
Sesampainya saung....
"Eh!? apa.. apa yang terjadi?" tanya Amanda yang datang bersama Pak Andi di saung.
Ya... wajar saja, saung terlihat sangat berantakan, makanan kucing yang berhamburan, air tergenang dimana-mana... dan? dimana Rafa?.
"Kenapa ini? Loli? Belang? Moi? Rafa-Nii! dimana mereka?" tanya Amanda.
"To... Tolong" rintih seseorang dari dalam ruangan.
"Eh!? Rafa-Nii!?" tanya Amanda langsung berlari menuju arah suara.
Akhirnya Amanda dan Pak Andi sampai ke ruangan.
"To.. Tolong dong" Rafa terlihat sedang di kerubuni banyak kucing.
"Wah... kayaknya Rafa-Nii sudah punya banyak teman ya, hihi" kata Amanda.
"Nak Rafa memang hebat" kata Pak Andi.
"Iya... makasih pujiannya, tapi tolong dulu... berat" kata Rafa.
"Eh!? iya! iya!" kata Amanda.
"Ok... Loli dan Belang, juga Moi, turun ya" kata Amanda.
"Meong" Loli dan Belang menatap murung pada Amanda.
"Ja... jangan duduki Rafa-Nii... nanti Rafa-Nii kecapean, sini ya, ntar aku kasih ikan" kata Amanda.
Loli, Belang, Moi, dan kucing-kucing lainnya langsung meninggalkan Rafa dan pergi mengerubuni Amanda mendengar kata 'Ikan'.
"Iya... ok, Kakek... Rafa-Nii, aku mau kasih makan mereka ya" kata Amanda.
"Ya"
Akhirnya Amanda selesai memberikan makan semua kucing-kucing.
"Alhamdulillah,... kita siap-siap nyiapin buka puasa yuk! udah jam 16.00 lho!" kata Amanda.
Amanda, Pak Andi, dan Rafa pergi ke dapur...
Di Dapur...
"Oh? sudah datang?" tanya Rahmat.
"Astaghfirullah!!! Kak Rahmat!! ini baru jam segini kenapa menu makanan udah ada 5!? Dasar... "kata Amanda kaget.
"Yah,... biar ngga terburu-buru, lagipula yang buka puasa kan lebih dari 5 orang kan?" tanya Rahmat.
"Iya sih, oh ya! Pak Randi dan Vian kemana?" tanya Amanda.
"Tuh" tunjuk Rahmat.
"Astaghfirullah!! kok Vian dan Pak Randi!? merah-merah tangannya?" tanya Amanda.
"Iya,... tadi gara-gara goreng ikan" kata Randi.
"Lho? bukannya aku udah bilang bisa pakai tepung ya?" tanya Amanda.
"Astaghfirullah... jadi? Pak Randi dalangnya nih?" tanya Amanda.
"Tahu nih! tapi kau selamat karena lagi puasa Randi" kata Vian.
"Yah.. untung saja aku kebetulan datang" kata Rahmat.
"Makasih Mat" ujar Vian dan Randi.
"Ya"
"Ahahaha, Pak Randi sendiri dokter tapi mungkin pangkat nya akan turun menjadi kandidat Pasien karena kejadian ini deh" batin Amanda sambil tertawa heran.
"Kalau gitu... aku akan membantu Kak Rahmat karena ini" kata Amanda.
"Makanya, kualat kan kau si gondrong!" kata Rafa pada Vian.
"Grr"
"Rafa-Nii... sudah" kata Amanda.
"Iya... kalau gitu, sekitar ada 55 menit sebelum buka puasa tiba, kita bantu Nak Rahmat dulu agar lebih cepat ya" kata Pak Andi.
"Ya!"
Akhirnya, mereka pergi untuk siap-siap buka puasa.
"Menu buka puasanya berbeda ya kak?" tanya Amanda.
"Iya... ada kurma, madu, nasi, steak daging sapi, jus jeruk, acar, kerupuk" kata Rahmat.
"Ya Allah... maaf kak! aku ngga sempet bantu!! soalnya aku-" belum selesai Amanda bicara.
"Ngga apa,... soalnya aku kan memang yang sudah masak disini" kata Rahmat datar.
"I... iya sih"
"Walau begitu... Kak Rahmat rupanya overpower" batin Amanda.
Allahu akbar! allahu akbar!
"Wah! adzan! alhamdulillah! ayo buka puasa" kata Amanda.
"Ayo! baca doa" kata Rafa.
Bismillahirrahmanirrahim
Allahumma lakasumtu wabika amantu, wa'ala riskika afthortu birohmatikaya arhamarrahimin
Bismillahirrahmanirrahim
Dzahabadzhoma'u wabtallatil uruku watsabatal ajru insya Allah
"Yuhu!! bersulang!" kata Rafa.
"Ya!"
"Akhirnya aku hampir meraih impianku... mempunyai orang-orang yang kusayangi dan aku cintai, mereka adalah salah satunya.. kebersamaan memang menerangi hidup"