The Unifying Butterfly

The Unifying Butterfly
Chapter 20: Mengumpulkan bukti (1)



Sesampainya di rumah Amanda...


"Permisi... "


"Ya?" tanya dua perempuan yang ditanya Vandro.


"Apa gadis yang bernama Amanda tinggal disini?" tanya Vandro dengan tersenyum.


"Woah! Anda siapa wahai *Cogan?" tanya mereka.


*Cogan : Cowok ganteng


"Eh? saya bukan cogan kok?" jawab Vandro dengan heran.


"Eh! itu bukannya cowok waktu itu? dia nyari Amanda?" bisik kedua perempuan itu, kebetulan mereka adalah tetangga Amanda yang tinggal di sekitar kompleks, makanya mereka pernah melihat Vandro.


"Ma-maaf ya, Amanda sekarang tidak ada dirumah" Jawab salah satu perempuan itu.


"Ng, apa saya boleh masuk? " tanya Vandro.


"Setelah Amanda dulu pergi dari rumah, dan sekarang kembali, kami memutuskan untuk tidak ngasih informasi soal Amanda" jelas Perempuan itu lagi.


Tap! Tap! Tap! suara langkah kaki mendekati Vandro.


PLAK! sebuah tamparan keras didapati Vandro yang membuatnya terbelalak.


"Nina!!"


"Apa yang kamu-... " Vandro kaget.


"Keluar kau! Amanda tidak ada disini! Kau adalah orang yang membawa Amanda pergi bukan? tidak usah bohong!" ucap seseorang yang keluar dari rumah Amanda, ia bernama Eza Nina Falesia.


Vandro terdiam, "Dia... bukannya anak bungsu konglomerat perusahaan Falesia?! Dia temannya Amanda?"


"Kebetulan aku semalam ke rumahnya untuk mengecek keadaan rumahnya semenjak ia berpesan akan pindah sementara ke suatu tempat dengan alasan pekerjaan! saat tadi malam lihat dia, kau tahu ekspresinya?!"


"Dia datang dengan wajah lesu! saat aku bertanya, 'apa ini ada hubungannya dengan saat kau pindah?' tanya ku begitu! dan dia tidak menjawab apapun, hanya menggeleng kepala dan tersenyum lalu pergi!" jelas Nina dengan kesal.


"Jadi kau? yang ngebuat Amanda kayak gitu?!" tanya Nina.


"Oh, jadi menurut ceritamu tadi, Amanda kembali ke rumahnya?" tanya Vandro menangkap poin penting.


"B-Bukan! sudah! sana pergi!" kata Nina.


"Lho? Nina, ada apa ini? lho...?!" suara seseorang yang sangat familiar ditelinga Vandro.


"Hush Hush! pergi sana!" bisik Nina memberi kode.


"Suara ini?" Kata Vandro sambil melihat ke belakang.


"Pak Vandro?"


"Amanda! "


"Amanda! saya kesini untuk bicara-..." Vandro belum selesai bicara, Amanda berlalu pergi ke belakang.


"Huu! kasihan Amat di cuekin!" Sahut Nina.


"Kamu kenapa pipi kamu lebam begini?" tanya sahabat Amanda yang lain bernama Fika.


"Seharusnya aku tak berpikir ia akan menanggapi ku secepat itu, dan aku juga harusnya membiarkannya sementara" batin Vandro.


Tuk!


"Pak Vandro! maaf lama, ini kotak P3Knya bisa obatin lukanya dimobil!" ucap Amanda dengan memperlihatkan kotak P3K.


"*A*manda! bukannya di cuekin, malah di ladenin!,mereka bicarain apa emang didalem?!" batin Nina.


"Nona Falesia itu... udah seperti Bodyguard saja" Batin Vandro setelah lebam bekas Tamparan Nina diobati Amanda.


"Waah! sampai lebam gini! maafin Nina ya Pak Vandro!" ucap Amanda.


"Tak apa, saya tidak marah" kata Vandro.


"Ng, apa Pak Vandro... mau bawa aku kembali Ke Rosement ya?" tanya Amanda.


"I-iya"


"Kalau aku menolak untuk kembali ke Rosement, apa aku.. bakal dihukum?" tanya Amanda.


