
Tempat, waktu, cerita, dan apapun yang dalam cerita ini hanyalah fiktif belaka.
"Duh! 7 menit pula! gimana nih!?" tanya Amanda.
"Nyalakan sekarang pemancarnya! kalau ngga salah waktu di hapus nya virus itu hanya 6 menit! kita unggul 1 menit!" ujar Radith.
"Emangnya ini lagi liat pertandingan sepak bola? unggul 2 angka?" batin Amanda.
Lalu Andra menyalakan antena itu, dan mulai menumpas virus itu perlahan.
..._________...
"Ng!"
"Kenapa kak Roy?" tanya Peter.
"Ada yang ingin menumpas virus buatan organisasi, baiklah, kita lihat... apakah mereka bisa menumpas virus buatan organisasi kita"
..._________...
19%
"Duh! cepetan dikit bisa kagak?"
"Ini butuh proses, jangan berisik!" kata Amanda.
27%
"Masih lama ngga?"
"Astaghfirullah Vian, lagi puasa lho ini, kalau kau ribut terus lebih baik diluar" kata Andra.
"Iya, maaf"
58%
57%
"Eh!? Virusnya juga bertambah, tapi kita lebih unggul 1%" kata Amanda.
"Artinya karena pemancarnya cepat" Ujar Vian.
89%
89%
"Eh!? Tiba-tiba saja sama!"
...__________...
"Kita bisa unggul sedikit dengan mempercepat durasi nya"
...__________...
"Duh! mereka malah mempercepat durasinya!" kata Radith.
"Kalau gitu... kita yang harus memperlambat durasinya!" kata Amanda sambil mengatur pemancarnya.
95%
94%
"Berhasil!
99%
99%
*Glek!*
100%
99%
"Fyuh! untung sempat" kata Amanda.
"Eh? kenapa?" tanya Radith.
"Penghitung Avatar nya... berhenti di angka 99, sedangkan kita berhasil" kata Vian.
"Bagaimana caranya?" tanya Radith.
"Aku tadi membuat durasinya menjadi rusak, karena hanya durasi kita yang menghubungkan kita dengan si avatar, dan avatar itu hanya bisa mengantar terus menerus sampai berhasil, sedangkan kita bisa menolak dan mengantarkannya kembali jadi aku berpikir jika kita merusak durasi yang menghubungkan kita dengan si avatar, maka pemberian virus juga akan terhenti" Jelas Amanda.
"Itu juga bisa, aku ingat jika itu bisa berhasil" kata Andra.
"Kalau gitu kenapa ngga bilang dari tadi?" tanya Amanda dan Vian.
"Ka... Karena baru kepikiran" kata Andra.
"Hah.. kalau gitu kita amankan dulu semua alat-alat ini" kata Radith.
..._________...
"Tidak berhasil" gumam Peter.
"Mereka memutuskan durasinya, dan membuat penghapusan mereka lebih cepat, karena yang menghalangi virus kita bukan hanya satu komponen Komputer, melainkan ada 2" jelas Roy.
"Jadi....?"
"Heh, itu artinya Albert sudah punya perlindungan ya? baiklah, kita celakai dia lain kali saja, ayo kita ke lokasi Rose" kata Roy.
"Ba.. Baik kak"
...___________...
Di Ruang kumpul anggota...
"Hah? beneran Vian? kau hampir kebobolan?" tanya Vandro.
"Yah, gitu deh, aku hanya bisa menduga kalau hanya komputer milik OND yang melakukannya" Kata Vian.
"Lalu? bagaimana caranya kau menghapusnya?" tanya Vandro.
"Biarlah itu jadi rahasia"
"He!? kasih tahu dong!"
"Ngga usah"
Di Ruang Kumpul Anggota...
"Kak Nera"
"Ng? kenapa Amanda?"
"Anu,.. aku mau bilang kalau,... " Amanda memberhentikan kata-katanya.
"Apa?"
"A,.. Anu"
"Aku... Aku minta maaf!" kata Amanda.
"Hah? maksudnya?" tanya Nera sambil terus memakan kripik nya.
"Itu, aku ingin minta maaf jika ada salah sama kak Nera" kata Amanda.
Nera terdiam, sedangkan Amanda sweathdrop.
"Pfft... hahahaha!!! kenapa sih Amanda? jangan kaku gitu dong!" kata Nera.
"E.. Eh?"
"Kamu ngga ada salah apa-apa kok" kata Nera tersenyum.
"Oh.. gitu ya" kata Amanda sambil duduk di kursi.
"Memangnya kenapa?" tanya Nera yang akan menggigit keripiknya.
"Aku pikir... kak Nera masih marah sama aku saat kejadian waktu sama Rafa-nii" ujar Amanda.
Nera menghentikan rahangnya sebelum menggigit potongan keripik karena mendengar ucapan Amanda.
"Begitu ya?"
"I.... iya kak"
"Secara umum atas kejadian itu kamu ngga salah dan emang sama sekali ngga menaruh kesalahan apapun, hanya saja aku agak kaget mendengar kamu yang digituin sama si Rey, kan aku jadi tambah benci sama Rey dengar kamu di gituin sama dia" tutur Nera.
"E... Eh? kenapa?" tanya Amanda.
Puk! Nera meletakkan tangannya di kepala Amanda yang di lapisi jilbab.
"Karena kamu adalah adik ku, kamu udah aku anggap adik, siapa sih? kakak yang tega adiknya digituin?" tanya Nera.
"G... gitu ya? hihi" kata Amanda yang tersenyum, tidak sadar mengeluarkan wajah imutnya.
BLUSH! Pipi Nera agak memerah.
"Lihat deh itu mukanya" batin Nera.
"Kalau gitu, mau keripik?" tanya Nera.
"Ah, aku sedang puasa kak" ujar Amanda.
"Oh... maaf"
"Ngga apa kak"