
"Amanda, apakah ada hal yang ingin kau bicarakan selain pertemuanmu dengan Nina?" tanya Vandro.
"Ah... ngga Pak" kata Amanda.
"Mana bisa aku cerita" batin Amanda.
"Kau yakin? tapi perasaan saya mengatakan kalau kamu masih ada hal lain yang ingin dibicarakan" kata Vandro mendekat.
"Ti... tidak apa-apa Pak!!" kata Amanda langsung pergi.
2 Jam kemudian di kamar Amanda...
Tok! tok! Tok!
"Amanda! apa ada yang ingin kau bicarakan kepada saya?" tanya Vandro.
"Amanda? Halo?" tanya Vandro lagi.
"Iih! Kok ganggu sih kamu Dro! paling Amanda lagi tidur atau lagi ngapain! jangan diganggu!" kata Vanora.
Keesokan harinya di hari sabtu...
Drap! Drap! Drap! Amanda pergi mengarah dapur.
"Ng? Amanda! apa kamu siap untuk memberitahu saya?" tanya Vandro.
"Lalu, mau bicara dimana?" tanya Vandro.
Tapi Amanda terus berjalan dan mengarah ke Vian.
"Partner!! kita perlu bicara!" kata Amanda.
"Hah!? A... apa!? Tu... tunggu! Waaa!" Vian di tarik Amanda hingga menjauh dari dapur.
"Kenapa? entah kenapa... rasanya kesal" kata Vandro.
Di Wall Vian....
"Ya gitu deh, aku kurang yakin jika bercerita ke Pak Vandro" kata Amanda.
"Hm? kau ini bodoh ya?" tanya Vian.
"Hah!? maksudnya!?" tanya Amanda.
"Ya, kenapa tidak berpikir yang lebih cepat napa? ceritakan saja ke Vandro dan minta Toni bersaksi denganmu" kata Vian.
Aku bersyukur Vian mau mendengarkan ceritaku.
"Tapi mau gimana? aku rada taku-... " belum selesai Amanda bicara.
"Saya sudah mendengarnya malam jumat dari Toni, saya agak tersinggung karena kamu berpikir saya tidak akan tahu apa-apa, kita perlu bicara, berdua" kata Vandro.
"A.. ah"
Di ruang Privat...
Tik! Tok! Tik! Tok! hanya suara jam yang terdengar dalam sunyian itu.
"Jadi? ceritakanlah" kata Vandro.
"Saya bisa mendapat informasi darimana saja, jadi kenapa kau tidak mau cerita? jangan mengira saya tidak tahu" kata Vandro.
"Ah... Ma... maaf Pak" kata Amanda.
"Maaf? buat apa ya? apakah minta maafmu itu serius? jangan suka meremehkan situasi, Amanda!" kata Vandro sambil memegang pegangan kursi agar sedikit dekat dengan Amanda.
....
"Saya kecewa kepada mu, kau bahkan sudah meremehkan keselamatanmu sendiri, bahkan keselamatan para Anggota Apartemen! Jangan terlalu santai hanya dengan perlakuan baikku!" kata Vandro.
DEG!
Jangan anggap sepele sengan perkataan manis dan tindakan baikku.
Lebih baik kau hormati dan takuti aku.
"Sekarang, ceritakan semuanya Amanda" kata Vandro.
Setelah bercerita...
"Hm, ku kembalikanlah HP Amanda, tadi ketinggalan sudah selesai belum ya? ceritanya?" tanya Vian mengarah ke ruang Privat.
"Ng? Hei bocah, nih Ponselmu" kata Vian.
"Ah, makasih, makasih, makasih, ah iya makasih udah di anterin, ngantuk" kata Amanda.
Aku sudah menceritakan semuanya ke Pak Vandro, termasuk kejadian aku bertemu Para geng cakar naga saat makan malam bersama Kak Riri dan Kak Ali, tapi... kenapa reaksi Pak Vandro menyeramkan begitu ya? seperti khawatir akan sesuatu.
"Huh! entahlah, mau bobo aja" kata Amanda.
Di kamar No. 2....
Vandro duduk di pinggir kasurnya...
"Bagaimana bisa!? dia menyembunyikan hal yang sangat berbahaya seperti itu!?" tanya Vandro pada dirinya sendiri.
"Jika terjadi sesuatu pada Amanda, bagaimana aku bisa menghadap Andra dan mempertanggung jawabkannya!?" tanya Vandro lagi dengan gusar.
Aku bahkan sempat kehilangan kendali menanggapi cerita Amanda...
......___________......
Grep! Vandro mencengkram bahu Amanda.
"Kenapa!? kenapa kamu tidak cerita ke saya!? bagaimana jika terjadi sesuatu kepada dirimu!? jika ada hal seperti itu jangan diam saja tolong!!!" kata Vandro.
Amanda ingin melepaskan cengkeraman Vandro.
"Apakah kamu tidak lihat? betapa khawatirnya saya!?" tanya Vandro lagi.
"Kenapa... Pak Vandro seperti itu kepadaku?" tanya Amanda.
"Karena! Kau!-.... " Vandro memberhentikan kata-katanya dan memalingkan wajahnya.
Hah! hampir saja keluar dari mulutku.
"Pokoknya kamu mulai besok harus pulang dengan saya" kata Vandro melepaskan cengkeraman nya.
"Ah apa!? ngga" kata Amanda.
"Apa!? kenapa?" tanya Vandro.
"........ ..... .... "
...___________...
"Ah! menyebalkan!" gumam Vandro.