The Unifying Butterfly

The Unifying Butterfly
Season 2 Chapter 78 : Tawaran



Di Rosement....


Kamar No. 2....


"Ha... Hachi!!!" Vandro bersin dan demam karena semalam tidak tidur.


"Makanya! siapa suruh keluar malam-malam!? kemana coba!?" Tanya Vanora agak marah.


"Ngga kemana... Hachi!!!"


"Hiii!!! jorok! pakai tisu! ntar nular! oncong!" Kata Vanora sambil menyodorkan tisu.


"Maaf"


"Aku ngga bisa kasih tahu kalau semalem aku lagi bicara sama Rafa, apakah aku perlu memberi tahu Andra akan hal itu? bagaimana? aku ngga tahu lagi.... " batin Vandro yang mukanya merah karena demam.


Di AR Group....


Sudah berlangsung sehari aku ngga masuk kerja karena sakit, untung kakiku ngga apa-apa, hanya keseleo juga terkilir berat.


Aku juga masuk kantor karena pikir Kak Rafa akan datang atau kenapa, sehabis mendengar kabarnya yang marah.


"Bagaimana kabarnya Neng Amanda!? masih sakit atau kenapa kah!?"


Oh ya! ngga sedikit juga karyawan laki-laki dan OB menanyakan keadaan ku kenapa ngga masuk sehari, ya ku jawab aja : "Saya sehabis demam", gitu aja.


Tapi mereka berhasil pergi karena diamuk kak Riri.


"Oh, jadi cuman demam toh" kata Riri.


"Yaelah! masa master karate gitu sih?" tanya Ali.


Di Kantor, senior yang paling dekat denganku hanyalah Kak Riri dan Kak Ali.


Sekarang tinggal memikirkan kejadian apa lagi yang akan datang?


Amanda tengah berpikir sendiri.


Amanda batin : memikirkan deal dengan Kak Rafa?


Amanda Sadar : PLAK! bukan saatnya mikirin itu!


Amanda batin : terus apaan!!?


Amanda sadar : Ya Apaan kek!? di Rosement nanti ada acara atau apa!?


Amanda batin : Mana ada!! Eh!?... bentar! ya! ada! makasih!


Amanda Sadar : kau berhutang padaku bos.


Kondisi Rosement malam hari...


Di dapur....


Amanda dan Vian sedang berdua di dapur, Rahmat sedang membersihkan Rooftop dan HRM dengan pada Staf, kak Nera lagi nonton Movie dengan Kak Toni juga Pak Randi, Kak Vanora lagi ngurus Pak Vandro, Kak Sembilan lagi pergi, sedangkan Pak Andi sedang bermain dengan kucingnya di saung.


"Nih, coklat panasnya" kata Amanda menyodorkan coklat panas ke Vian.


"Makasih" kata Vian.


"Gawat, aku terlalu nyaman, lupa kalau harus berakting, tapi... di dapur berdua gini... jadi kayak Pasutri, Apaan sih Lan!? maaf ya Amanda, aing akan akting... " batin Vian.


"Hah!? masa sih Panas!?" tanya Amanda.


"Makanya! kalau masak pakai panci itu diawasin!" kata Vian.


"Ng? aku pakai mesin pembuat kopi tuh, dan sudah ku atur suhunya mencapai 45°, apa yang salah?" tanya Amanda.


"Apa lagi yang harus aku jawab!!? berpikir... " batin Vian.


"Sudahlah! aku lagi pusing!" kata Vian.


"Maaf ya Vian" kata Amanda.


"Hm!" kata Vian acuh tak acuh.


"Oh ya! jadi gimana soal Kak Rafa dan Ponselnya?" tanya Amanda.


"Huh! aku sedang mikir! jangan bikin stres!" kata Vian yang benar-benar... bukan akting sekarang, karena kalau soal kerjaan dia itu selalu pusing.


Amanda melihatnya lalu mengambil sesuatu dari kantongnya.


Vian mengira dia di perhatikan, dia itu tipe yang ngga suka di perhatikan saat sedang kerja.


"Apaan sih!!? jangan ganggu bisa ngga!?" Seru Vian.


"Ini aku kasih ke kamu!" kata Amanda sambil tersenyum menyodorkan sesuatu ke Vian.


"Eh? HAH!? I... itu!! kupon Restoran itu!!! kok kau bisa dapet!? aku aja ngga menang undian!! ada sesuatu yang aku incar di hari anniversary nya!!!" Seru Vian kaget.


"Hihihi, suka rupanya ya? ini aku kasih ke kamu karena udah bantuin aku, juga karena kamu mau bantuin masalah Kak Rafa dan aku, soal utak-atik Ponsel ku juga makasih, ini maksimal 2 orang, kamu bisa pergi dengan salah satu anggota Apartemen, ma... makasih! aku ke kamar dulu!" kata Amanda.


Vian terdiam menatap sedikit kupon itu lalu beralih menatap kepergian Amanda yang berlari ke kamar.


Di Rooftop....


"Eh? kak Toni!" kata Amanda.


"Ya? apa?" tanya Toni muka nyebelinnya.


"Kak Toni ngga keluar kayak biasanya?" tanya Amanda.


"Emangnya kenapa?" tanya Toni.


"Kak Toni ngga kerja? kerjaannya apa?" tanya Amanda.


"Ngga usah!! lagi pula kalau kau tahu, aku ngga akan bisa melindungi mu" kata Toni muka kesal langsung pergi.


"Kenapa sih Kak Toni? " batin Amanda.


Sementara itu di pinggiran kota Helvetia....


Gedung Kosong....


"Ng? Wah! selamat datang! jadi bagaimana! kita mulai saja sekarang? Roy?" tanya Rey.


"Heh, sepertinya kita memang memiliki jalan yang sama ya? Adik" kata Roy sambil senyum menyeringai.


"Kita mulai rencana kita"