
Ibu... Ya, ibuku selalu saja menenangkan ku saat bermimpi buruk, tapi... aku ingin ibu jangan terlalu bimbang dan khawatir padaku, karena aku ingin ibu fokus pada proses penyembuhan nya.
"Begitu kaget saat aku ke laboratorium ibu, menerima kenyataan kalau ibu di bunuh dengan cara diracun yang menimbulkan penyakitnya"
"Benar-benar saat aku membaca kalimat itu.... aku sangat marah, bahkan emosiku sempat meledak-ledak, beraninya membunuh ibuku.... Dia akan rasakan pembalasan yang sebenarnya yang lebih menyakitkan, aku akan mencari siapa yang membunuh ibu... Pasti!!!" batin Amanda sambil berjalan ke arah kamarnya.
Ceklek! Blam!
"Hah! emang enak rebahan, ku telepon dulu deh, makasih ya Zaki" kata Amanda sambil tersenyum.
KRIING!!! KRIIING!
Tut! Telepon tersambung.
"Halo.... Erlan" kata Amanda.
"Ha... halo A... Amanda" kata Vian tiba-tiba di telepon.
"Kenapa Amanda bisa tahu nomor ponsel untuk Erlan? maklum aku punya ponsel 2, satu Untuk Vian dan satu lagi untuk Erlan agar tidak ada yang curiga, aku juga sudah meminta Professor untuk memodifikasi Ponsel untuk Erlan agar saat aku menelpon otomatis suaraku akan seperti Erlan karena Professor sudah menambahkan perubah suara di dalam ponsel agar tidak perlu bingung" batin Vian.
"Apa kabar Lan?" tanya Amanda.
"Baik... Kok" kata Vian dalam suara Erlan.
"Ng? kok suaramu seperti otomatis?" tanya Amanda.
"Ma... Maksudmu?" tanya Vian.
"Ya... itu seperti perekam atau ada sesuatu di ponselmu" kata Amanda.
"Ngga kok! Ngomong-ngomong gimana bisa tahu nomor ponselku?" tanya Vian.
"Dari Zaki, tapi aku ngga minta lho, kamu kasih ke Zaki ya?" tanya Amanda.
"Apa!? kapan..... tu ... tunggu sebentar!" Vian mengingat sesuatu.
Flashback on Season 2 Chapter 46 :
"Lan.... minta nomormu dong" kata Zaki.
"Ya, tunggu" kata Vian.
"Lho? Ponselmu ada dua ya?" tanya Zaki.
"Terpaksa, satu buat ponsel saat aku jadi Vian, satu lagi ponsel untuk orang-orang yang tahu aku Erlan, tapi Ponsel buat Vian ini untuk kerja" kata Vian menjelaskan.
"Oh, ok sini nomor ponsel Erlan aja yo" kata Zaki.
"Hm, tunggu" kata Vian.
Flashback Off....
"Aseem Zaki!!!! " pikir Vian yang akhirnya ingat.
"Aha, aku hanya ingat memberikannya ke Zaki" kata Vian.
"Hihi, maaf yo Lan, maksudku Sovian, pembalasanku karena kau menyembunyikan identitas mu belum bisa ku hentikan sekarang" kata Zaki tersenyum.
Di Rosement...
"Kenapa kau jarang kembali ke Helvetia? kenapa tidak pernah memberi kabar? jika terjadi sesuatu padamu?" tanya Amanda.
"Kau.... Khawatir?" tanya Vian.
"Ng... Ngga! kan cuman nanya! kamu kan ngga mandiri!" kata Amanda agak malu.
"Oh ya, kau tau tidak? kalau aku menemukan fotomu, ibuku, dan Kak Elena lho!" kata Amanda.
"A... Apa!? Amanda tahu!?" batin Vian.
"Dimana!?" tanya Vian.
"Ah, tidak apa-apa... " kata Amanda.
"Foto itu... ya, itu diambil saat aku sudah meminum kapsul itu, dan... aku meminta tolong kepada Tante Aliza yang seorang ilmuwan untuk menemukan penawar obat itu, tapi... kenapa Tante Aliza seperti menyembunyikan sesuatu? dan... organisasi?" batin Vian.
"Erlan, kau kapan kembali?" tanya Amanda.
"Entah, aku akan.... usahakan cepat kembali, sampai urusanku... selesai, kau ingat saat karyawisata di kota Yoshino?" tanya Erlan.
"Karyawisata? 5 tahun yang lalu kan? saat insiden itu" kata Amanda.
"Insiden itu... ya, setelah aku pulang dari karyawisata.... ibu.... " batin Amanda.
"Apakah ada kaitannya dengan urusanmu disitu?" tanya Amanda.
"Bukan, tapi berkaitan denganmu, maksudnya kita... berdua" kata Vian agak malu.
"Ng.... Entah, aku kurang tahu, aku... entah deh! kau cepat kembali lho ya!" kata Amanda.
"Ya, ya" kata Vian dengan muka Erlan yang tersenyum.
"Kangen ya?" tanya Vian.
"A... Apa!?" tanya Amanda tidak percaya tapi malu.
"Jujur saja, aku juga kangen kok" kata Vian yang mukanya merah, saaaangaaat Merah.
"Aku... Ka... ka... kangen juga kok" kata Amanda.
"Anu.... udah dulu ya" kata Vian.
"Ya, dah" kata Amanda.
Tut!
"Maluuu! napa sih Lan!?" tanya Amanda.
"Duh, ni hidung bisa ngga berhenti mimisan? aku sakit atau kenapa sih?" tanya Vian yang masih salting.