
Akhirnya mereka memakan cemilan yang di buat Amanda, Red Velvet Mini, dan Mocktail.
Rafa sedang nimbrung bersama Amanda, Randi, dan Nera, dia melihat Amanda sambil bertopang dagu.
"Masa sih Kak? Haha..." Amanda sedang berbincang dengan Nera dan Randi, sedangkan Rafa hanya menatap Amanda sambil meminum Mocktail.
"Kalau di perhatikan lebih teliti... Amanda memang sangat cantik, perempuan pertama yang kulihat sangat cantik alami, wajahnya yang putih bersih tanpa jerawat juga sikap dan kepribadiannya yang selalu tenang, cerdas, dan berpikir sebelum bertindak, tapi dia juga kuat dalam mempertahankan diri,... aku masih heran kenapa perempuan sepertinya tidak ingin memiliki seorang Pacar? aku tahu mungkin soal agama kali ya?" batin Rafa menatap Amanda sambil melamun.
"Kak Rafa... Kak Rafa"
"Assalamu'alaikum Kak Rafa? Kak Rafa baik-baik saja kan?" tanya Amanda menyadarkan lamunan Rafa.
"Ng!? Ah... aku baik kok, hehe" ujar Rafa.
"Beneran? kalau sakit, Pak Randi bisa periksa" kata Amanda.
"Kau sakit Rafa?" tanya Randi.
"Ngga kok, baik-baik aja" ujar Rafa.
"Oh ya! Karena di HRM ini ada TV.. kita nonton film horor gimana?" tanya Amanda.
"Asik!" kata Nera.
"Boleh" kata Vandro dan Rahmat biasa saja.
"Tapi jangan terlalu malam ya nak" kata Pak Andi yang memang tidak bisa takut.
*Glek!* selebihnya mereka semua hanya bisa menelan ludah.
"Ok! kita nonton Danur 1 sampai 3 ok?" kata Nera sambil memutar Film.
"1! 2! 3!"
Film yang di putar benar-benar sangat horor, kecuali Amanda, Pak Andi, Nera, Vandro, dan Rahmat.
THE END!
"Alhamdulillah! seru ya ceritanya kak Nera?" tanya Amanda.
"Yup!" ujar Nera.
"Lumayan" kata Rahmat dan Vandro.
"Eh!? Pak Randi, Kak Rafa, dan Vian kenapa kaku banget?" tanya Amanda melihat mereka.
"Ng... Ngga" kata mereka bertiga serentak.
"Kayaknya mereka bertiga takut ya, Kak Nera?" bisik Amanda.
"Sepertinya" jawab Nera.
"Oh ya... ayo ke kamar, udah malam.. sekarang jam 10 malam lho! malam kliwon pula" ujar Rahmat.
"Wah iya! Kliwon" ujar Nera.
"Yo! Ke kamar" kata Rafa antusias.
Akhirnya mereka ke kamar, Vandro dan Rafa ke kamar bersama.
"Rafa... " kata Vandro.
"Kenapa?" tanya Rafa.
"Ng? Maksudnya?" tanya Rafa.
"Iya... kau tahu? dia berusaha juga mengulur waktu agar Rey tidak terus tertuju padamu, bahkan tangannya sampai kena tembakan peluru" ujar Vandro.
"P... Pistol asli!?" tanya Rafa.
"Begitulah, kau harus berterimakasih padanya" kata Vandro sambil duluan ke kamar.
Rafa terdiam disitu.
"Amanda... kau menyembunyikan apa!?" batin Rafa.
Kamar no. 11....
"Hah! enak sih rebahan" ujar Rafa.
"Aku kurang bisa bicara leluasa pada Amanda dan Andra, Nera ya...?" batin Rafa.
"Aku dan Nera lah! yang menculik Andra dulu dan membuatnya babak belur!"
Rafa mengingat kembali ucapan Rey saat dia diculik.
"Nera... dia yang menculik Andra" batin Rafa.
Sementara itu di Bunker lingkar dalam....
"Pak Andi... maaf menghubungi anda malam-malam kemari, bagaimana dengan acara penyambutan Rafa?" tanya Andra.
"Lumayan Nak, Oh ya... bagaimana dengan kotak Pandora?" tanya Pak Andi.
"Saya berusaha untuk mengumpulkan energi agar bisa membuka botol-botol Pandora yang dapat membuka kotaknya" ujar Andra.
"Jangan dibuka" kata Pak Andi.
"Eh? kenapa Pak?" tanya Andra.
"Karena Kotak itu hanya akan memancing Ryu keluar dari kendali segel" kata Pak Andi.
"Eh!?"
"Nak Andra tahu tidak? legenda naga dan apel mas? sang naga di tugaskan untuk menjaga apel mas sampai tertidur, jika apelnya di curi... maka sang naga akan terus mencari apel itu terus menerus, jika sudah menemukannya dia akan tertidur, itu dapat dikaitkan dengan Ryu yang tersegel di Liontin Nak Amanda" Jelas Pak Andi.
"Ah... jadi sebenarnya Ryu itu menjaga agar kotak Pandora tidak dapat dibuka?" tanya Andra.
"Itu benar, akan bagus jika Nak Andra bisa masuk ke alam bawah sadar Nak sendiri agar bisa melihat kendali segelnya baik-baik saja atau tidak" kata Pak Andi.
"Ya... begitulah"
Akhirnya Andra pergi ke tempat tidurnya.
"Alam bawah sadar ya?" gumam Andra yang perlahan tertidur.
*****
"Ng? Lho!? aku dimana!?" tanya Andra melihat di sekelilingnya gelap.
"Lama tidak ketemu ya?" tanya seseorang.
"Eh!? siapa kau!?" tanya Andra.
"Sewot sekali,... sudah lama tidak ketemu setelah kepergian ku dan Afifah dari usiamu sekitar 18 tahun yang lalu... bukan begitu? Andra?"