?" tanya Amanda.
"Begitulah, ada apa Ryan? apakah ada urusan?" tanya Vanora.
"Ah iya! begini bu, ada beberapa barang dan desain baru yang telah di kirim kemari, untuk mengeceknya anda bisa melihatnya di via email" Jelas Ryan agak salah fokus.
"Baiklah, terimakasih.. kamu boleh pergi" kata Ryan.
"Te... Tentu Bu" kata Ryan.
BLAM!
"Kak Vanora, ini aku buat brownies buat kakak" kata Amanda.
"Wah! jadi ngerepotin! makasih! tapi, kayaknya kamu kelihatan mau pergi lagi ya?" tanya Vanora.
"Haha! iya kak, aku mau ke rumah temanku" ujar Amanda.
"Oh! begitu ya, ngga bisa lebih lama lagi ya?" tanya Vanora.
"Ahaha, sayangnya ngga bisa kak, tapi mungkin lain kali, Dasar... " ujar Amanda.
"Apa aku beritahu tentang kedatangan Rafa-Nii di Rosement? ng,... sebaiknya jangan deh, ntar kayak kak Nera pula, lagipula kak Vanora belum tentu bakalan maafin Rafa-Nii karena Rafa-Nii pernah nyakitin Pak Vandro" batin Amanda.
"Amanda? kenapa melamun?" tanya Vanora.
"Hihi, ngga apa kak!"
"Kalau gitu, makan brownies bareng yuk!"
"Aku puasa kak, ya udah kak... maaf udah ganggu, permisi" kata Amanda.
"Oh, baiklah"
Amanda berada di depan studio Vanora.
"Em... Permisi"
"Iya?"
"Lho? mas Ryan? ada apa?" tanya Amanda.
"Ng, ngga.. saya mau bilang, terimakasih!" kata Ryan membungkukkan badannya tanda terimakasih ( ala masyarakat jepang).
"Eh!? ma... makasih apa Mas?" tanya Amanda.
"Ya, karena Mbak Amanda dan Mas Vian udah nolongin saya, jadi saya ngerasa ngga enak kalau ngga berterimakasih lebih besar dari ini" ujar Ryan sambil memperbaiki kacamatanya, dia benar-benar mirip mahasiswa culun.
"Ngga apa Mas, itukan udah berlalu, tidak apa... tidak perlu di perbincangkan lagi tidak masalah kok! saya dan Mas Vian membantu mana yang benar dan memperbaiki yang salah, Mas Ryan waktu itu ada di pihak yang benar kan? sedangkan... Mas Yudha ada di pihak yang salah, jadi dia pantas mendapat apa yang dia lakukan" Jelas Amanda.
"Em, kalau begitu... ada yang lain tidak Mas? yang ingin di bicarakan mumpung masih disini?" tanya Amanda.
"Ah, Ngga, Ngga ada... Makasih Mbak, tolong sampaikan juga pada Mas Vian ya" kata Ryan.
"Baik.. akan aku sampaikan pada Mas Vian, kalau begitu saya permisi" kata Amanda.
"I.. iya"
Di Ruangan Vanora....
Vanora memakan brownies buatan Amanda.
"Melihat Amanda seperti itu ya? saat dia, Vian, dan Nera menguping kami tentu Vandro marah besar, tapi Amanda masih berusaha untuk meredakan amarah Vandro, dan mulai berbicara dengannya, sedangkan aku? yang saudari kembar Vandro saja tidak bisa seperti Amanda? pantas aku di benci, yah Amanda. Aku tidak akan pernah bisa menang darimu" batin Vanora sambil tersenyum.
Di mobil Amanda....
Amanda sedang dalam perjalanan menuju rumah Putra.
"Kak Vanora,... meski bukan urusanku, aku akan membantu sebisaku"