
"Jadi? kita akan melakukan kerusuhan?" tanya Roy sambil menyalakan rokoknya.
"Begitulah, dan siapa saja yang kau bawa kak? jangan bilang orang gak guna?" tanya Rey.
CTAK! Bunyi suara pompa pistol di sebelah kepala Rey.
"Jangan meremehkan kami!" kata Peter.
"Sudahlah! bicaralah baik-baik dulu" kata Rey.
"Peter, turunkan senjata mu" kata Roy.
"Cih!" Peter kesal dengan tingkah Rey.
"Oh ya! Nera, bagaimana ya?" tanya Rey.
SWING! Roy menembak kaca menggunakan pistol dengan peredam suara, tepat di belakang Rey.
*Kaget!* Peter yang ada di situ kaget setengah mati.
"Berhati-hati dalam menyebut nama Wanita itu, Nera...." Roy membuat wajah yang sangat mengerikan dengan senyum menyeringai.
PTAK! Roy mematahkan Pistolnya dengan satu tangan, dengan tangan kiri.
"Sekarang, jalankan rencana kita" kata Roy menatap saudara kembarnya
Hari Minggu pagi di Rosement....
06.00
"Lagi ngapain dia? lagi mager atau ngapain? hm...." batin Vian.
Vian sedang ke dapur tapi melihat Amanda dengan reaksi yang capek dan menyeramkan dia buntutin dari bawah meja deh.
"Aura ini!!? jangan bilang... " batin Amanda yang tersentak dan matanya langsung berwarna hijau.
"Ng.... dia masih ada ngga ya?" tanya Vian pelan sambil mengintip dari meja.
"Kau membuntuti ku ya?" tanya Amanda dengan tampang menyeramkan.
"Waak!!" Vian kaget.
"Kaget! kaget aku! kenapa ngagetin!? usil ya?" tanya Vian.
"Yang usil duluan siapa? yang membuntuti duluan siapa? yang ngikutin aku ke sini duluan siapa?" tanya Amanda.
"I.. itu... sudahlah!" ujar Vian tidak bisa berkutik.
"Terserah, kalau mau ngomong buru aku mau pergi" kata Amanda.
"Kemana? ikut! aku mau ngomong" tanya Vian.
"Ikut? aku mau ke kamar mandi! kok ikut? dasar! mesum!" kata Amanda.
Setelah dari kamar mandi, lanjut ke dapur....
"Jadi? mau bicarakan apa?" tanya Amanda.
"Anu... begini, aku kan lihat kayaknya kamu itu kurang hiburan, lesu, lemas, dan di tiket ini tertulis untuk 2 orang, besok sore gimana?" tanya Vian.
Amanda hanya terdiam...
"Akan aku pertimbangkan" kata Amanda langsung pergi ke kamarnya.
Malam harinya....
02.00...
BRRM!!! BRRM!!! Suara puluhan motor-motor masuk kedalam Rosement.
Toni membuka helmnya.
"Tutup gerbang! juga buat perimeter di luar terowongan, maupun di gerbang agar tidak ada saksi mata!" kata Rahmat sambil mengarahkan kepada staf Apartemen.
"Toni!! apa-apaan ini!!?" Seru Rahmat.
"Hahaha! ini buatku Mat!" ujar Nera sambil mendatangi Toni.
"Ada apaan ini!? apa maksudnya ini Nak Nera?" tanya Pak Andi.
"Yah, begitulah Pak Andi, akan ada perang" kata Nera.
"Begitu ya?" kata Pak Andi.
"Ya, dan dia ikut-ikutan" kata Nera.
"Kak Nera!!" panggil Amanda.
"Ng?"
"Amanda! apa yang kau lakukan!? kau tidak seharusnya ada disini!" ujar Rahmat.
"Aku ingin mengatakan sesuatu ke Kak Ne.... Eh!!?" tanya Amanda melihat sekelompok geng cakar naga di depan Apartemen.
"Kak... Kak Nera!! jangan! itu geng cakar naga! jangan di lawan Kak! bahaya!" Seru Amanda panik.
"Sudahlah, jangan begitu, dan jangan takut ok?" kata Nera.
"Eh? memangnya kenapa?" tanya Amanda.
"Karena ada alasannya, alasannya aku ngga takut karena mereka ngga akan berani macam-macam ke aku, jadi kamu ngga akan dalam bahaya mengerti?" kata Nera sambil tersenyum.
"Eh!? maksudnya apa kak?" tanya Amanda.
"Karena aku lah pemimpin mereka, ketua geng cakar naga!" kata Nera.