The Unifying Butterfly

The Unifying Butterfly
Season 2 Chapter 98 : Menjelaskan



"Kenapa tiba-tiba? Payah!" kata Rafa sambil menangis mengusap air matanya.


Azka juga ikut menangis, Andra yang berada di belakang Azka memperhatikan.


"Fufu, baru pertama kali saya melihat kalian terharu begini sampai menangis" kata Andra dengan formalnya, sambil menaruh kacamatanya di kancing bajunya.


"Bwah! siapa yang nangis?" tanya Azka salfok.


"Aku ngga nangis! Uhuk!" kata Rafa.


"Oh ya Rafa, tadi kau menyebutkan nama Amanda, siapa dia? pacarmu? mau ayah cari?" tanya Azka.


"Ayah! dengar! tentang Amanda, Amanda itu-... Eh!?" Tapi sesuatu telah menghentikan perkataan Rafa.


Andra menatap tajam Rafa sambil menempelkan telunjuknya ke bibirnya, mengisyaratkan untuk diam.


"Ada apa?" tanya Azka.


"Ti... tidak, bukan apa-apa, aku hanya mau istirahat" kata Rafa.


"Azka" panggil Adimas dari luar.


"Tunggu sebentar!" kata Azka sambil keluar.


Andra mendekati Rafa.


"Andra... "


"Rafa, tolong diam soal Amanda, hanya denganku saja boleh bicaranya, kau tidak berpikir kan? apa yang coba mereka lakukan padaku?" tanya Andra dengan tatapan serius sekaligus tajam.


"A... Aku"


"Aku sudah pernah melihat beberapa apa yang di maksud Andra, tentang Bagas Abifandya.... padahal waktu itu penculikan Andra dan Ana belum terjadi... juga saat aku sudah membaca beberapa catatan rahasia paman Adimas, penyelidikan tentang kasus kematian Paman Arif dan Tante Afifah yang terasa janggal... kalau itu bukan lah kecelakaan" batin Rafa.


"Andra... ada yang harus aku bicarakan dengan mu" kata Rafa.


"Hubungi aku di Ponsel" kata Andra.


Rafa menarik Andra dan langsung mendekatkan mulutnya ke telinga Andra untuk membisikkan sesuatu.


DEG! Jantung Andra berdegup kencang mendengar hal itu.


"Sedang bicara apa?" tanya Azka.


"Tidak, aku harus kembali ke Istana untuk menandatangani beberapa dokumen juga menulis beberapa kertas urusan perusahaan" kata Andra.


"I... iya" kata Rafa.


"Oh ya Paman Adimas dimana yah?" tanya Rafa.


"Sudah datang dari pagi, tapi lagi di halaman rumah sakit tadi" kata Azka.


Andra keluar dari gorden.


Andra dan Adimas saling bertatapan, Adimas menatap Andra dengan tatapan agak iba, sedangkan Andra menatap Adimas dengan tatapan yang sangat dingin.


"Paman" gumam Andra.


"Andra" gumam Adimas.


"Yang mulia Raja" sapa Gilang.


Andra hanya lewat saja, dan berjalan sambil memikirkan apa yang terjadi beberapa hari yang lalu...


Flashback On....


Lokasi insiden Geng cakar naga...


"Nera, kau baik-baik saja? bagaimana dengan Rey?" tanya Andra saat berpapasan dengan Nera.


"Rey sudah mati" ucap Nera.


DEG!


"Ng? ada apa?" tanya Andra melihat Nera yang wajahnya benar-benar kesal, sangat menyeramkan.


"Dia di tembak oleh seorang pria bertopi! aku gagal mengejar pria itu! semuanya jadi kacau!" geram Nera.


Flashback Off...


Rafa


Andra... on ngga?


^^^Kau bilang, kalau paman ingin menyelidiki kematian mendiang ibu dan ayahku?^^^


Begitulah, aku waktu itu mau cari buku bacaan, tapi aku menemukan buku yang berisi catatan, dan tulisannya... seingat ku, segel! ya! segel!


"Segel " batin Andra.


"Ibu dan Ayahmu meninggal karena menyegel sebuah Arwah demi melindungi orang banyak"


"Ucapan Perseus waktu itu... " gumam Andra.


"Apa ini ada hubungannya dengan Klan..." batin Andra terhenti.


"Sudah, sampai Tuan, kita sudah sampai di istana negara" kata Radith.


"Oh... tentu, terimakasih" kata Andra.


"Iya Tuan.


Akhirnya Andra dengan memakai jubah Rajanya memasuki lingkungan istana di kawal dengan Radith dan beberapa prajurit.



Di ruangan kerja Andra....


"Maaf udah lama nunggu" kata Andra.


"Lama banget lu Ndra! sampai aku dan Pak Andi perlu pakai lift kapsul segala!" kata Randi.


"Ya kan lebih Aman" kata Andra.


"Langsung saja bicara"


"Ok... mulai dari mana?"