
"Lihat?! aku kayak gini karena kau, tahu?!!" seru Vian.
"Kalau gitu... kenapa?!! kenapa kau menolongku?! harusnya kau gak usah repot nolong aku saat jatuh dari tangga itu!!" seru Amanda dengan menangis.
"Apa?!!"
Sebelumnya...
Vian menghela nafas, "Aku harus fokus, Amanda yang dulu ku kenal sama yang di Rosement hal itu aku kesampingkan dulu! tapi... "
"Vian! mau aku ambilin apa? " tanya Amanda.
"Kenapa Amanda terus ngikutin?! jadi kepikiran!!" batin Vian.
"Gak usah" sahut Vian.
"Ngantuk! bobo ah" gumam Vian di ruang tamu.
Pluk!
"Nih! bantal sama selimutnya! " Kata Amanda.
"Hah?"
"Vian! kubantu ya?"
"Ngga"
"Vian! ini cucian udah ku bantu! mau diapain lagi?!"
"Sudah kubilang ngga usah repot, Nda!"
Malam harinya...
"Vian! ini gimana? pengen yang warna apa sandalnya? merah? atau hijau? ntar kuminta ke kak Rahmat" ujar Amanda.
"Huft! dibilangin jangan! Tunggu! kau bilang mau bantu aku kan? tanya Vian.
"Ya?"
"Oke! tetap disitu! kalau ngga salah disini deh tombolnya, ini dia!" kata Vian.
"Emang mau diapain?" tanya Amanda.
"Hehe"
Tit! Klang! ada penjara yang mengurung Amanda dengan otomatis jika menekan tombol.
"Hah?! apa ini Vian!?" tanya Amanda dengan kaget.
"Kau akan bantu aku dengan diam disitu! jangan banyak bergerak, dan aku akan kembali setelah 30 menit" kata Vian.
"Maksud kamu?!" tanya Amanda.
"Yah, diamlah disitu dan saat aku kembali berjanjilah untuk tidak menggangguku" Jawab Vian.
"Aku pergi!"
"Vian!!"
2 jam kemudian...
"Kakek? Kak Rahmat? Siapapun di sana?" tanya Amanda.
Amanda melihat ke Atap Rosement yang tingginya 3 meter, dan terlihat bayangan hitam seperti orang.
"Ng? kak Toni ya?" tanya Amanda.
Tiba-tiba Amanda jadi sesak karena khawatir, "Jangan... jangan khawatir! Vian akan kembali, kalau panik asmaku bisa kambuh!" Batin Amanda sambil menarik nafas.
"Inhalerku! Oke, ayo isap inhaler! jangan kacau, tenang! Astaghfirullah..."
"Hah, Eh!? perasaan apa ini?" gumam Amanda.
"Anak cantik, ikut Ibu yuk" suara perempuan menakutkan berbayangan hitam berada didepan Amanda.
"Adik cantik, ikut om yuk! habis sekolah ya? ayo ikut om" dan bayangan lelaki yang terus menerus menghantui setelah kepergian Ibunya.
Trak! Inhaler terlepas begitu saja dari tangan Amanda karena ketakutan.
"A-aah, ti-tidak! aku tidak akan ikut! gak! pergi dari sini! jangan ganggu aku!!" seru Amanda.
"Kenapa dia? disitukan tidak ada siapapun?" ujar Toni.
"Ukh... pergi! jangan! aku gak mau ikut!!" seru Amanda yang nafasnya semakin sesak.
"Kumohon! jangan ganggu aku lagi!" seru Amanda.
"Amanda, saya punya Amanah untuk menjagamu, jadi jika ada apa-apa telepon saja saya" Amanda teringat perkataan Vandro dengan mata terbelalak.
Sementara itu Vandro...
"Hah! kenapa dihari ahad pun selalu saja meeting! kepalaku pusing!" keluh Vandro.
Bruk! ia langsung merebahkan diri kekasur.
Kringg!! Kriingg!!
"Ng? telepon? siapa yang menelpon malam-malam begini?" gumam Vandro.
"Amanda? dia kan ada di Rosement?" batin Vandro.
📞"Hiks hiks, Pak! Pak Vandro,.. Tolong! Hah! hah!"
DEG! Jantung Vandro langsung berdetak kencang dan terkejut, langsung saja dia menghubungi Rahmat dan pergi ke wilayah kamar laki-laki tempat Amanda dikurung.
