
Hari ini... jam 07.00, sehabis sarapan, aku sudah berjanji dengan Vian, atas izin kak Andra kami akan membahas tentang kejadian yang menimpa Vian di ruangannya Vian,.. tapi kantor yang biasanya baru masuk itu OG, OB, dan karyawan yang memang biasa masuk pagi.
"Kak Riri! Pagi!" kata Amanda.
"Amanda!!? udah masuk kerja!? katanya kamu juga kena insiden ya?" tanya Riri.
"EH!? kata siapa kak?" tanya Amanda yang kaget Riri tahu.
"Ya beberapa hari yang lalu Vian datang, dan ngasih tahu deh kalau kamu juga korban insiden" kata Ali yang tiba-tiba nongkrong.
"Eh? kak Ali?" tanya Amanda.
"Ya"
"Ya udah, kalian berdua bicara dulu ya, aku mau nyingkirin para nyamuk jantan yang lagi mata-matain di ujung tembok" kata Riri.
"I... iya kak"
"Jadi? gimana kabarmu Nda?" tanya Ali.
"Alhamdulillah udah mendingan kok kak" ujar Amanda.
"Gitu ya? Em.. kalau gitu mau ngomong dan bicara lagi ngga?" tanya Ali.
"Maaf kak, aku ngga, bisa permisi!" kata Amanda yang sudah ada janji dengan Vian.
"Oh?"
Ruangan kerja Vian....
"Jadi? pengen yang gimana dulu?" tanya Amanda duduk di kursi tamu di depan Vian.
"Yah.. pokoknya pikirkan cara agar bisa tahu siapa aja yang motret sembarangan" kata Vian sambil memperhatikan laptopnya.
"Ng.. gitu ya?" gumam Amanda.
Tiba-tiba....
BRAK! Pintu di buka dobrak, datang seorang perempuan di temani seorang lelaki yang datang menemui Vian dan Amanda yang kagetnya setengah mati.
"Amanda!!" sergap perempuan itu, ya.. dialah sahabat lama Amanda.
"Ni... Nina!? kenapa tiba-tiba?" tanya Amanda masih bingung.
"Tuan... Zaki?" tanya Vian.
"Panggil Zaki aja napa" kata Zaki sambil menutup pintu agar tidak terjadi keributan.
"Sebentar, ini kenapa tiba-tiba kesini Nina? kamu baik-baik saja kan?" tanya Amanda.
"Seharusnya aku yang nanya itu! katanya kamu jadi korban insiden geng cakar naga ya!?" tanya Nina.
"E... Eh!?"
"Hei, Erla... ma, maksudku Vi... an? kamu juga kena insiden itu juga kan? jangan kira kami ngga tahu" tutur Zaki.
"Memangnya jelaskan dulu Nina" kata Amanda.
"Gini... pertama saat aku dan Nina pergi ke rumah sakit pusat keluarga Pramudya, aku pergi dan merasa heran melihat beberapa polisi sedang berjaga, akhirnya aku dan Nina mendengar semua itu dari seorang perawat, kalau gedung itu udah di sewa oleh Raja Aliandra buat para pasien insiden, kami minta daftar para pasiennya, lumayan banyak dan disitu ada nama Amanda, ya kek mana kita ngga kaget?" tanya Zaki setelah menjelaskan beberapa.
"Na... Namaku?" tanya Amanda.
"Ya, Amanda Dallena namamu kan? ya kita tahu lah!" ujar Nina.
"Ta... tapi mungkin bisa saja Orang lain kan Nina?" tanya Amanda.
"Lalu? di keterangan itu tertulis kondisi gegar otak, Asma yang kambuh, juga lengan tangan kiri yang terkena tembakan, itu tangan kiri mu kenapa?" tanya Nina.
"E..Eh? I... ini, Anu... " Amanda tidak bisa mengalihkan Nina lagi.
"Kamu itu ya! selalu saja bikin aku cemas!" kata Nina sambil memeluk Amanda.
Amanda juga tersenyum dan memeluk Nina juga.
Zaki menaruh siku lengannya di bahu Vian.
"Lalu? apakah kau yakin dengan kesini adalah cara yang tepat Zaki?" bisik Vian.
"Lagipula jarang kan? kita berempat bersahabat tapi jarang berkumpul? akan lebih baik lagi jika... " belum selesai Zaki bicara.
"Jangan mencampuri urusanku, aku sudah tahu yang kau ada kontrak dengan Andra? itu gimana maksudnya?" tanya Vian menagih penjelasan.
"Yah, aku kan peka dan ingin menolong mu, ngga boleh?" tanya Zaki.
"Huft! merepotkan!" ujar Vian.
"Hah!? kau bilang aku merepotkan!?