
"Eh? temani? ada apa memangnya Pak? apa ada yang mau di bicarakan? tidak akan ada yang dengar kan?" tanya Amanda.
"Tidak, ini ruangan kedap suara, setiap ruangan yang di pastikan itu kedap suara, tidak perlu khawatir" Jelas Vandro.
"Oh, begitu, baiklah apa ada yang ingin anda bicarakan?" tanya Amanda.
"Itu, sebenarnya..." Vandro dari tadi tidak bisa melanjutkan perkataannya saking gugup hanya berdua di ruangan.
DEG! DEG!
TIK! TIK! TIK!
Suara degupan jantung bersamaan dengan bunyinya jam dinding.
"Sebenarnya...!"
CEKLEK!
"Eh?" Amanda dan Vandro berbalik ke arah pintu mendengar pintu di buka.
"Lho? Onii-chan?" tanya Amanda.
"Rafa?" tanya Vandro.
"Hm... aku ke sini mau antar ini, makanan kotak" ujar Rafa menyerahkannya ke Vandro, tapi Amanda mengambilnya dan meletakkan nya di meja.
"Makasih Rafa-Nii, Donatnya untuk Pak Vandro... dari Rafa-niichan kah? hihi" ujar Amanda tertawa.
BLUSH!!!!
"Eh?! ngga! ngga! huh! ya udah aku pergi dulu mau bantu Rahmat" ujar Rafa.
"Rafa makasih ya" ujar Vandro.
Rafa berhenti mendengar itu, tapi langsung kembali jalan.
"Rafa-niichan jangan bohong di bulan puasa" ujar Amanda.
"I.. Iya"
BLAM!
"Baiklah, apa yang ingin Pak Vandro katakan?" tanya Amanda.
"Itu,... apakah kamu, masih marah padaku?" tanya Vandro.
"E... Eh?"
Di Ruang kerja Andra...
Andra menghembuskan nafasnya perlahan.
"Vandro... kenapa kau seperti ini makin lama kau semakin berbeda, berbeda dari dirimu yang dulu" gumam Andra.
"Apa ada masalah yang tidak bisa kau ceritakan padaku? apa aku pernah berbuat salah yang membuatmu berubah?" tanya Andra sambil menatap foto Ayahnya yang menggunakan pengikat kepala biru.
"Papa... apakah ada yang ku perbuat salah?" tanya Andra sambil menggenggam pengikat kepala ayahnya dan meremasnya dengan telapak tangannya.
Kembali ke ruang kesehatan...
"Ma.. Maksud Bapak?" tanya Amanda.
"Aku rasa,... kau masih marah karena, aku membentak mu" ujar Vandro.
"Iya, itu... hanya saja, aku ingin minta maaf tapi selalu saja ada halangan yang ada" ujar Vandro.
"Oh, jadi yang ingin Pak Vandro katakan di dapur sebelum pertengkaran kak Nera dan Rafa-niichan waktu itu ini?" tanya Amanda.
"Benar, yang pasti aku ingin minta maaf, meski kamu tidak memaafkan ku" ujar Vandro.
"Ah,... saya, sa... saya" Amanda langsung berbalik membelakangi Vandro dan menatap pintu.
"Tolong berikan saya waktu 3 hari untuk memikirkan itu, Pak" kata Amanda sambil membuka pintu.
"Mm... baiklah, ini keputusanmu, aku tak mempunyai hak untuk melarang mu, pikirkan keputusanmu untuk 3 hari ke depan" kata Vandro.
Saat Amanda akan keluar.
"Keputusan apa? 3 hari ke depan?" tanya Vian.
"Vi... Vian?!" tanya Amanda melihat Vian tepat di depannya.
Amanda berbalik menatap Vandro.
"Em, tidak ada apa Vian" ujar Vandro.
"I.. iya, kau kesini ngapain?" tanya Amanda.
"Tentu saja ingin menjenguk Vandro, tapi keputusan apa?" tanya Vian.
"Ti, Tidak ada apa-apa!!" ujar Amanda sambil berlari keluar.
"E, Eh?!" Vian agak merasa aneh dengan tingkah Vandro dan Amanda.
Vandro sudah tertidur karena meminum obat tidur.
Akhirnya Vian menaruh bingkisan untuk Vandro dan mengejar Amanda.
Di atap beranda Rosement....
"Ngga ada? Ukh!!! Mataku" rintih Vian dan memutuskan akan pergi ke Andra.
Di Lingkar dalam...
"Andra!"
"Ada apa Vian?" tanya Andra melihat Vian memegang kedua matanya.
"Tidak tahu! mataku terasa sakit!" ujar Vian.
"Biar saya lihat Nak" kata Pak Andi.
Vian perlahan menyingkirkan tangannya dari kedua matanya.
"Eh?! ini" Andra kaget melihat mata Vian.
"Apa?"
"Sepertinya nak Erlan berhasil membangkitkan mata khas klan Kitagawa" ujar Pak Andi.
"Eh?! Lho!? maksudnya?" tanya Vian.
"Ya, mata Turquoise"