DEG!


"Akan lebih baik jika... Aku di rumahku sendiri, sampai Presdir pulang" jawab Amanda.


"Apa?! kepergianmu mendadak sekali! bukannya kamu mau cari Kakak kandungmu?" tanya Vandro.


"Kayaknya... Aku agak ragu, kakakku ada atau tidak" jelas Amanda dengan memainkan ujung jilbabnya.


"Dia mau menyerah? gawat!" batin Vandro.


"Saya yakin! kakakmu pasti ada!" kata Vandro.


"Andra adalah kakakmu!" batin Vandro.


"Ng, bagaimana pun juga, ini adalah urusanku dan kakak. Jadi pak Vandro tidak usah ikut campur. Yah mungkin jika aku dan kakak ditakdirkan bertemu, kami akan bertemu suatu hari nanti"


"Ya sudah, Pak Vandro, saya kedalam dulu" ucap Amanda akan membuka pintu mobil Vandro.


"Tunggu! apa ini karena saya?" tanya Vandro dengan menahan pintu mobil yang akan dibuka.


"Eh?"


"Saya tahu, kamu tadi malam gak sengaja mendengar saya bicara dengan Rahmat, tapi pasti gak mudah kamu menyembuhkan sakit itu disini" ucap Vandro dengan menyentuh tangannya ke hati.


"Oh, itu bukan-..." belum sempat Amanda menjelaskan.


"Saya tahu kamu merasa tersinggung, tapi saya benar-benar minta maaf Amanda, tolong kembali ke Rosement" pinta Vandro.


Amanda tiba-tiba agak linglung, "Kacau, bisa-bisa asmaku kambuh dan aku akan dibawa ke Rosement secara otomatis!"


"A-akan lebih baik jika aku di rumahku dulu, Pak! mungkin ini egois, jadi saya minta maaf Pak Vandro!" ucap Amanda.


Setelah turun dari mobil...


"Saya akan jemput kamu besok dan seterusnya sampai kamu kembali. Jika terjadi apa-apa kamu bisa hubungi saya. Eh! kalau tidak mau, silahkan hubungi staf R disana!" Jelas Vandro sambil menunjuk staf.


"Sudah kuduga diawasin, agak lain perasaan" batin Amanda.


"Saya permisi" Kata Vandro.


"Cepetan Pergi!" Sahut Nina.


"Hush! Nina!" Kata Fika.


"Nina, Kak Fika, kalian tidur di kamar atas ya, disana luas, silahkan" ucap Amanda.


"Ya!"


Malam harinya,.....


Tap! Tap! Tap! setelah memastikan Nina dan Fika tidur, Amanda lantas pergi ke gudang.


"Sebenarnya, alasanku menolak kembali ke Rosement bukan hanya karena khawatir mengganggu Pak Vandro, tapi..."


Drk! Drk! Amanda langsung mendorong lemari yang menutupi tembok didepannya.


"Ada alat pengenal ID card! mungkin disini tempat yang pernah ibu maksud!" ujar Amanda sambil mengunci pintu gudang.


"Ng, kalau tidak salah kartu yang ibu maksud... ini dia!" Amanda lantas mengeluarkan kartu pengenal.


"Ng, ibu bilang sidik jariku sudah pernah dimasukkan, dan kodenya, bisa kuretas pakai laptop"


Suara ketikan demi ketikan yang diketik Amanda dengan tombol Laptop, maklum Amanda pakar teknologi, ia diajari oleh ibu kandungnya yang lulusan S3 information technology dan Farmasi.


Tit!


"Bisa!"


Sreek! dug! dug! dug! Tiba-tiba muncul tangga yang mengarah ke lorong bawah tanah.


"Ruang rahasia, pantas aku tidak tahu, dulu rumah ini rumah ibu. Dan gudang ini tidak pernah direnovasi!" ucap Amanda sambil berjalan menuju tangga dan menyalakan lampu.


Setelah memasuki ruangan, tangga yang mengantar Amanda tertutup kembali.


"*M*ungkin saja tertutup otomatis agar tidak ada yang curiga" batin Amanda.


Plek! suara petikan tombol lampu dinyalakan.


"Hah?!"