The Unifying Butterfly

The Unifying Butterfly
Season 4 Chapter 28 : Semoga cepat selesai



"Paman... "


"Andra, maafkan paman, tak apa jika kau tidak ingin memaafkan Paman"


Flashback...


"Ana, apakah kamu pernah marah pada seseorang?" tanya Andra.


"Em, tentu saja pernah"


"Apakah kamu memaafkannya?" tanya Andra.


"Yah begitulah"


"Ng? segampang itu? apa yang terjadi jika masalah itu benar-benar besar?" tanya Andra.


"Sebesar apa maksudnya kak?" tanya Amanda.


"Yah, besarlah... masalah itu malah terlibat dalam urusanmu, karena ingin ikut campur" kata Andra.


"Em, kita harus tahu... apakah dia minta maaf itu benar-benar tulus atau tidak, dan apakah dia benar-benar akan merubah sikapnya dan tidak mengulang lagi, lalu juga jika dia benar-benar menyesal maka beritahu masalahnya, dan apa sebenarnya maksudnya, dan beritahu seperlunya, kalau bisa semuanya kak!" kata Amanda.


"Maksudnya?" tanya Andra.


"Maksudnya jika maksudnya itu baik, tapi menggunakan cara yang salah, lalu kita juga menginginkan hal yang sama dan cara kita benar, lalu kita mendapatkannya duluan, maka kita perlu memberitahunya dan meluruskan kesalahpahaman ini"


Flashback Off...


"Paman, saya memaafkan paman" kata Andra.


"Eh?"


"Ya, saya maksudnya aku memaafkan Paman" kata Andra.


"Kenapa? padahal aku kan-... "


"Selama ini Paman tidak sadar, sering merenung tapi tak juga membuka mata yang benar, tapi karena kali ini benar-benar jujur, lagipula... kata Ana aku harus memaafkannya selagi bisa dan masuk kategori" kata Andra berusaha memancing.


"Begitu... Ng? Ana?! maksudnya!!" Adimas kaget.


Andra tersenyum pada Adimas.


"Andra... kamu?! telah,... kamu!?" tanya Adimas tidak percaya.


"Ya Paman, aku sudah menemukan satu-satunya keponakan perempuan Paman" kata Andra.


"Tapi, bagaimana?! Paman! Paman justru senang!! tapi-... " Adimas menangis bangga pada Andra tapi kurang mengerti.


"Hmf... tenanglah Paman, tapi tolong rahasiakan dulu hal ini... ada masalah lain yang perlu ku selesaikan sampai tuntas, tolong jangan ganggu" kata Andra.


"Kalau begitu, silahkan istirahat di kamar istana bagian kanan ya"


"Ya"


Adimas pergi ke kamarnya dan hendak membersihkan diri.


"Ana... telah di temukan, kak Arif,... Ana telah ketemu terimakasih! maafkan aku karena telah semena-mena pada kedua anakmu, aku sekarang percaya pada Andra" batin Adimas dengan senang.


Di Ruangan Andra...


Andra tersenyum lega, dan melihat tanggal.


"Sekarang tanggal 10 ya.. semoga masalah cepat selesai" batin Andra sambil memikirkan kejadian.


Flashback...


"Nera? ada apa?" tanya Andra.


"Aku, memutuskan untuk keluar dari keluarga Harrison" kata Nera.


Andra tersentak.


"Ada apa Ra? kenapa tiba-tiba?" tanya Andra.


"Keluarga itu terlalu menekan ku, sebelumnya mereka juga telah mengizinkanku dengan syarat mereka tetap membiayai seluruh kebutuhanku" kata Nera.


"Ra... bukankah itu berlebihan?" tanya Andra.


"Tak apa Ndra, aku disini bertujuan untuk menyelesaikan semua masalah yang ada, mengingat aku dan Rey menculik mu dulu karena keluargamu menuduh anggota keluargaku yang katanya sempat terlibat dalam penculikan mu dan adikmu, maksudnya?" tanya Nera.


"Nera, andai kau lebih tenang, saya mungkin bisa lebih mempercayaimu, tapi tenang saja... setelah masalah ini selesai, saya akan memberi tahu semuanya" kata Andra.


"Aku harap cepat, aku tidak sabar untuk hal ini... kau mengerti?" tanya Nera.


"Kalau begitu, baiklah... bagaimana jika kau akan tetap bekerja sama dengan saya? membantu beberapa urusanku gitu? sebagai bayarannya karena hal ini perlu saya beritahu secara luas" kata Andra.


"Oh? menarik, baiklah! deal! jika masalahmu semua selesai, beritahu semuanya di umum dan media, bagaimana?" tanya Nera.


"Baik, saya sepakat" kata Andra.


"Oh ya, saya dengar Amanda akan wisuda tanggal 12 ya?" tanya Andra.


"Benar, aku akan datang! aku tidak sabar ingin melihatnya memakai topi toga" kata Nera.


"Sepertinya kau sangat menantikannya ya?" tanya Andra.


"Pasti!"