The Unifying Butterfly

The Unifying Butterfly
Season 2 Chapter 69 : Olahraga bersama Nera



Keesokan harinya di hari minggu...


Ruang GYM....



BAK! BUK! Nera dan Vanora tengah beradu beladiri.


BUK! Nera memenangkan permainan...


Plok! Plok!


"Wah! Kak Nera hebat!" kata Amanda kagum.


"Gimana kalau sekarang kita yang beradu Amanda?" tanya Nera.


"A... Apa!?" tanya Amanda.


"Aku dengar kau di culik ya? di AR Group? lalu kau ngga ngelawan?" tanya Nera.


"Ada alasan yang menghentikan ku untuk melawan Kak" kata Amanda.


"Oh... gimana kalau ngelawan sekarang?" tanya Nera.


"Jangan berlebihan Nera" kata Vandro yang ada di situ sedang berlatih.


"Ngga apa-apa lah! Amanda kan Master Karate sabuk hitam! bisa dong! ngetes aku yang kungfu dan taekwondo!" kata Nera.


"Wah!! kak Nera kungfu dan taekwondo!? hebat!" kata Amanda.


"Yaps! sabuk hitam!" kata Nera.


"Ayo kalau gitu Amanda!" kata Nera.


"I... iya" kata Amanda.


"Sekarang.... serang aku dengan segenap kemampuanmu" kata Nera.


"Tapi... "


"Jangan begitu! jika kau sedang bertarung di jalanan, kau tidak boleh setengah-setengah!" kata Nera.


"O.. Ok!" kata Amanda sambil berlari.


"Aku akan mencoba melihat apa yang Kak Nera lakukan, akan ku mulai dengan tinjuan" batin Amanda sambil melayangkan tinjunya dan mengedipkan sekali matanya langsung berwarna hijau untuk membaca serangan, sedangkan si kembar pengantin V sedang memperhatikan.


WUSH! Nera langsung mengangkat Amanda dan mau membantingnya.


Amanda sudah memperkirakan hal itu dan langsung memutar balikkan kakinya hingga lepas dari cengkeraman Nera dan langsung ingin melakukan tendangan samping.


Alhasil Nera berhasil menghindarinya dan ingin menendang kaki bawah Amanda dengan kakinya tapi Amanda berhasil melompat.


"Heh, memang master karate" gumam pelan Nera.


"Kak Nera tangkas dan hebat sekali" kata yang langsung maju.


"Nera! Amanda! sudah! ini sudah 5 menit masa kalian masih aja beradu bela diri!?" tanya Vandro.


"Sudahlah Dro, tontonan kita ini... mau popcorn?" tanya Vanora.


"Sejak kapan kau ngambil popcorn?" tanya Vandro heran.


15 menit kemudian....


"Hah! Hah! Hah!" kata Amanda dan Nera yang ngos-ngosan.


"Me... mereka tidak ada yang terluka sama sekali... " kata Vanora.


"Hebat banget Kak Nera!" kata Amanda.


"Master Karate memang tidak boleh di anggap remeh! kau satu-satunya orang yang tidak terkena serangan terkuat ku! aku tadi melancarkan serangan terkuat ku lho!" Ungkap Nera.


"Eh!? serius Kak?" tanya Amanda.


"Begitulah, aku mengakuinya kau memang hebat" kata Nera.


Amanda selesai menghirup inhaler nya.


"Kalian bertiga memang hebat, aku ke dapur duluan ya" kata Vandro.


"Baik Pak" kata Amanda.


Mereka bertiga akhirnya istirahat....


"Kau punya kekuatan dan ketangkasan yang hebat sekali, dalam usia yang sangat muda, memangnya kau tidak di promosikan menjadi atlet karate tingkat nasional?" tanya Nera.


"Tapi kenapa kau tidak melawan ke yang menculikmu saat di AR group?" tanya Vanora.


"Ah... ada alasan lain, aku tidak akan bisa menggunakan kekuatan maksimal karate ku karena dua hal, yaitu saat ada yang menjadi sandera, kedua jika asma atau aku memang sedang sangat lemah" kata Amanda.


"Oh.... maksudnya yang di sandera?" tanya Vanora.