"Amanda!" Vandro melihat Amanda sedang membungkuk ketakutan.
"Dro! aku keatas dulu! diatas ada tombol cadangan ntar aku buka dulu!" Seru Rahmat sambil berlari.
"Ya!"
"Amanda!! saya disini! Amanda jawab!" kata Vandro.
"Pergi!! usir Ibu itu! usir bapak itu! uhuk! uhuk!" seru Amanda yang menangis menutup matanya tak sadar Vandro memanggilnya, nafasnya menjadi semakin sesak.
"Siapa?! ng? Inhaler?! tunggu, Amanda sesak karena... dia penderita asma?!" batin Vandro sambil kaget.
Klang!! pengurung terangkat dan terbuka.
Drap! Drap!
"Amanda! saya disini! ada apa?" tanya Vandro kebingungan.
Amanda langsung menangis namun sedikit tenang.
"Tolong usir wanita itu! sama pria itu! Aku Mohon!" pinta Amanda dengan terisak-isak.
"Ada apa, Ton? manggil malam-malam, awas kalau ngga penting!" sahut Nera diatap.
"Pas sekali ketua! dibawah ada pemandangan bagus!" ujar Toni sambil tersenyum.
"Rahmat! kamu kenapa disini? ada apa?" tanya Vanora.
"Vanora? kamu ngapain disini? bukannya masih di studio? tanya Rahmat.
"Kenapa Vandro dan Amanda? " tanya Vanora melihat saudara kembarnya bersama Amanda.
Sementara itu Vian...
"Hm? Astaghfirullah!! aku tidur berapa lama?!" tanya Vian.
Lantas saja Vian otw pergi.
"Amanda, udah tenangkan? ngga ada siapapun" ujar Vandro dengan lembut.
"Pak... Vandro?"
"Hm, isap inhalermu dengan tenang, ya?"
Tap! bertepatan dengan itu, Vian akhirnya datang.
"Vian... kau sebenarnya berulah apa lagi?" tanya Vandro sambil menatap sinis dan kesal.
"Hm? Ya! aku salah! kau ini! selalu saja begitu! terlalu cengeng! kenapa? mau mengadu domba aku dan Vandro ya?" tanya Vian dengan sewot.
"Vian! Aduh!!" keluh Vandro sambil memegang kepalanya, Amanda sudah bangun dari tempatnya.
"Vandro! kamu kenapa?" tanya Vian dengan heran.
BRUK! Amanda tidak sanggup bangun dan terduduk.
"Diam!"
"Hah?!" tanya Vian dengan kaget melihat Amanda menyuruhnya diam.
"Kau! ini belum seberapa! kenapa? kau tidak tahu apa yang aku alami! trauma! kau tahu, gak?! aku hanya bantuin aja!" jelas Amanda dengan berteriak.
"Lihat?! aku kayak gini karena kau, tahu?!!" seru Vian sambil memperlihatkan cedera patah tulang dibahunya.
"Kalau gitu... kenapa?!! kenapa kau menolongku?! harusnya kau gak usah repot nolong aku saat jatuh dari tangga itu!!"
"Dunia ini... membuat aku gak kuat!! harusnya kau gak usah nolong aku! biarin aja aku mati!" seru Amanda dengan menangis dan nafasnya kembali sesak.
Vanora menutup mulutnya, "Astaghfirullah, Amanda"
Vandro terbelalak kaget, begitu juga Vian, "Amanda! kenapa bilang begitu?" tanya Vandro.
"Vanora! ayo bantu mereka!" seru Rahmat sambil berlari.
"Hm!"
Amanda terengah-engah, "Cukup... aku gak kuat"
"Sudah tenang! kamu ngebuat mereka takut!" ujar Rahmat menenangkan Amanda.
"Astaghfirullah... aku ngapain?" Amanda kaget.
Vanora menolong Vandro yang kepalanya pusing, "Vandro! kamu gak apa-apa?"
"Sudahlah, kembali ke kamar masing-masing. Vanora, aku bakal bawa Vandro" ujar Rahmat sambil membawa Vandro.
"Ayo Amanda, aku antar kekamar, kau Vian kembali ke kamar!" kata Vanora.
"Aku akan ke Vandro"
"Awas saja kalau kau mengganggu Vandro" ujar Vanora.
Sedangkan Nera dan Toni hanya bisa menonton diatap tanpa bisa membantu apa-apa.