The Unifying Butterfly

The Unifying Butterfly
Season 3 Chapter 87 : Makin kelewatan



"Begitu ya?" tanya Alen.


"Yah.. gitu deh, Em... dimana Dennis? dia sahabatmu kan?" tanya Amanda.


"Ah, yah.. dia lagi menyendiri" kata Alen.


"Eh? menyendiri? why Dennis alone? ( kenapa Dennis menyendiri?) Did something happen?(apa terjadi sesuatu?)" tanya Amanda.


"Hah? kak Amanda bilang apa? bahasa Inggris nya terlalu cepat" ujar Alen.


"Haha, Dasar Alen, Amanda bilang, kenapa Dennis menyendiri? apakah terjadi sesuatu?" tanya Putra.


"Oh ya... kemaren kalian POP kan? gimana? maaf kemaren aku ngga sempat nonton, karena ada acara ngerjain makalah di rumah Putra, makanya selaku kehadiran ketua HMJ ku serahkan ke Dennis" kata Amanda.


"No Problem kak... dan, itu juga topik permasalahannya" ujar Alen.


"Eh!?" tanya Putra dan Amanda kaget.


"Sebenarnya,... Farmasi... kalah mencapai kemenangan seperti tahun-tahun sebelumnya" ujar Alen.


"Eh?! Farmasi kalah!? kok aku bisa ngga tahu!?" tanya Amanda.


"Lah!? kita juga!" kata Putra.


"Te.. Tenang kak!"


"Tunggu Len! jangan bilang alasan karena Nina dan Zaki pulang duluan karena hal itu ya?" tanya Amanda.


"Mampyus! ketahuan duluan!" batin Alen.


"Haah... begitulah kak, sebenarnya hal ini tidak bisa kami beritahu" ujar Alen.


DUAK! Amanda meninju salah satu tiang besi bekas tak terpakai.


KRIIEEET! TANG! tiang itu patah karena tinjuan.


"Kenapa ngga ngasih tahu?" tanya Amanda.


"HII!!" Putra sudah ngeri duluan.


"Waduh! kebablasan! maaf! maaf! aku kalau kaget biasanya bakalan meninju apa gitu" kata Amanda.


"Ja... Jadi itu bukan karena marah?"


Akhirnya mereka duduk dulu.


"Semuanya lumayan, di POP ada 7 permainan olahraga, dan kami memenangkan itu dengan mudah, hanya saja... saat pertandingan basket.... kami dan lawan kami setara adalah 5-6 kak.. saat akan mencetak gol, tapi... waktu habis jadi lawan menang, akhirnya Farmasi kalah dalam mempertahankan kejuaraan" Jelas Alen.


"Jadi akhirnya... Dennis bagaimana?" tanya Amanda.


"Dia,.. tidak kenapa-napa, biasa saja" kata Alen agak kesal.


"King,... kau tahu tidak? banyak sekali orang di dunia ini,.. yang pasti mempunyai perasaan kesal dan amarah bukan? tapi lumayan sedikit sekitar 60% di setiap belahan dunia yang mampu menahan amarah, tapi.. bukan berarti mereka itu akan diam saja, jangan sampai mereka memendam suatu masalah yang membuat mereka terdiam, atau melampiaskannya dengan cara mereka sendiri" Jelas Amanda.


"Eh?"


"Itu benar, orang banyak menahan perasaannya entah itu rasa suka, rasa amarah, sedih, dan hal-hal yang dia pikir itu 'negatif' akan dia tahan sampai datangnya masa yang tepat dimana dia dapat melampiaskan perasaanya itu" kata Putra.


"Tapi untuk perasaan kecewa, sedih, dan tertekan, itu sama sekali tidak boleh di tahan, karena jika di tahan maka akan jadi penyakit, yang akan membuatnya terlalu tertekan karena menahan perasaan itu" ujar Amanda.


"Itu benar Alen, jika kau memang tahu atau kenal lama dengan Dennis maka kau pasti tahu bagaimana dia menyimpan dan menutup rapat perasaan kecewa dan malunya" kata Putra.


"Saya... memang kasihan kak, saya tidak mau Dennis akan seperti itu, karena dia akan tidak seperti biasanya lagi sikapnya" kata Alen.


"Iya.. itu benar kak, tapi"


"Tapi kenapa?" tanya Amanda dan Putra.


"Tolong rahasiakan ini dari Dennis" kata Alen pipinya agak merona.


"Eh? Em... Maaf ya Len" kata Putra.


"Eh?! kak Putra ngga mau rahasiakan!?" tanya Alen.


"Bukan gitu King,... tapi sebenarnya Dennis udah di pojok pintu dari tadi" kata Amanda.


"WHAT!!?!" Seru Alen.


"Huu.... ternyata, Alen peduli ama aku" ujar Dennis menangis terharu.


"Ngga usah nangis gondrong!" kata Alen.


"Aaahhh!!!! hancurlah martabat ku!!" Seru Alen.


"Ngga King, kamu itu sebenarnya peduli tapi kamu itu tipe yang.... peduli tapi tidak ingin menunjukkan kepedulian mu" ujar Amanda.


"Ya, gitu deh.. namanya juga jantan kan?" tanya Putra.


"Haha... iya"


Akhirnya Amanda dan Putra kembali bekerja.


"Putra, tolong minta tanda tangan Bu Eva selaku ketua jurusan, untuk instruktur lab ini, nanti soal kerja kelompok tolong minta keputusan dari Pak Man" Kata Amanda.


"Baiklah,... aku ke sana dulu"


Akhirnya tinggal Amanda yang sendiri di ruangan HMJ.


"Ish... Ish.. Ish, sibuk ya?" tanya seseorang sekaligus dedemit, Lidya.


"Oh Lidya? bukankah kamu seharusnya di kelas?" tanya Amanda.


"Hmf... memangnya ngga boleh?" tanya Lidya menantang.


"Haaah.... boleh, asalkan kamu mendapatkan izin berkeliaran dari dosen yang mengajar di jam sekarang" kata Amanda.


"Hahaha! terserah aku dong! lagipula dosen juga lagi ngga ada" kata Lidya.


"Oh, begitu... kalau begitu, silahkan kembali ke kelas, jika tidak mau kau ku eval privat, aku masih sibuk" ujar Amanda fokus di komputer.


"Haha! hanya karena kau HMJ aku ngga akan takut" ujar Lidya menyombong.


"Begitu ya... kalau begitu, apa urusanmu disini? aku harap itu tidak membuang waktu sibukku" kata Amanda acuh tak acuh.


"Aku hanya ingin agar kau jangan banyak sok-sokan hanya karena kau satu-satunya murid di univ ini yang paling terbaik" Jelas Lidya


"Ng? aku ngga sok-sokan tuh, aku hanya ingin belajar dan mendapatkan hasil yang sesuai dengan usahaku, kau iri? jadi itulah kenapa kau sewot ya? sebaiknya jika kau ingin mengetahui dimana usahaku, maka yang bisa ku jawab hanyalah, ambil pelajaran yang akan di pelajari dan ulangi setiap hari, apakah itu membantu?" tanya Amanda.


Amanda menarik tangan Lidya yang terdiam.


"Sekarang di mohon keluar, jangan mengganggu, jika kau ada urusan denganku aku ada di ruangan" kata Amanda sambil menutup pintu.


Blam!


"Dasar... dia salah karena mencari masalah denganku"