"Maksudnya, jika saat ada seseorang atau lebih yang bersamaku, dan dia terlihat dalam bahaya dan aku menggunakan karate ku, aku merasa dia akan dalam bahaya jika aku teralihkan dengan yang aku lawan" kata Amanda.


"Kau lemah karena perasaan itu Amanda!" kata Nera.


"E... Eh!?" tanya Amanda.


"Jika seperti itu terus, kau akan terlalu teralihkan dari yang menjadi tujuanmu!" kata Nera.


"Dan akan sia-sia saja kau menjadi master karate, hidup atau mati, itu yang di pertaruhkan! jika kau masih saja terusik akan hal itu kau tidak akan selamat!" ujar Nera.


"N... Nera! udah, kamu terlalu blak-blakkan!" kata Vanora.


"Ng... Kak Nera marah?" tanya Amanda.


"Ya iyalah! kamu punya kekuatan besar! Master Karate lagi! gimana tuh!" kata Nera.


"Udah! oh ya, ini aku ada sesuatu buat kamu Nda" kata Vanora memberikan sesuatu.


"Ng... Paper Spray?" tanya Amanda.


"Ada ya, yang seperti ini?" tanya Nera.


"Ya adalah!" tanya Vanora.


"Ini buat saat keadaan gawat, di gunakan ya" kata Vanora.


"Makasih banyak Kak Vanora" kata Amanda.


"Maaf ya Kak Nera, aku... " kata Amanda.


Nera mengusap kepala gadis yang dia anggap adiknya itu dengan perasaan sayang yang mendalam yang dapat di rasakan Amanda.


"Aku bukannya kesal atau bagaimana, aku hanya ngga mau kamu terluka dan teralihkan dengan hal-hal yang membuat dirimu tidak tidak terurus, sebagai kakak cewek disini, rating dan penilaian buat kamu bagus kok! hanya kamu masih bingung dan tidak terlalu mementingkan soal perasaan bahwa pentingnya dirimu" kata Nera.


Amanda terkesima dan kagum mendengar hal itu.


CEKREK! Bunyi jepretan kamera.


"Ta-da! foto dulu yuk!" kata Vanora.


"Wah! kamera Polaroid!" kata Amanda.


CEKREK!


"Wah! bagus! aku kasih lihat teman-temanku boleh ngga Kak? mereka khawatir dan bahkan pengen banget lihat foto kalian" kata Amanda.


"Hahaha, khawatir banget ya, boleh kok, kalau Nera gimana?" tanya Vanora.


"Kalau aku sih ngga apa-apa, asalkan kasih lihatnya ke mereka aja" kata Nera.


"Makasih banyak Kak!" ucap Amanda.


Setelah usai berbenah dan mereka akan ke kamar masing-masing...


"Ng.... Kak Vanora! aku mau kasih tahu sesuatu" kata Amanda ingin membisikkan sesuatu ke Vanora dengan jinjit, karena Vanora tinggi.


"Sebenarnya... kemarin kami itu... " Amanda menceritakan sedikit apa yang Ia, Vandro, dan Vian lakukan.


"Aku ceritakan sedikit karena Kak Vanora agak sedih kemarin... " batin Amanda.


"Oh gitu! makasih ya Amanda, udah kasih tahu" kata Vanora tersenyum.


"Sama-sama Kak" kata Amanda.


No. 10....


"Hah! akhirnya bisa rebahan, Kak Nera bilang aku satu-satunya yang tidak bisa terkena serangan terkuatnya karena aku pintar menghindar, serangan terkuat Kak Nera tadi memang nya Kak Nera lancarkan ya?" gumam Amanda.


"Memangnya Kak Nera pernah melancarkan serangan itu ke siapa?" tanya Amanda.


No. 5...


"Hah! aku kaget Amanda satu-satunya yang menjadi tandingan ku, bahkan sepertinya Toni akan kalah karena serangan Amanda, tadi aku bisa saja melumpuhkan nya dengan mematahkan lengannya tapi dia berhasil mengalihkan perhatianku seperti bisa membaca serangan" gumam Nera.


"Tapi dia memang hebat, aku mengakuinya" kata Nera sambil tersenyum.