
"Jadi Rafa sudah bertemu Amanda,... bukan, tapi bertemu Ana sepupunya, aku bahkan tidak pernah terbesit di pikiranku kalau hal ini akan terjadi... " batin Andra yang termenung mendengar laporan dari Pak Andi dan sedikit menghembuskan nafas.
"Tuan, anda mau makan siang dimana?" tanya Radith.
"Makan di mana saja, asalkan tidak ramai dan lumayan sepi" kata Andra yang masih sibuk dengan tablet android dan pen stylusnya
"Tentu" kata Radith.
"Tuan sering sekali melamun, bahkan tidak sadar kalau lalat lewat di depannya, saat makan, bahkan saat mengurus perusahaan juga barter ekonomi kerajaan, yang paling ingin pulang adalah Tuan, hal itu tidak segampang ini.. " batin Radith.
Lanjut ke Rosement....
Malam Harinya....
"Amanda, kami sudah memutuskan akan mengikuti rencana mu, silahkan ambil ponsel yang dititipkan kembali" kata Vandro.
"Oh begitu, makasih Pak" kata Amanda.
"Em.... kita perlu bicara berdua, bisa ngga?" tanya Vandro.
"Tentu Pak" kata Amanda.
Akhirnya Amanda dan Vandro berbicara di dekat Lift kapsul yang biasanya di gunakan anggota apartemen untuk ke kamar, karena itu paling dekat.
"Begini, kamu tetap kirim informasi sesuai yang saya berikan, jika terjadi masalah atau butuh apa-apa jangan diam saja, katakan saja pada saya, Vian, dan Pak Andi akan membantu dan melindungi mu" kata Vandro.
"Begitu ya, aku mengerti Pak!" kata Amanda.
Vandro mendekati Amanda dan menurunkan kepalanya mendekati telinga Amanda untuk berbisik.
"Dan saya akan tetap mengawasi mu agar kamu aman dan baik-baik saja sesuai pesan sahabatmu, juga karena Amanah" kata Vandro berbisik.
"O... Oh, te... tentu Pak" kata Amanda agak risih.
"Tapi... terimakasih banyak Pak! karena sudah bisa memberikan kepercayaan dan mau bekerja sama denganku" kata Amanda tersenyum dan langsung masuk ke Lift kapsul dengan menekan tombolnya, Vandro hanya terdiam melihat kepergian Amanda dengan Lift.
"Amanda adalah anggota baru, tapi dialah yang paling pertama mendapatkan banyak konsekuensi dan resiko, Andra! kenapa kau masukkan Amanda kesini!? apakah kau tidak memperhatikan resiko yang akan di dapatkan adikmu!!? Huh.... " batin Vandro sambil memalingkan wajahnya.
Keesokan paginya...
Di Parkiran...
"Hoaam!!" Vian yang ngantuk langsung memakan tempat di kursi belakang dan tertidur.
"Ah... ha.. ha.. ha" Amanda hanya mengerutkan kening sambil tersenyum karena tingkah Vian.
"Emangnya Vian begini terus ya Pak?" bisik Amanda ke Supir mereka.
"Oh... gitu ya, Ah.. ha.. ha.. ha" Amanda agak tertawa kecil dan keheranan dengan sikap Vian yang tidur seperti bayi besar.
Sesampainya di AR Group...
"Pak, berhentinya disini ya, agar ngga ada yang lihat kalau kita berangkat bareng, aku sama Pak Vandro juga gitu kalau berangkat sama pulang" kata Amanda.
"Tentu Non" kata Supirnya.
Tap! Tap! Amanda berjalan menuju pintu utama kantor, Amanda memang suka berangkat pagi, Vandro hari ini ada shift siang jadi berangkat siang, akhirnya Amanda berangkat bersama Vian.
"Pagi Kak Riri" kata Amanda.
"Pagi! wah, kamu tambah cerah ya" kata Riri.
"Haha, masa sih kak? aku gini terus kali setiap hari" kata Amanda.
"Ih! bener tahu, buktinya anggota OB banyak banget ngelirik kamu, pakai make up apa? bagi dong!" kata Riri meledek.
"Aku ngga pakai make up apa-apa kok kak, bibirku emang dasarnya udah merah, kalau make up cuman pakai bedak tipis aja, itupun bedak bayi udah" kata Amanda.
"Ih! masa sih? kamu emang the best! ku coba deh!" kata Riri.
"Hehe, syukron silahkan kak" kata Amanda.
"Aku sekarang menjadi mata-mata Palsu, dan aku begini demi untuk melindungi rahasia Presdir, tentu saja aku berpihak padanya... " batin Amanda.
KRIING! KRIING!
"Ng? udah nelpon? secepat itu?" gumam Amanda dengan pelan.
Amanda menatap Ponsel itu.
TIT!
"Assalamu'alaikum, ada apa?"