
CRING! Aika langsung mengambil sebagian kesadaran Amanda dan mengaktifkan Silent miliknya.
BRUK! Karena radiasi silent membuat mereka pusing dan tidak akan sadarkan diri.
"Ukh! Apa yang kau lakukan!!?" tanya Amanda sambil memegang kepalanya yang pusing.
"Karena radiasi itu, kau mungkin belum terbiasa... kita akan membicarakan ini nanti, kita harus cepat menemui Hikaru! aku juga ingin tahu apa yang dia maksud keturunan Fujiwara itu" kata Aika.
"Ya!"
Amanda terus menyusuri secara perlahan, suara tanda ada penyusup di markas gerakan pemberantasan membuatnya harus tetap hati-hati.
"Aku bisa firasat, kalau kak Andra tidak ada di dalam markas ini" kata Amanda.
"Bagaimana kau bisa yakin? apakah kau menggunakan silent mu?" tanya Aika.
"Tidak, dimensi astral... adalah dimensi yang diisi dan di huni oleh Shinobi, Agen, Orang berilmu, Pasukan pengintai, militer khusus, dan juga adalah orang yang berasal dari klan terkemuka! Kak Andra pernah mengajariku sebagian" Jelas Amanda.
"Jadi?"
"Aika, sebelumnya kau mengatakan kata pemindai kan?" tanya Amanda.
"Ya... tunggu! Jangan-jangan!!"
"Ya... Kau sendiri penyebabnya! Dasar... " kata Amanda dengan kesal.
"O.. Oh, mungkin karena silent ku yang tidak terdaftar jadi begini ya?" tanya Aika.
"Mungkin aku masuk kesini segampang ini karena auraku sama dengan kak Andra ya? hah! Memang kau! malu-maluin keluarga tujuh turunan saja!" kata Amanda.
"Lah? kau adalah keturunan termuda Fujiwara kau tahu? dan klan kita mencapai generasi ke 10 saja saking panjang umurnya mereka!" kata Aika.
"A.. Apa!!!?" teriakan Amanda membuat para prajurit langsung kaget.
"Yumna!!!" Seru Aika.
"Maaf!" kata Amanda sambil memakai hoodie alias jubah yang menutupi wajahnya dan berlari dengan cepat.
Semua pasukan berhasil dia buat tidak sadarkan diri, dia berhasil menuju pintu besar terakhir.
"Apakah ini ruangan kak Andra?" gumam Amanda dan akan membukanya.
SRING!!!
Amanda langsung menghindari itu.
"Serangan jurus taring air!?" batin Amanda dan melihat ke atasnya.
BRET! Sedikit ujung bawah jubahnya robek karena jurus itu.
"Sudah ku duga... jurus ini memang tidak bisa di pandang rendah" kata Amanda.
"Berhenti disitu"
Dan itulah... pertama kalinya aku bertemu Edward.
"Penyusup... ya? aku akui kau sangat handal dalam menyusup, sampai-sampai kau tidak terkena pemindai... apakah kau orang luar?atau orang dalam yang telah terdaftar tapi berkhianat?" tanya Edward.
"Siapa dia? kenapa tampangnya terlalu sewot, datar tapi tidak seperti kak Rahmat, dingin, bermata tidak terlalu sipit, wajahnya... mengingatkanku pada kak Toni yang bermuka aneh dan menyebalkan" batin Amanda.
"Sayangnya, kau tidak berwenang untuk menanyakan hal itu padaku? jadi... untuk mempercepat bagaimana jika kau beritahu, dimana ruangan lord seventh?" tanya Amanda dengan mengubah suaranya.
"Ya ampun! mengubah suara memang sangat sulit, seharusnya aku tidak meremehkan Andromeda! Dasar... " batin Amanda.
"Aku tidak akan mau memberitahunya padamu jika itu malah merugikan ku... kuharap kau bisa mengambil pelajaran, kalau kau sudah salah langkah datang kesini" kata Edward.
"Yumna... gunakan sebagian energi Silent-ku agar bisa melihat pergerakannya!"
"Ya"
Edward mulai mengeluarkan pedangnya dan tali pemanjat.
"Hei, sebaiknya kau turunkan itu" kata Amanda.
"Kenapa?"
"Jika dalam beladiri biasa aku tidak akan keberatan" kata Amanda.
"Tapi.. apabila lawan mengeluarkan senjata.. disitu aku akan menganggapnya perang" kata Amanda sambil kuda-kuda.
"Aku harus memperhatikan celah dan melihat kelebihannya" batin Edward.
"Sepertinya ini akan jadi pertarungan yang seru" batin mereka berdua sambil tersenyum mengintimidasi.